Menu

Mode Gelap

Opini · 14 Jul 2026 19:34 WIB ·

Ketika Penghulu dan Penyuluh Agama Harus Membangun Personal Branding

Penulis: Mahbub Fauzie


 Ketika Penghulu dan Penyuluh Agama Harus Membangun Personal Branding Perbesar

Catatan: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kec  Atu Lintang, Kab. Aceh Tengah; Sekretaris II PW APRI Aceh. Mantan Penyuluh Agama Islam Fungsional (2005–2013) dan Mantan Ketua Kelompok Kerja Penyuluh Agama (Pokjaluh) Kabupaten Aceh Tengah.

PERKRMBANGAN teknologi informasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berkomunikasi, dan membangun kepercayaan. Jika dahulu kepercayaan dibangun melalui pertemuan langsung, kini masyarakat juga mengenal seseorang melalui jejak digitalnya. Apa yang ditulis, dibagikan, dan ditampilkan di ruang digital ikut membentuk persepsi publik.

Perubahan ini juga menyentuh dunia pelayanan keagamaan. Penghulu dan penyuluh agama tidak lagi hanya dikenal melalui aktivitas di Kantor Urusan Agama (KUA), masjid, atau majelis taklim. Mereka juga hadir di ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, membangun personal branding menjadi sebuah kebutuhan.

Masih ada anggapan bahwa personal branding identik dengan pencitraan atau upaya mencari popularitas. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Personal branding sejatinya adalah proses membangun persepsi publik berdasarkan kompetensi, integritas, nilai-nilai, dan karakter yang dimiliki seseorang.

Dengan kata lain, personal branding bukan tentang terlihat hebat, melainkan tentang menjadi pribadi yang dikenal karena kapasitas, profesionalisme, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

Bagi penghulu dan penyuluh agama, personal branding memiliki makna yang lebih luas. Keduanya merupakan representasi Kementerian Agama yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sikap, tutur kata, cara melayani, hingga jejak digital yang mereka tinggalkan akan membentuk citra, bukan hanya terhadap individu, tetapi juga terhadap institusi.

Seorang penghulu tidak hanya bertugas memeriksa persyaratan nikah, mengawasi dan mencatat peristiwa nikah dan rujuk, serta memberikan nasihat perkawinan. Ia juga menjadi tempat masyarakat berkonsultasi tentang hukum keluarga Islam, memediasi persoalan rumah tangga, membimbing calon pengantin, dan membina keluarga sakinah.

Demikian pula penyuluh agama. Ia hadir sebagai pendidik, pembimbing, komunikator, motivator, dan agen perubahan melalui berbagai kelompok binaan, mulai dari majelis taklim, remaja masjid, keluarga binaan, hingga komunitas masyarakat.

Dalam menjalankan tugas tersebut, kompetensi saja tidak cukup. Masyarakat membutuhkan figur yang mudah diakses, komunikatif, responsif, berintegritas, dan mampu memberikan solusi. Kepercayaan publik lahir dari pengalaman nyata masyarakat saat berinteraksi dengan penghulu dan penyuluh agama.

Di sinilah personal branding menemukan relevansinya. Penghulu yang dikenal profesional dalam pelayanan nikah dan pembinaan keluarga akan menjadi rujukan masyarakat ketika menghadapi persoalan rumah tangga.

Penyuluh agama yang aktif memberikan edukasi dan pendampingan akan lebih mudah diterima oleh kelompok binaannya. Reputasi semacam ini tidak dibangun melalui promosi diri, melainkan melalui konsistensi dalam bekerja, melayani, dan memberi manfaat.

Era digital memberikan peluang besar untuk membangun reputasi tersebut. Media sosial, website, podcast, video pendek, maupun artikel opini dapat menjadi sarana dakwah sekaligus media edukasi publik.

Penghulu dapat berbagi informasi mengenai hukum perkawinan, layanan KUA, bimbingan perkawinan, pencegahan perkawinan anak, hingga penguatan keluarga sakinah.

