Menu

Mode Gelap

Opini · 15 Jun 2026 06:29 WIB ·

Memaknai Makna Hijrah di Era Digital

Penulis: Mahbub Fauzie


 Memaknai Makna Hijrah di Era Digital Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah

Kita hidup di zaman yang bergerak sangat cepat. Informasi hadir dalam hitungan detik. Berbagai kemudahan teknologi membuat banyak pekerjaan menjadi lebih praktis dan efisien. Dunia seakan berada dalam genggaman. Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, terdapat tantangan yang tidak ringan, terutama dalam menjaga keimanan, moralitas, dan ketahanan keluarga.

Era digital telah membuka akses tanpa batas terhadap berbagai informasi. Di satu sisi, perkembangan ini memberikan manfaat besar bagi pendidikan, dakwah, dan pengembangan diri. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga membawa berbagai pengaruh negatif, mulai dari penyebaran hoaks, konten yang merusak moral, gaya hidup konsumtif, hingga lunturnya nilai-nilai agama dan budaya.

Dalam konteks inilah makna hijrah perlu dipahami secara lebih luas. Hijrah bukan hanya peristiwa sejarah perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga sebuah proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Hijrah adalah perpindahan dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemaksiatan menuju ketaatan.

Di era digital, hijrah dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Hijrah berarti mampu mengendalikan diri dari pengaruh negatif media sosial, menjaga lisan dan jari dari ujaran kebencian, serta memanfaatkan teknologi untuk menambah ilmu, memperkuat silaturahmi, dan menyebarkan kebaikan.

Penguatan iman dan Islam menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan arah dan tujuan hidup. Justru di tengah derasnya perubahan zaman, fondasi akidah harus semakin kokoh, ibadah harus semakin terjaga, dan akhlak harus semakin mulia.

Keluarga menjadi benteng pertama dan utama dalam menghadapi tantangan tersebut. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak-anaknya, tetapi juga harus hadir sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan. Rumah harus menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai keimanan, kasih sayang, disiplin, dan tanggung jawab.

Di sekolah, guru memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan intelektual, tetapi juga membangun kekuatan moral dan spiritual peserta didik. Guru yang memberikan keteladanan akan meninggalkan pengaruh yang jauh lebih kuat daripada sekadar nasihat.

Di tengah masyarakat, para tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat juga memegang peranan penting. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi penyejuk, pemersatu, sekaligus sumber inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai perubahan sosial yang terjadi.

Sementara itu, para pemimpin di berbagai tingkatan pemerintahan dituntut untuk memberikan contoh yang baik dalam integritas, kejujuran, dan pelayanan kepada masyarakat. Keteladanan pemimpin akan menjadi cerminan yang memengaruhi budaya dan perilaku masyarakat secara luas.

Karena itu, membangun generasi yang kuat di era digital bukan hanya tugas satu pihak. Orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh masyarakat di lingkungan sosial, dan para pemimpin dalam pemerintahan harus berjalan seiring. Semua memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keteladanan yang baik dalam akidah, ibadah, dan akhlak.

Hijrah di era digital bukan sekadar perubahan penampilan atau mengikuti tren sesaat. Hijrah adalah komitmen untuk terus memperbaiki diri, memperkuat akidah, meningkatkan kualitas ibadah, serta menampilkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Tahun Baru Islam hendaknya menjadi momentum refleksi bagi kita semua. Sudah sejauh mana perjalanan hijrah yang kita lakukan? Sudahkah teknologi mendekatkan kita kepada Allah SWT atau justru menjauhkan kita? Sudahkah keluarga menjadi tempat lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia?

Mari menjadikan semangat hijrah sebagai gerakan bersama. Dengan iman sebagai fondasi, ilmu sebagai bekal, dan akhlak sebagai pedoman, kita dapat menghadapi derasnya arus perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai umat Islam.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Semoga hijrah kita bukan sekadar pergantian kalender, tetapi menjadi langkah nyata menuju pribadi yang lebih baik, keluarga yang lebih kokoh, dan masyarakat yang lebih bermartabat.

Paya Dedep, Bakda Subuh (15/6/2026)

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 10 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Duda Janda Menikah Lagi, Pastikan Tidak Ada Lagi Urusan Yang Masih Tersangkut

14 Juni 2026 - 13:10 WIB

Pemeriksaan Nikah: Lebih dari Sekadar Verifikasi Berkas

14 Juni 2026 - 10:54 WIB

Menanam Kopi, Menanam Harapan

13 Juni 2026 - 06:26 WIB

Merawat Keberkahan dalam Rumah Tangga

12 Juni 2026 - 11:05 WIB

Mengapa Cara Kita “Bicara” Lebih Penting daripada Apa yang Kita “Katakan” dalam Hubungan Pernikahan

12 Juni 2026 - 10:18 WIB

Dakwah di Era Digital: Jangan Minder Menebar Kebaikan

11 Juni 2026 - 17:47 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x