KELUARGA HARMONIS
(Mengalah Demi Kebaikan)
OLEH: SYAFRAN LUBIS
Membangun keluarga harmonis merupakan dambaan setiap pasangan yang memutuskan untuk membina rumah tangga. Dalam perjalanan hidup bersama, diperlukan pemahaman, komunikasi yang baik, serta kesediaan untuk saling mendukung. Ada beberapa tips membangun keluarga harmonis yang dapat membantu menciptakan suasana yang langgeng dan bahagia seumur hidup. Salah satunya adalah:
Mengalah Demi Kebaikan
Tidak selamanya pihak yang kalah merupakan pihak yang pengecut. Mengalah demi kebaikan yang lebih besar sangat perlu untuk dilakukan dalam hubungan berumah tangga. kehidupan rumah tangga dalam islam mengajarkan kita untuk ada rasa saling mengalah di antara anggota keluarga. Jika memaksakan kehendak diri sendiri justru bisa merusak hubungan dengan pasangan, maka mengalah bisa menjadi cara mengahadapi masalah keluarga untuk membantu hubungan dengan pasangan tetap langgeng sehingga keluarga akan menjadi bahagia. Mengalah bukan berarti kalah, melainkan menunda saat kemenangan. Untuk apa menang namun dengan cara yang tak sportif. Untuk apa menang tetapi dengan memaksakan diri di luar kemampuan dan modal, yang akhirnya menyisakan beban bagi diri dan keluarga. Untuk apa menang, tetapi dengan dukungan jasa orang lain yang akhirnya menjadi tanggungan yang tidak ringan setelahnya. Berarti dengan mengalah bisa melakukan konsolidasi dan memantapkan diri hingga saatnya yang tepat untuk meraih prestasi.
Mengalah untuk menang adalah filosofi bijak yang berarti menurunkan ego, bersabar, atau mundur sejenak (mengalah) demi tujuan yang lebih besar, kedamaian, atau hasil akhir yang lebih baik (menang). Ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan untuk memilih pertempuran yang penting dan menghindari konflik yang tidak produktif. Mengalah berarti mengalahkan diri sendiri (egoisme/amarah) sebelum mengalahkan orang lain. Ini adalah tanda kedewasaan, terutama dalam perdebatan yang tidak penting apalagi dengan pasangan. Dalam hubungan keluarga mengalah menjaga kedamaian dan mencegah keretakan akibat keras kepala. Mundur satu langkah (mengalah) untuk melesat lebih jauh di kemudian hari. Ini mengajarkan kesabaran dan manajemen risiko. Dalam konteks spiritual, mengalah (bersabar/memaafkan) adalah bentuk ketaatan yang mendatangkan kemuliaan dan pahala, bukan sekadar kemenangan lahiriah. Mengalah adalah tindakan strategis untuk meraih kemenangan sejati kedamaian batin dan keharmonisan daripada menang dalam perdebatan namun merusak hubungan atau situasi.
Kata mengalah untuk menang bukan solusi yang sebenarnya dari sebuah perselisihan. Hanya jangan berhenti di sini lalu merasa sudah menang. Justru belum ada kemenangan apa pun yang bisa diklaim, jika standarnya adalah penyelesaian masalah hingga tuntas. Sebab, dalam banyak kasus, ketika salah satu pihak menarik diri dari perselisihan atas kata “mengalah untuk menang”, justru yang selanjutnya yang terjadi adalah “perang dingin”, pertukaran sindiran, pengaturan strategi baru untuk menyerang lawan, dsb. Tidak ada penyelesaian. Masalahnya justru makin banyak mengendap dan menumpuk. Ibarat bom waktu, ia hanya menanti saatnya untuk meledak kembali dengan dentuman dan akibat yang jauh lebih besar.
Tetapi harus ada tindak lanjutnya, dan tindak lanjut itulah yang justru merupakan obatnya. Setelah suasana kondusif, pihak pihak yang berselisih, butuh dimoderasi, perlu membicarakan persoalan tersebut dan menyelesaikannya hingga tuntas. Jika tidak, maka akan menjadi seperti yang tersebut di atas , hanya akan jadi bom waktu. dan bukan obat bagi luka itu sendiri. Atau setelah menarik diri kita benar benar mengatupkan mulut dan berhenti sama sekali menggunjingkan perselisihan itu. Jika ini yang kita lakukan, kita akan menjadi orang hebat sebab tidak banyak orang yang bisa bersikap demikian. khususnya bila perselisihan itu menyangkut “harga diri” dan “identitas”. Ada tiga pilihan dalam kata mengalah untuk menang ini, petrtama menarik diri lalu mengomel, mengadakan pergunjingan berjamaah, mengatur strategi yang jauh lebih licik untuk menjatuhkan lawan. Kedua, menarik diri, menanti suasana kondusif, lalu mengadakan pendekatan rekonsiliasif, atau yang ketiga, menarik diri lalu mengatupkan mulut sama sekali kemudian tidak mengungkit ngungkit isu tersebut kembali. Jika kita memiliki opsi lain yang jauh lebih baik, silahakan diterapkan. Demikianlah beberapa hal yang bisa menjadi renungan bagi kita, bagaimana bisa membangun etika dalam kebersamaan. Kita meyakini bahwa mengalah merupakan salah satu wujud kerendahan diri kita dalam berumah tangga. Mengalah demi kebaikan sesuatu yang terpuji. Dengan mengalah, kita dapat membangun suatu keluarga yang harmoni dan saling respek. Hidup insya Allah relatif damai dan tidak mudah berpotensi konflik. (Wallohu ‘Alam)








