Menu

Mode Gelap

Opini · 19 Jun 2026 08:00 WIB ·

Ketika Ujian Ekonomi Menguliti Ilusi Romantisme Pernikahan

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Ketika Ujian Ekonomi Menguliti Ilusi Romantisme Pernikahan Perbesar

Pernikahan, dalam lembar-lembar undangan dan janji suci di altar, hampir selalu digambarkan sebagai sebuah pelayaran yang megah. Namun, realitas sering kali menyuguhkan naskah yang berbeda. Salah satu ujian paling purba dan paling merusak yang bisa menerpa sebuah bahtera rumah tangga adalah ketika fondasi finansialnya mendadak runtuh atau bahkan tidak pernah kokoh sejak awal. Ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, pernikahan tidak lagi berbicara tentang ke mana akan pergi berlibur atau kejutan-kejutan kecil di hari jadi. Pernikahan mendadak berubah menjadi sebuah arena bertahan hidup, di mana setiap keputusan kecil seperti mulai dari memilih merek susu anak hingga tagihan listrik yang menunggak, bisa memicu ledakan konflik yang hebat. Ujian ekonomi adalah sebuah katalis yang kejam, ia menguliti seluruh ilusi romantisme dan memaksa dua orang manusia untuk saling berhadapan dalam kondisi paling telanjang dan paling rentan.

Bagi seorang laki-laki, runtuhnya stabilitas ekonomi rumah tangga sering kali memicu krisis eksistensial yang melumpuhkan batin. Sejak zaman batu hingga era kecerdasan buatan, masyarakat secara kultural telah menanamkan satu tugas mutlak di pundak laki-laki, yaitu menjadi penyedia (the provider). Ketika seorang suami gagal memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, ego dan harga dirinya sering kali ikut runtuh bersama angka di rekening banknya. Rasa bersalah dan perasaan tidak berguna ini bermanifestasi dalam bentuk yang sering kali disalahpahami oleh pasangannya. Alih-alih mengomunikasikan kecemasannya, laki-laki yang sedang tertekan secara finansial cenderung menjadi lebih sensitif, mudah tersinggung, atau justru menarik diri ke dalam keheningan yang dingin. Mereka merasa telah gagal melindungi garis pertahanan pertama keluarga, dan setiap keluhan atau diskusi tentang uang dari sang istri kerap kali tertangkap oleh radar emosi mereka sebagai sebuah dakwaan atas kegagalan tersebut.

Di sisi lain meja makan, sang istri menanggung beban psikologis yang tidak kalah berat berupa kecemasan domestik yang konstan. Jika suami mengkhawatirkan harga diri dan konsep makro tentang masa depan, istri sering kali menjadi pihak yang harus memutar otak secara mikro setiap harinya. Mengelola dapur yang kekurangan, menghadapi tenggat waktu tagihan, hingga menyembunyikan rasa cemas di depan anak-anak adalah pekerjaan mental (mental load) yang luar biasa melelahkan. Frustrasi ini sering kali meluap dalam bentuk tuntutan atau kritikan, yang sebenarnya merupakan jeritan minta tolong akibat rasa tidak aman (insecurity) terhadap masa depan. Ketika ruang komunikasi diisi oleh ketakutan istri yang bertemu dengan defensifnya suami, uang tidak lagi sekadar menjadi alat tukar, melainkan proyektil senjata yang siap melukai satu sama lain dalam setiap perdebatan.

Menariknya, ujian ekonomi seolah menjadi cermin raksasa yang memperjelas kualitas asli dari sebuah hubungan. Krisis finansial jarang sekali memunculkan masalah baru yang benar-benar asing, bahkan ia lebih sering memperbesar retakan-retakan kecil yang selama ini tersembunyi di balik kenyamanan materi. Pernikahan yang sebelumnya dibangun di atas fondasi transaksi atau ekspektasi yang dangkal akan dengan cepat goyah ketika komoditas utamanya hilang. Namun, bagi pasangan yang mampu mengidentifikasi bahwa musuh sejati mereka adalah “situasi ekonomi” dan bukan “pasangan mereka sendiri”, badai ini justru bisa menjadi semen perekat yang luar biasa kuat. Ketika ego individu dilebur menjadi sebuah kerja tim yang solid, kemiskinan materi justru sering kali membuka ruang bagi kekayaan emosional yang belum pernah tercecap sebelumnya.

Bertahan di tengah badai ekonomi pada akhirnya membutuhkan lebih dari sekadar strategi penghematan atau kerja sampingan, ia menuntut restrukturisasi daripada makna cinta itu sendiri. Pasangan harus belajar memisahkan antara nilai diri seseorang dengan kondisi finansialnya saat itu. Seorang suami tetaplah seorang kepala keluarga yang berharga meski dompetnya sedang kosong, dan seorang istri tetaplah mitra yang hebat meski kecemasannya kadang memuncak. Pernikahan yang berhasil melewati ujian ekonomi bukanlah pernikahan yang tidak pernah mengalami masa-masa sulit, melainkan pernikahan di mana kedua orang di dalamnya memilih untuk saling menggenggam lebih erat ketika dunia di luar sana sedang seolah runtuh. Mereka memahami bahwa kekayaan sejati sebuah rumah tangga tidak dihitung dari apa yang tersaji di atas meja, melainkan dari siapa yang bersedia duduk bersama, saling menguatkan, hingga badai itu tahu diri dan beranjak pergi.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Mandi Junub: Menyucikan Tubuh, Menjernihkan Jiwa

19 Juni 2026 - 09:17 WIB

KELUARGA HARMONIS (Tenang)

19 Juni 2026 - 08:58 WIB

NIKAH DI BULAN SURO

19 Juni 2026 - 08:49 WIB

KELUARGA HARMONIS (Luangkan Waktu Sendiri)

18 Juni 2026 - 20:13 WIB

“GUE BUJANG NI….”

18 Juni 2026 - 20:11 WIB

Menjaga Agama dengan Menjaga Shalat

18 Juni 2026 - 16:52 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x