KIAT SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH (6)
Para pasangan muda yang baru menikah akan merasa senang karena sudah mempunyai pasangan. Semua pasangan nikah yang baru baru akan terucap terus doa doa buat mereka “semoga sakinah mawaddah wa rohmah”. Untuk mewujudkan itu semua butuh usaha, ia tidak akan hadir begitu saja. Dan ia tidak akan datang sekaligus seperti di tumpahkan. Kita tidak perlu terburu-buru untuk sampai ke sakinah mawaddah warohmah tersebut, tetapi ikuti tips dan kiat kiat agar rumah tangga yang baru di tempati menjadi sakinah mawaddah wa rohmah diantara kiat kiatnya adalah sebagai berikut
Focus Ke Masa Depan (Jangan Mengungkit Masa Lalu)
Komunikasi (ngobrol) yang efektif antar suami istri adalah dengan tidak menyudutkan salah satu pihak. Jika seorang suami atau istri merasa tersinggung alih alih menjadi teman curhat terbaik, malah akan membuat salah satunya tersinggung dan tersudut. Ada banyak alasan mengapa seseorang merasa tersudut di dalam suatu obrolan. Bisa jadi karena masa lalunya yang kembali diungkit oleh si lawan bicara.
Ketika membicarakan masalah yang cukup krusial dengan suami, usahakan agar tidak mengungkit hal-hal yang tidak penting seperti masa lalunya. Pembahasan seperti ini tak jarang menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga. Pada akhirnya, kesempatan untuk curhat dengan suami pun jadi sia-sia. Setiap manusia itu memiliki masa lalu, begitu juga dengan suami ia juga memiliki masa lalu yang mungkin ia sendiri tidak mengungkitnya.
Mendapatkan tautan hati, seorang istri baginya adalah hidayah dari Allah suatu hari bisa saja dia menjadi orang yang bahkan lebih baik dari hari harinya dari sekarang. Dalam hal ini apabila ia telah bertaubat dan berusaha berubah sekuat tenaga, tidak sewajarnyalah kita mengungkit-ungkit masa lalunya. Walau itu dengan niatan mencairkan suasana. Tentu saja hal ini dapat menyakiti hatinya, yang telah bersusah payah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan lebih ta’at.
Seyogyanya kita mendukung pasangan kita yang tengah berproses untuk berubah, menghargai pilihannya, dan menjaga aib-aibnya. Karena kita tidak mengetahui seberapa keras jalan yang pernah ia lalui di masa lalu dan bagaimana perjuangannya untuk dapat merubah hidupnya menjadi orang yang lebih baik. Maka jangan sampai kita menanya-nanya lagi apa yang pernah ia lakukan di masa lalu, apalagi sampai menceritakan aibnya kepada orang lain. Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan yang telah berubah tanpa mengungkit-ungkit masa lalunya dapat menjadi penyemangat bagi dirinya untuk menjadi suami atau istri yang lebih baik kedepannya dan istiqomah di jalan Allah.
Apabila ia mengalami kegagalan dalam masa perubahan disitulah kita bertugas untuk mengingatkannya kembali, memberikan semangat pantang menyerah, dan percaya bahwa ia bisa melewati masa-masa sulit dikala tengah menempuh jalan hijrah. Bahwa pasangan kita yang sedang memperbaiki diri sejatinya sedang menempuh jalan Allah untuk mendapatkan Ridha-Nya dan rezeki yang berkah. Sekelam apapun masa lalu seseorang, Allah pasti akan membukakan pintu maaf seluas-luasnya dan memberikan taufiq kepada orang tersebut. Maka sejatinya kita harus menjadi teman dan sahabat yang baik, menjadi contoh bagi pasangan kita yang tengah melangkah hijrah, tentunya mereka akan mencari pasangan yang lebih sholeh dari dirinya sebagai teman agar ia dapat meniru dan belajar bersama kiat-kiat mengamalkan amal sholeh.
Rumah tangga itu akan dapat saling bahu membahu dalam membantu suami atau istri untuk berubah atau menjemput hidayah-Nya kemudian ia menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang dan melanjutkan estafet keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. (Wallohu ‘Alam).








