Menu

Mode Gelap

Opini · 19 Jun 2026 15:39 WIB ·

Jumat di Tanoh Abu: Ketika Mimbar Menjadi Jalan Pengabdian

Penulis: Mahbub Fauzie


 Jumat di Tanoh Abu: Ketika Mimbar Menjadi Jalan Pengabdian Perbesar

Catatan Reflektif Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd. Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang

Jumat, 19 Juni 2026, menjelang waktu salat Jumat, saya meninggalkan kantor menuju Kampung Tanoh Abu, Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah. Jalan beraspal yang membelah perbukitan dan pepohonan membawa saya menuju sebuah kampung yang tenang, sejuk, dan religius. Di kampung ini terdapat dua masjid yang menjadi pusat ibadah masyarakat, yakni Masjid Al-Muhajirin dan Masjid Darurrahmah.

Tujuan saya hari itu bukan untuk urusan administrasi nikah dan rujuk yang selama ini identik dengan tugas Kantor Urusan Agama (KUA). Saya datang dalam rangka menjalankan salah satu tugas penting KUA yang sering luput dari perhatian masyarakat, yaitu Penerangan Agama Islam. Sebuah tugas yang bertujuan menghadirkan bimbingan, pencerahan, dan penguatan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat.

Setibanya di Masjid Darurrahmah, saya ke tempat mengambil air wudlu dan di mesjid disambut oleh Tgk. Karno danTgk. Dino. Mereka kemudian meminta saya untuk menyampaikan khutbah Jumat. Permintaan itu tentu saya terima dengan penuh rasa syukur sekaligus amanah.

Sebelum khatib naik ke mimbar, bilal menyerahkan tongkat sambil melafalkan tarqiyyah. Setelah khatib duduk di mimbar, azan kedua dikumandangkan. Seusai azan, bilal melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebuah tradisi yang menambah kekhidmatan suasana Jumat dan memperlihatkan kekayaan budaya Islam yang hidup berdampingan dengan syariat.

Ketika berdiri di atas mimbar dengan tongkat di tangan kiri, saya membacakan rukun-rukun khutbah dan kemudian menyampaikan mauizah hasanah kepada jamaah. Dalam khutbah tersebut saya menukil firman Allah Swt.:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini mengingatkan bahwa amar makruf nahi mungkar bukan sekadar tugas ulama, khatib, atau tokoh agama, melainkan tanggung jawab bersama sesuai kemampuan masing-masing. Keluarga, masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah memiliki peran dalam menjaga nilai-nilai kebaikan agar tetap hidup di tengah kehidupan sosial.

Saya juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.:
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.”

Para sahabat bertanya:
“Siapakah yang enggan itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab:
“Barang siapa yang taat kepadaku, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah enggan (masuk surga).” (HR. Bukhari)

Hadis ini terasa sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Rasulullah SAW seolah ingin menegaskan bahwa jalan menuju surga sebenarnya telah dibuka selebar-lebarnya. Yang menjadi penghalang sering kali bukan karena pintunya tertutup, melainkan karena manusia sendiri enggan melangkah menuju pintu itu.

Ketaatan kepaa Rasulullah SAW tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Menjaga salat, menghormati orang tua, berlaku jujur, menjaga lisan, menolong sesama, dan memakmurkan masjid merupakan bagian dari wujud ketaatan tersebut.

Dalam khutbah itu saya mengajak jamaah untuk terus istiqamah dalam ketakwaan. Akidah harus diperkuat, ibadah harus dimantapkan, dan akhlak harus diperindah. Rasa syukur atas nikmat Allah tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui amal perbuatan.

Saya mengingatkan jamaah bahwa hidup ini singkat. Kesempatan beramal tidak akan datang dua kali. Selama hayat masih dikandung badan, selama kaki masih mampu melangkah, selama suara masih bisa melafalkan zikir dan doa, maka manfaatkanlah semuanya untuk mendekat kepada Allah.

Ada satu kalimat yang saya sampaikan kepada jamaah dan terasa menggema dalam hati saya sendiri: “Datanglah ke masjid untuk salat sebelum suatu hari nanti kita dibawa ke masjid untuk disalatkan.”

Kalimat itu bukan ancaman, melainkan pengingat tentang kenyataan hidup yang pasti akan kita hadapi. Setiap manusia sedang berjalan menuju batas waktunya masing-masing. Karena itu, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu tua untuk bertobat. Jangan menunggu sakit untuk beribadah. Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.

Perjalanan Jumat ke Tanoh Abu mengajarkan kembali kepada saya bahwa tugas seorang penyuluh agama bukan hanya berbicara di atas mimbar, tetapi juga menghadirkan harapan, menguatkan keimanan, dan menyalakan semangat kebaikan di tengah masyarakat.

Semoga masjid-masjid kita terus makmur dengan salat berjamaah, majelis ilmu, dan kegiatan yang menumbuhkan ukhuwah. Semoga keluarga-keluarga kita menjadi keluarga yang mencintai ibadah. Dan semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga kelak dipanggil memasuki surga-Nya dengan penuh kemuliaan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 13 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Mandi Junub: Menyucikan Tubuh, Menjernihkan Jiwa

19 Juni 2026 - 09:17 WIB

KELUARGA HARMONIS (Tenang)

19 Juni 2026 - 08:58 WIB

NIKAH DI BULAN SURO

19 Juni 2026 - 08:49 WIB

Ketika Ujian Ekonomi Menguliti Ilusi Romantisme Pernikahan

19 Juni 2026 - 08:00 WIB

KELUARGA HARMONIS (Luangkan Waktu Sendiri)

18 Juni 2026 - 20:13 WIB

“GUE BUJANG NI….”

18 Juni 2026 - 20:11 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x