Menu

Mode Gelap

Opini · 14 Agu 2025 13:51 WIB ·

Stereotip “Perempuan Selalu Benar” vs Musyawarah Pasangan dalam Pernikahan

Penulis: Ahmad Angka


 Stereotip “Perempuan Selalu Benar” vs Musyawarah Pasangan dalam Pernikahan Perbesar

Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita yang disahkan oleh hukum agama dan negara, dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia, harmonis, dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar kesepakatan untuk hidup bersama, melainkan sebuah perjanjian suci yang sarat makna spiritual. Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah mitsāqan ghalīẓā, sebuah perjanjian yang kokoh, kuat, dan mengikat kedua pihak secara lahir maupun batin. Ikatan ini tidak hanya melibatkan janji di hadapan keluarga dan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT, sehingga setiap langkah dalam pernikahan sejatinya adalah bagian dari ibadah.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 21:

وَكَيْفَ تَأْخُذُوْنَهٗ وَقَدْ اَفْضٰى بَعْضُكُمْ اِلٰى بَعْضٍ وَّاَخَذْنَ مِنْكُمْ مِّيْثَاقًا غَلِيْظًا ۝٢١

Terjemahnya:
Bagaimana kamu akan mengambilnya (kembali), padahal kamu telah menggauli satu sama lain (sebagai suami istri) dan mereka pun (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) denganmu?

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbahmenekankan bahwa penggunaan istilah mitsāqan ghalīẓā dalam Al-Qur’an sangat terbatas, bahkan hanya tiga kali, salah satunya untuk perjanjian agung antara Allah dan para nabi. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan pernikahan. Menyebut pernikahan dengan istilah ini berarti menempatkannya pada level tertinggi tanggung jawab moral dan spiritual. Karenanya, segala hal yang menyangkut pernikahan tidak bisa diperlakukan main-main atau hanya sekadar mengikuti tren dan candaan yang sedang populer.

Sayangnya, di era digital sekarang, candaan dan istilah populer di media sosial kadang terbawa ke dalam rumah tangga tanpa disaring. Salah satunya adalah ungkapan “perempuan selalu benar.” Awalnya, ini hanyalah bentuk humor ringan untuk mencairkan suasana. Namun, ketika dijadikan “aturan” dalam berinteraksi, apalagi dalam rumah tangga muda yang masih mencari ritme komunikasi, kalimat ini bisa menjadi penghalang terjadinya dialog yang sehat. Masalah yang seharusnya dibicarakan secara terbuka malah dihindari karena salah satu pihak merasa tidak akan didengar.

Previous Post Rakornas APRI 2025
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 159 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Bahagiakan Aku, Karena Aku adalah Wanita yang Kamu Minta dari Orang Tuaku

11 Desember 2025 - 08:51 WIB

Mengenal Sejarah Peradaban Islam : Dari Klasik hingga Modern

10 Desember 2025 - 10:05 WIB

UIN RADEN FATAH PALEMBANG

SEJARAH PERADABAN ISLAM

10 Desember 2025 - 09:51 WIB

UIN RADEN FATAH PALEMBANG

Larangan Nikah Mut’ah

9 Desember 2025 - 14:58 WIB

Ekoteologi dan Tanggung Jawab Kita Menjaga Bumi

8 Desember 2025 - 17:04 WIB

Hukum Pernikahan Ketika Mempelai Wanita Tidak Disandingkan Saat Ijab Kabul dan Kaitannya dengan Ittihadul Majlis

7 Desember 2025 - 12:10 WIB

Trending di Pernikahan
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x