Oleh : Dr Dian Rahmat Nugraha
kangdianrahmat@gmail.com
Abstrak
Masjid merupakan episentrum peradaban Islam yang diletakkan batu pertamanya oleh Rasulullah SAW. Artikel ini bertujuan menganalisis kunci sukses ketakmiran Masjid Nabawi dan membandingkannya dengan realitas manajemen masjid di Kota Tasikmalaya. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan data sekunder empiris, penelitian ini menemukan bahwa kunci sukses ketakmiran Rasulullah terletak pada ukhuwah berbasis takwa, manajemen musyawarah, dan keterlibatan sosial imam. Sementara itu, masjid di Kota Tasikmalaya menunjukkan potensi besar secara kuantitas namun masih menghadapi tantangan pada aspek produktivitas ekonomi dan ritualisasi sempit. Artikel ini merekomendasikan revitalisasi fungsi masjid sebagai pusat tanniyah ummat.
PENDAHULUAN
Rasulullah SAW memulai dakwah di Makkah dengan tantangan besar di mana beliau dilarang memakmurkan Masjidil Haram selama 13 tahun. Perubahan besar terjadi saat hijrah ke Madinah dengan didirikannya Masjid Nabawi sebagai pusat tanniyah ummat atau markas dakwah. Rasulullah SAW bertindak sebagai Ketua Takmir Masjid Nabawi selama 10 tahun, yang menjadi kunci tersebarnya Islam ke segala penjuru.
Namun, realitas saat ini menunjukkan adanya pergeseran fungsi masjid. Di Kota Tasikmalaya yang dijuluki “Kota Santri”, terdapat lebih dari 2.500 bangunan masjid. Meskipun secara kuantitas sangat besar, seringkali masjid hanya menjadi tempat ritualitas ibadah mahdah tanpa menyentuh aspek pemberdayaan sosial-ekonomi secara optimal. Masalah utama yang diangkat adalah: Bagaimana kunci sukses ketakmiran masjid zaman Rasulullah dibandingkan dengan realita sekarang, khususnya di Kota Tasikmalaya, dan apa langkah strategis untuk revitalisasinya?
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer berasal dari buku Risalah Nabawi yang membedah kepemimpinan masjid era Nabi. Data empiris mengenai Kota Tasikmalaya diperoleh dari laporan penelitian pemberdayaan ekonomi masjid dan data statistik regional. Analisis dilakukan dengan membandingkan pola manajemen Idarah (administrasi), Imarah (pemakmuran), dan Ri’ayah (pemeliharaan fisik) antara kedua era tersebut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
- Kunci Sukses Ketakmiran Zaman Rasulullah SAW
Berdasarkan catatan Risalah Nabawi, terdapat beberapa pilar utama kesuksesan manajemen Masjid Nabawi:
- Ukhuwah Islamiyah Berbasis Takwa: Masjid berhasil menyatukan kelompok Auz dan Khazraj serta mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar.
- Manajemen Musyawarah (Mahabah): Keputusan masjid tidak diambil secara otoriter atau sekadar suara terbanyak, melainkan melalui proses musyawarah yang dipimpin oleh Imam dengan adab yang luhur.
- Totalitas Kepemimpinan Imam: Sebagai Ketua Takmir, Rasulullah mengalokasikan sepertiga waktunya untuk urusan umat, termasuk menjenguk jamaah yang sakit dan membantu yang kesulitan.
- Keseimbangan Dunia-Akhirat: Masjid berfungsi menyelamatkan manusia dari keterpanaan duniawi agar menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.
- Realita Manajemen Masjid di Kota Tasikmalaya
Data empiris di Kota Tasikmalaya menunjukkan kondisi yang kontras namun potensial:
- Kuantitas vs Kualitas SDM: Terdapat 2.584 masjid, namun tingkat pendidikan pengurus (takmir) didominasi lulusan SMA (34%) dan SMP (25%). Hanya sebagian kecil yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi untuk manajemen profesional.
