Menu

Mode Gelap

Opini ยท 18 Jun 2026 16:52 WIB ยท

Menjaga Agama dengan Menjaga Shalat

Penulis: Mahbub Fauzie


 Menjaga Agama dengan Menjaga Shalat Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, banyak orang berusaha menjaga berbagai hal yang dianggap penting dalam hidupnya. Ada yang menjaga kesehatan dengan olahraga, menjaga harta dengan bekerja keras, menjaga keluarga dengan kasih sayang, dan menjaga jabatan dengan penuh tanggung jawab. Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, padahal menjadi fondasi dari semua itu, yaitu menjaga agama.

Lalu, bagaimana cara menjaga agama?
Salah satu jawabannya adalah dengan menjaga shalat.

Shalat bukan sekadar ritual ibadah harian, tetapi merupakan identitas seorang muslim sekaligus benteng utama keimanan. Ketika shalat terjaga, hubungan seorang hamba dengan Allah tetap hidup. Sebaliknya, ketika shalat mulai ditinggalkan, maka perlahan-lahan ikatan spiritual dengan Allah menjadi lemah.

Allah Swt. berfirman:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya untuk dikerjakan, tetapi juga untuk dipelihara dan dijaga. Menjaga shalat berarti menjaga waktu pelaksanaannya, menjaga kekhusyukannya, serta menjaga komitmen untuk tidak meninggalkannya dalam keadaan apa pun.

Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Artinya, shalat yang benar akan membentuk karakter yang baik. Ia menjadi pengingat moral yang terus-menerus mengarahkan manusia kepada kebaikan dan menjauhkannya dari kemaksiatan.

Rasulullah saw. juga memberikan penegasan yang sangat kuat tentang kedudukan shalat. Beliau bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim. Shalat menjadi pembeda yang nyata antara keimanan dan pengabaian terhadap agama.

Dalam hadis lain Rasulullah saw. bersabda:
“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kualitas kehidupan seorang muslim sangat terkait dengan kualitas shalatnya. Shalat bukan hanya ibadah di masjid atau mushalla, tetapi menjadi cerminan kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Ironisnya, pada zaman sekarang, banyak orang yang mengaku sibuk sehingga menunda bahkan meninggalkan shalat. Padahal, waktu yang dibutuhkan untuk satu kali shalat tidaklah lama. Jika dihitung bersama wudhu dan zikir singkat, mungkin hanya sekitar sepuluh menit. Dalam sehari semalam, lima waktu shalat hanya menghabiskan sekitar satu jam dari 1.440 menit yang Allah anugerahkan.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar tidak punya waktu, atau sebenarnya kita belum menempatkan shalat sebagai prioritas?

Anak-anak muda khususnya perlu menyadari bahwa masa depan yang baik tidak hanya dibangun dengan pendidikan, keterampilan, dan kerja keras. Semua itu penting, tetapi keberkahan hidup lahir dari kedekatan kepada Allah. Dan salah satu jalan terdekat menuju keberkahan itu adalah menjaga shalat.

Seorang pelajar yang menjaga shalat akan memiliki disiplin waktu. Mahasiswa yang menjaga shalat akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup. Pekerja yang menjaga shalat akan memperoleh ketenangan jiwa. Pemimpin yang menjaga shalat akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Karena itu, apa pun profesi dan kesibukan kita, jangan tinggalkan shalat. Saat kita menjaga shalat, sesungguhnya kita sedang menjaga agama kita. Dan ketika agama terjaga, insya Allah kehidupan dunia akan lebih berkah dan kehidupan akhirat akan lebih selamat.

Sebagaimana nasihat para ulama:
“Jagalah shalatmu, maka Allah akan menjaga hidupmu.”

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga shalat tepat waktu, memakmurkan masjid, dan menjadikan shalat sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Karena menjaga agama tidak selalu dimulai dari hal yang besar; sering kali ia dimulai dari kesetiaan kita memenuhi panggilan azan lima kali sehari. Wallahu a’lam bish-shawab.

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

KELUARGA HARMONIS (Luangkan Waktu Sendiri)

18 Juni 2026 - 20:13 WIB

โ€œGUE BUJANG NIโ€ฆ.โ€

18 Juni 2026 - 20:11 WIB

Ketika Suami Dipaksa Menjadi Paranormal Emosi Dan Membaca Sandi di Balik Pintu Rumah Tangga

18 Juni 2026 - 08:22 WIB

Memahami Pentingnya Ma’isyah dalam Pernikahan

17 Juni 2026 - 08:39 WIB

Pawai Muharram di Takengon dan Makna Kebersamaan yang Perlu Dijaga

16 Juni 2026 - 11:11 WIB

๐Ÿญ ๐— ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ฟ๐—ฎ๐—บ ๐Ÿญ๐Ÿฐ๐Ÿฐ๐Ÿด ๐—›, ๐—ฆ๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ถ๐—ธ๐—ถ ๐—ก๐—ถ๐—ฎ๐˜ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐— ๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐˜‚๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป

16 Juni 2026 - 06:31 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x