Penyuluh agama dapat menyampaikan materi moderasi beragama, literasi digital, pendidikan keluarga, penguatan akhlak, serta berbagai isu sosial-keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Kemampuan menulis juga menjadi bagian penting dari personal branding. Artikel opini, tulisan ilmiah populer, maupun konten edukatif di media sosial bukan sekadar menunjukkan kapasitas intelektual, tetapi juga menjadi bentuk dakwah yang mampu menjangkau masyarakat lebih luas.

Sebuah tulisan yang baik dapat melintasi batas ruang dan waktu, menginspirasi banyak orang, bahkan tetap memberikan manfaat bertahun-tahun setelah dipublikasikan.

Namun demikian, personal branding bagi aparatur sipil negara harus dibangun di atas fondasi etika dan nilai-nilai ASN BerAKHLAK. Yang ditampilkan bukan kemewahan pribadi, melainkan kualitas pelayanan. Yang dipromosikan bukan diri sendiri, melainkan manfaat program, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.

Karena itu, personal branding harus selalu berjalan beriringan dengan kompetensi, integritas, akuntabilitas, loyalitas, adaptivitas, dan semangat kolaborasi.

Allah Swt. berfirman: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'” (QS. At-Taubah: 105).

Ayat ini menegaskan bahwa kualitas seseorang diukur dari amal dan kinerjanya. Reputasi yang baik merupakan buah dari kerja nyata, bukan hasil rekayasa pencitraan.

Rasulullah SAW memberikan teladan terbaik tentang bagaimana membangun reputasi. Jauh sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal dengan gelar Al-Amin, orang yang dapat dipercaya. Gelar tersebut lahir bukan karena promosi, melainkan karena kejujuran, amanah, konsistensi, dan akhlak mulia yang beliau tunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah hakikat personal branding yang sesungguhnya.

Transformasi KUA sebagai pusat layanan keagamaan menuntut hadirnya penghulu dan penyuluh agama yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Mereka harus mampu menguasai substansi keilmuan sekaligus teknologi informasi tanpa kehilangan jati diri sebagai pembimbing umat. Kehadiran mereka harus dirasakan, baik di ruang pelayanan maupun di ruang digital.

Membangun personal branding bagi penghulu dan penyuluh agama bukanlah untuk mencari popularitas, bukan pula untuk riya, pamer, atau mengejar validasi dari manusia. Personal branding adalah ikhtiar profesional untuk membangun kepercayaan publik, memperluas jangkauan dakwah, menguatkan pelayanan, dan menghadirkan kemanfaatan yang lebih luas bagi umat.

Ketika niat dijaga karena Allah Swt., maka setiap pelayanan, tulisan, ceramah, bimbingan, maupun jejak digital yang ditinggalkan akan bernilai ibadah. Personal branding pun tidak lagi dipahami sebagai pencitraan, melainkan sebagai cerminan kompetensi, integritas, akhlak, dan konsistensi dalam mengabdi.

Sebab, yang paling utama bukanlah menjadi orang yang terkenal, melainkan menjadi pribadi yang terpercaya; bukan sekadar dikenal banyak orang, tetapi benar-benar memberi manfaat dan mengharap rida Allah Swt.

Inilah esensi personal branding bagi penghulu dan penyuluh agama: menghadirkan keteladanan, membangun kepercayaan, dan memperkuat pelayanan. Ketika semua itu dilakukan dengan ikhlas, profesional, dan istiqamah, maka nama baik yang tumbuh bukanlah hasil pencitraan, melainkan buah dari pengabdian.[]

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 15 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Baca Lainnya

Menyingkap Sisi Gelap Korupsi Domestik yang Menggerogoti Pernikahan dari Dalam

13 Juli 2026 - 13:35 WIB

Siri dalam Keramaian: Ketika Jalan Pintas Menjadi Pilihan

12 Juli 2026 - 14:25 WIB

Menulis sebagai Jalan Uzlah dan Dakwah

10 Juli 2026 - 07:08 WIB

Sesibuk Apa pun, Jangan Lupakan Sang Khalik

8 Juli 2026 - 16:07 WIB

Menolak Normalisasi Penyimpangan LGBT dalam Pandangan Syariat Pernikahan Islam

7 Juli 2026 - 09:35 WIB

KELUARGA HARMONIS (Mengalah Demi Kebaikan)

6 Juli 2026 - 22:17 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x