KURANG GARAM
Setelah menunggu lama istrinya pulang dari pasar, pak mamat pergi ke dapur membuka lemari dan mengambil mie instan dari lemari, dipersiapkannya kelengkapan yang lain diambilnya telur, diirisnya bawang segera ia taruh wajan diatas kompor dan “cetek” berbunyi kompor dinyalakan pun terdengar, ia tuangkannya minyak sedikit ke wajan ditumisnya bawang iris dan ia pun mulai mengoseng oseng bawang iris itu. setelah dikira matangnya cukup dimasukkan cabe iris warnanya pun pucat ditambahkannya air tiga gelas ke wajan tersebut. Menunggu mendidih ia terus mengaduk-aduknya setelah ia lihat permukaan air menggelembung dicemplungkannya mie instan di pecahnya telur ke dalam wajan tersebut beberapa saat kemudian sebelum diangkat dari atas api di taburkan bumbu instan yang ia pisahkan sebelumnya dari bungkus dengan mienya diaduk aduknya lagi dicicipinya lalu di tambahkan garam sedikit.
Assalamualaikum “suara istrinya terdengar di pintu depan istrinya pulang membawa belanjaan dari pasar, ia heran, kok suaminya di dapur di depan kompor, “ lagi ngapain yah…” tanyanya “biasa” kata suaminya “aku tadi kelaparan nunggu bunda pulang, belum pulang-pulang juga, ya.. aku masak mie” lanjutnya. Istrinya datang mendekat “udah dikasih bumbu belum?,udah dikasih garam belum? cabenya udah masuk? telurnya udah masuk?” semua pertanyaan itu seperti membombardir dirinya laksana pasukan iran membombardir israel “sudah…” jawab suaminya
“coba mana!” kata istrinya
istrinya mengambil sendok dan mengambil sedikit kuah dari mie instan lalu ia taruh ke mulutnya bibirnya bergerak-gerak komat kamit seperti membacakan mantra “ini mah kurang garam… tambahin garamnya” kata istrinya suaminya hanya tersenyum lalu mengambil botol garam dan mencelupkan sendok ke dalam botol garam tersebut dan mengangkatnya tanpa ada garam yang menempel di sendoknya lalu ia masukkan ke wajan dan kedengaran bunyi “tek tek tek” peraduan sendok dan wajan, sambil mengaduk-aduknya istrinya melihat sekilas kemudian menghampirinya lagi dan mencoba kuahnya lagi “nah…. ini baru pas, tadi kurang garam itu” celoteh istrinya .suaminya hanya tersenyum lagi, kemudian ia menuangkan mie itu ke mangkuk lalu ia mengangkatnya ke atas meja makan “sini bun kita makan bareng” kata suaminya istrinya yang masih merasa lapar itu datang dan mereka makan berdua mie instan “cukuplah untuk berdua” kata suaminya “enak kan mi, enakkan masakan abi” kata suaminya “iya… tadi gara-gara umi bilang tambah garam itu bi, kalau gak, nggak ada rasa… hambar itu” kata istrinya suaminya tersenyum lagi, kali ini dengan tertawa kecil “
apa bi…, ” kasih tau…” apa…
“nggak apa-apa” kata suaminya
“kenapa ketawa” kata istrinya
“ya.. gak kenapa kenapa” kata suaminya
“ayo bilang…… kenapa ketawa “ kata istrinya lagi
kemudian suaminya bercerita “tadi itu…pas umi bilang tambah garam, abi itu nggak nambah apa-apa… cuma celupkan sendok ke garam gak ada garam yang menempel di sendok lalu sendoknya ditaruh lagi di wajan diaduk-aduk tapi akhirnya tambah asinnya , dan jadi pas rasanya ya mi…. “ kata suaminya “abi nggak tahu itu apa memang……”
“memang apa ha …. Apa…”
“ garamnya nambah atau memang ………”
“memang apa …… apa ha” tangan istrinya berjalan terus mencubit suaminya ia terus bergerak mengelakkan cubitan
“gara gara abi yang masak maka kurang garam “
“memang apa …….. ha apa….. bilang aja memang umi cerewet “lanjut istrinya
suaminya sambil tertawa kecil “maksud abi …. Hehehe masakannya memang yang kurang garam atau lidah umi yang kurang garam” lanjut suaminya sambil nutup muka. “ia pun terus di serang cubitan tangan istrinya. lalu ia memeluk istrinya dan mereka “ha ha..ha.. ha..ha “ tertawa bersama sama tertawa lepas tertawa bahagia