- Potensi Ekonomi yang Belum Tergarap: Sebanyak 71% masjid di Tasikmalaya memiliki donatur tetap, namun hanya 10% yang memiliki lembaga Baitul Maal sederhana. Hal ini menunjukkan masjid lebih banyak berfungsi sebagai “konsumen” anggaran daripada “produsen” kesejahteraan umat.
- Gejala Ritualisasi Sempit: Terjadi diskoneksi fungsional di mana masjid cenderung hanya digunakan untuk shalat lima waktu, sementara fungsi sosial-intelektual seperti era Nabawi masih minim.
- Analisis Perbandingan dan Solusi
Ketakmiran zaman Rasulullah menjadikan masjid sebagai “jantung” kehidupan masyarakat. Di sisi lain, masjid di Tasikmalaya saat ini masih menghadapi kendala pada aspek produktivitas kerja takmir, di mana meskipun 90% berada di usia produktif (17-60 tahun), program kerja yang dihasilkan seringkali bersifat rutin dan non-fisik.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kunci sukses ketakmiran Rasulullah adalah integrasi antara kesalehan ritual dan kepedulian sosial. Di Kota Tasikmalaya, tantangan utama bukan pada sarana fisik, melainkan pada revitalisasi fungsi Imarah (pemakmuran).
Saran:
- Sinergi Antar-Masjid: Takmir di Tasikmalaya perlu membangun jaringan kerjasama untuk standarisasi manajemen dakwah dan ekonomi.
- Pelatihan Manajemen Profesional: Mengingat beragamnya latar belakang pendidikan pengurus, diperlukan pelatihan manajemen masjid berbasis teknologi dan kewirausahaan sosial.
- Optimalisasi Baitul Maal: Mendorong setiap masjid di Tasikmalaya untuk memiliki unit pemberdayaan ekonomi guna mengentaskan kemiskinan di sekitar masjid.
REFERENSI
- Buku: Abu Bakar, Risalah Nabawi: Kunci Sukses Ketakmiran Masjid, (Surakarta: Pustaka Utama, 2023).
- Jurnal: Asep Suryanto, “Optimalisasi Fungsi dan Potensi Masjid di Kota Tasikmalaya,” Jurnal Iqtishoduna, Vol. 2, No. 1, 2016.
- Jurnal: Muhammad Syafi’i, “Revitalisasi Masjid sebagai Jantung Peradaban: Analisis Empiris Kota Tasikmalaya,” Pustaka Penghulu, 2024.
- Jurnal: Muchti Nurhidaya, “Perencanaan Program Masjid Agung Kota Tasikmalaya,” Thesis UIN Sunan Kalijaga, 2023.
- Jurnal: Manajemen Masjid untuk Kemakmuran Jamaah, Jurnal Manajemen Dakwah UIN Jakarta, 2023.
- Buku: Al-Thabarsi, Makarim Al-Akhlak, (Beirut: Darul Kutub, 2010).
- Buku: Imam Tirmidzi, Asy-Syama’il Al-Muhammadiyah, (Jakarta: Gema Insani, 2019).
- Jurnal: “Sejarah dan Perkembangan Fungsi Masjid Nabawi,” URJ UIN Malang, 2024.
- Jurnal: “Masjid Sebagai Pusat Kebudayaan Islam,” Jurnal An-Nur, 2014.
- Buku: Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, (Kairo: Darul Hadits, 2005).
- Buku: Sayyid Ibnu Thawus, Falahus-Sail, (Teheran: Intisyarat, 2008).
- Buku: Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (Riyadh: Darussalam, 2009).
- Data: Kemenag RI, Sistem Informasi Masjid (SIMAS), 2024.
- Buku: Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, (Beirut: Muassasalah Risalah, 2001).
- Buku: Al-Hakim, Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, (Beirut: Darul Ma’rifah, 1990)








