Menu

Mode Gelap

Opini · 13 Jul 2026 13:35 WIB ·

Menyingkap Sisi Gelap Korupsi Domestik yang Menggerogoti Pernikahan dari Dalam

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Menyingkap Sisi Gelap Korupsi Domestik yang Menggerogoti Pernikahan dari Dalam Perbesar

Ketika mendengar kata “korupsi,” pikiran kita secara otomatis akan melayang pada ruang-ruang sidang yang dingin, tumpukan uang suap, atau penyalahgunaan kekuasaan di ranah publik. Kita terbiasa melihat korupsi sebagai musuh makro yang merusak tatanan bangsa. Namun, jarang ada yang berani menengok ke dalam institusi paling sakral dan privat, yaitu pernikahan. Di balik pintu rumah yang tertutup rapat, terdapat sebuah fenomena sunyi yang kerap diabaikan, namun memiliki daya hancur yang sama dahsyatnya dengan korupsi politik. Inilah korupsi domestik, sebuah tindakan manipulasi, ketidakjujuran, dan penyalahgunaan “kekuasaan” emosional maupun finansial yang secara perlahan mengikis fondasi kepercayaan antarpasangan. Jika korupsi negara merugikan rakyat, maka korupsi dalam pernikahan merampok kebahagiaan dan masa depan dua jiwa yang awalnya berjanji untuk saling setia.

Bentuk korupsi yang paling jamak namun sering dimaklumi dalam pernikahan adalah korupsi finansial. Kita tidak sedang berbicara tentang pemenuhan kebutuhan pokok yang kurang, melainkan tentang financial infidelity atau ketidaksetiaan finansial. Tindakan menyembunyikan aset secara sengaja, memanipulasi laporan pengeluaran rumah tangga, memiliki utang rahasia, hingga mengalokasikan dana bersama untuk kepentingan egois tanpa konsensus bersama adalah bentuk nyata dari penggelapan dana domestik. Banyak pasangan yang terjebak dalam ilusi bahwa “uangku adalah uangku, dan uangmu adalah uang kita” tanpa adanya transparansi yang sehat. Ketika salah satu pihak mulai bertindak sebagai “bendahara yang korup”, seperti mengambil keuntungan sepihak dari keringat pasangan atau memotong hak anggaran keluarga demi kepuasan pribadi, saat itulah anggaran emosional pernikahan mulai mengalami defisit yang fatal.

Namun, korupsi dalam pernikahan tidak melulu soal angka di rekening bank; ia sering kali bermanifestasi dalam bentuk yang lebih halus, yaitu korupsi emosional. Dalam kontrak sosial pernikahan, kedua belah pihak sepakat untuk menginvestasikan waktu, perhatian, kasih sayang, dan kehadiran yang utuh. Korupsi emosional terjadi ketika salah satu pasangan secara sadar “mengurangi timbangan” komitmen tersebut. Mereka hadir secara fisik, namun absen secara mental karena perhatiannya terkuras habis oleh gawai, pekerjaan, atau lingkaran sosial di luar. Bentuk korupsi ini juga mencakup tindakan manipulasi psikologis (gaslighting), di mana salah satu pihak mendominasi narasi kebenaran dalam rumah tangga, memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan ego sendiri, dan membuat pasangannya merasa bersalah atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Ini adalah penyalahgunaan kekuasaan relasional yang sangat merusak kewarasan pasangan.

Mengapa korupsi domestik ini bisa tumbuh subur dan begitu sulit dideteksi? Akar masalahnya sering kali terletak pada hilangnya sistem checks and balances (pengawasan dan keseimbangan) dalam hubungan. Berbeda dengan korupsi di pemerintahan yang memiliki lembaga pengawas, dalam pernikahan, pengawas tertingginya adalah nurani dan keterbukaan masing-masing individu. Ketika komunikasi mulai tersumbat oleh rasa sungkan, ketakutan akan konflik, atau dominasi patriarki maupun matriarki yang tidak sehat, ruang gelap bagi pemakluman kesalahan pun tercipta. Pasangan yang menjadi korban sering kali memilih untuk diam, menormalisasi perilaku manipulatif demi menjaga stabilitas semu atau karena malu dengan stigma sosial. Keheningan inilah yang menjadi “pupuk terbaik” bagi suburnya korupsi di dalam rumah tangga.

Dampak dari pembiaran korupsi ini adalah kebangkrutan emosional yang mutlak. Pernikahan yang digerogoti oleh ketidakjujuran menahun tidak akan langsung runtuh dalam semalam, melainkan membusuk secara perlahan dari dalam. Kepercayaan, yang merupakan mata uang tertinggi dalam sebuah hubungan, kehilangan nilainya sama sekali. Ketika kepercayaan itu runtuh, yang tersisa hanyalah sebuah cangkang institusi tanpa jiwa, dua orang yang tinggal di bawah atap yang sama namun hidup sebagai orang asing yang saling curiga. Pada titik ini, perceraian sering kali bukan lagi sebuah pilihan impulsif, melainkan sebuah deklarasi kebangkrutan atas hubungan yang sudah lama tidak sehat dan tidak lagi mendatangkan kedamaian.

Untuk memutus rantai korupsi domestik ini, diperlukan sebuah audit total terhadap komitmen pernikahan secara berkala. Pasangan harus memiliki keberanian untuk duduk bersama, menanggalkan ego, dan membuka kembali “buku laporan” hubungan mereka, baik dari segi finansial maupun emosional. Transparansi radikal bukanlah bentuk pengekangan kebebasan, melainkan wujud tertinggi dari rasa hormat dan perlindungan terhadap pasangan. Mengakui adanya ketimpangan dan bersedia memperbaiki pembagian peran serta hak secara adil adalah langkah awal penyembuhan. Bagaimanapun, sebuah pernikahan yang hebat tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, melainkan oleh dua orang yang menolak untuk saling mencurangi, sekecil apa pun celah yang ada.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 12 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Baca Lainnya

Siri dalam Keramaian: Ketika Jalan Pintas Menjadi Pilihan

12 Juli 2026 - 14:25 WIB

Menulis sebagai Jalan Uzlah dan Dakwah

10 Juli 2026 - 07:08 WIB

Sesibuk Apa pun, Jangan Lupakan Sang Khalik

8 Juli 2026 - 16:07 WIB

TUNA WICARA

8 Juli 2026 - 11:06 WIB

Menolak Normalisasi Penyimpangan LGBT dalam Pandangan Syariat Pernikahan Islam

7 Juli 2026 - 09:35 WIB

KELUARGA HARMONIS (Mengalah Demi Kebaikan)

6 Juli 2026 - 22:17 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x