Menu

Mode Gelap

Opini · 15 Jun 2026 09:26 WIB ·

Seni Menata Langkah bagi Pengantin Baru di Momentum Tahun Baru Hijriyah

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Seni Menata Langkah bagi Pengantin Baru di Momentum Tahun Baru Hijriyah Perbesar

Pergantian tahun selalu memiliki magisnya tersendiri. Ada aroma resolusi yang terhirup di udara, lembaran buku kosong yang siap ditulis, dan semangat membara untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Namun, bayangkan jika momentum awal yang segar (fresh start) ini datang bersamaan dengan status baru yang paling sakral dalam hidup Anda, ialah menjadi seorang suami atau istri. Bagi Anda yang baru saja sah mengucap kabul, memasuki Tahun Baru Islam bukan lagi sekadar perkara mengganti kalender di dinding atau melihat pawai obor. Ini adalah sebuah garis awal ganda. Anda tidak hanya sedang merayakan pergantian tahun, tetapi juga sedang merayakan perjalanan “hijrah” yang sesungguhnya bersama pasangan hidup, merajut rumah tangga yang baru seumur jagung dengan penuh makna.

Secara historis, Hijriyah adalah tentang perpindahan, tentang sebuah langkah berani meninggalkan zona nyaman di Makkah menuju masa depan yang penuh ketidakpastian namun visioner di Madinah. Bukankah pernikahan juga memiliki esensi yang persis sama? Ketika Anda memutuskan untuk mengikat janji suci, Anda sebenarnya sedang melakukan hijrah besar-besaran secara personal. Ada hijrah ego, di mana Anda berpindah dari fase hidup yang serba mendengarkan keinginan diri sendiri, menjadi fase di mana ada kepala lain yang harus diajak berdiskusi. Ada pula hijrah kebiasaan, mulai dari cara tidur, cara menaruh baju kotor, hingga urusan sekadar memilih menu sarapan yang kini memiliki dinamika baru. Di tahun baru Hijriyah ini, jadikan momen ini sebagai refleksi bersama. Bukan untuk menuntut pasangan berubah, melainkan untuk bertanya pada diri sendiri tentang kebiasaan egois apa dari masa lajang yang harus ditinggalkan di tahun lalu, agar pernikahan ini bisa berjalan lebih berkah ke depannya. Menilik kisah masa lalu, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, salah satu langkah strategis pertama yang beliau lakukan adalah membangun Masjid Nabawi dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Ansar. Strategi ini sebenarnya sangat aplikatif dan indah untuk ditiru oleh para pengantin baru. Di awal pernikahan, Anda dan pasangan mungkin datang dari “latar belakang budaya” atau mungkin dari keluarga yang jauh berbeda, yang satu santai, yang satu serba teratur. Anggaplah salah satu dari Anda adalah Muhajirin yang harus gigih beradaptasi dengan lingkungan baru, dan yang lain adalah Anshar yang menyambut dengan kelapangan hati yang luas. Tahun baru ini adalah waktu yang paling tepat untuk membangun “masjid” dalam rumah tangga Anda, yang berarti menetapkan nilai-nilai spiritual bersama. Mulailah membiasakan salat berjamaah secara konsisten atau sekadar mengaji bersama setelah magrib. Fondasi spiritual yang dibangun di awal tahun ini akan menjadi jangkar yang sangat kuat saat badai riak-riak kecil pernikahan datang menyapa nanti.

Jika banyak orang sibuk membuat resolusi pribadi saat tahun baru, maka bagi pengantin baru, ini adalah saatnya merumuskan “Resolusi Dua Kepala”. Duduklah bersama di ruang tengah tanpa gangguan gawai, seduh kopi atau teh hangat, dan mulailah mengobrol santai namun mendalam tentang target satu tahun ke depan. Jangan hanya membatasi obrolan soal tabungan atau rencana memiliki momongan. Cobalah menyentuh area emosional yang sering terlewat, seperti bagaimana Anda berdua akan menyelesaikan komunikasi jika sedang sama-sama lelah, seberapa sering waktu khusus untuk mengobrol mendalam (deep talk) akan disediakan, hingga bagaimana menyeimbangkan waktu antara karier dan silaturahmi ke orang tua maupun mertua. Menyelaraskan ekspektasi di awal tahun Hijriyah akan membuat langkah kaki Anda berdua menjadi jauh lebih ringan karena berjalan dalam ritme dan frekuensi yang sama.

Akhir,

Pernikahan itu bukanlah fajar yang langsung benderang secara instan, melainkan sebuah proses menyembulnya cahaya pagi secara perlahan dan konsisten. Menjadi pengantin baru di momentum Tahun Baru Hijriyah adalah sebuah privilese indah karena Anda diberikan kanvas bersih yang berlipat ganda berkahnya. Jalani hari-hari ke depan bukan dengan tuntutan untuk langsung menjadi pasangan yang sempurna, melainkan dengan komitmen kuat untuk saling bertumbuh, saling memaafkan, dan terus berjalan beriringan menuju rida-Nya. Selamat merayakan tahun yang baru dengan status yang baru, dan selamat berhijrah dalam cinta.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 8 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Memaknai Makna Hijrah di Era Digital

15 Juni 2026 - 06:29 WIB

Duda Janda Menikah Lagi, Pastikan Tidak Ada Lagi Urusan Yang Masih Tersangkut

14 Juni 2026 - 13:10 WIB

Pemeriksaan Nikah: Lebih dari Sekadar Verifikasi Berkas

14 Juni 2026 - 10:54 WIB

Menanam Kopi, Menanam Harapan

13 Juni 2026 - 06:26 WIB

Merawat Keberkahan dalam Rumah Tangga

12 Juni 2026 - 11:05 WIB

Mengapa Cara Kita “Bicara” Lebih Penting daripada Apa yang Kita “Katakan” dalam Hubungan Pernikahan

12 Juni 2026 - 10:18 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x