Menu

Mode Gelap

Opini · 17 Jul 2026 09:04 WIB ·

Menikah Itu Sepaket dengan Perceraian, Sebuah Romantisme Realistis dan Kedewasaan Radikal yang Jarang Dibicarakan

Penulis: Muhamad Fathul Arifin


 Menikah Itu Sepaket dengan Perceraian, Sebuah Romantisme Realistis dan Kedewasaan Radikal yang Jarang Dibicarakan Perbesar

Ketika sepasang kekasih berdiri di atas altar atau pelaminan, narasi yang dibangun oleh lingkungan sekitar hampir selalu seragam dan linear, yaitu tentang cinta yang abadi, akhir cerita yang bahagia, serta janji suci untuk menua bersama dalam harmoni yang tanpa celah. Kita sebagai masyarakat telah terbiasa merayakan awal yang megah, tetapi secara kultural cenderung menutup mata dan menganggap tabu untuk membicarakan akhir. Padahal, jauh di lubuk realitas psikologis dan hukum yang paling jujur, ada satu kebenaran fundamental yang kerap sengaja diabaikan demi menjaga kesucian momentum pada detik yang sama ketika Anda memutuskan untuk menandatangani dokumen pernikahan dan mengikatkan diri pada seseorang, Anda sebenarnya sedang melegalkan jalur menuju potensi perceraian. Menikah, dalam dimensi realitasnya yang paling transparan, adalah sebuah keputusan eksistensial yang datang satu paket dengan kemungkinan berpisah. Mengakui eksistensi risiko ini sejak awal bukanlah bentuk pesimisme atau doa bagi kegagalan domestik, melainkan sebuah manifestasi dari kedewasaan emosional tertinggi dalam memandang sebuah komitmen jangka panjang.

Banyak orang memasuki gerbang pernikahan dengan kacamata kuda romantis yang utopis, sebuah ilusi kolektif yang meyakini bahwa perasaan cinta yang meluap-luap saja sudah cukup untuk menghalau segala bentuk badai rumah tangga yang akan datang. Namun, romantisme yang sejati dan tangguh justru tidak lahir dari penyangkalan terhadap bahaya, melainkan dari keberanian radikal untuk melihat risiko yang paling pahit dan tetap memilih untuk melangkah. Ketika seseorang dengan penuh keyakinan berkata, “Aku siap menikahimu,” esensi dari kalimat tersebut seharusnya tidak boleh berhenti pada janji romantis untuk menemani saat kondisi nyaman dan bahagia semata. Kalimat itu harus bertransformasi menjadi sebuah sumpah yang jauh lebih mendalam: “Aku siap masuk ke dalam ruang komitmen bersamamu, di mana pintu keluar bernama perceraian itu ada secara nyata, namun aku memilih untuk menurunkan egoku dan berjuang bersamamu setiap hari agar kita tidak pernah perlu melangkah melewatinya.” Kesadaran penuh bahwa perpisahan adalah sebuah probabilitas yang riil justru secara paradoks melahirkan rasa hormat yang jauh lebih besar terhadap keberadaan pasangan. Anda tidak lagi menganggap kehadiran mereka di sisi Anda sebagai sesuatu yang terjamin atau kepastian yang mutlak, melainkan sebuah anugerah bersyarat yang harus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan dengan kehati-hatian yang penuh setiap harinya.

Mengapa memahami dan menginternalisasi konsep “satu paket” ini menjadi sesuatu yang sangat krusial bagi ketahanan sebuah hubungan? Karena penolakan total atau kebutaan terhadap realitas risiko ini sering kali menjadi akar dari lahirnya kepalsuan yang merusak di dalam dinamika rumah tangga. Ketika perceraian dianggap sebagai sesuatu yang mustahil, aib mutlak yang tidak boleh disentuh, atau tabu sosial yang tidak terpikirkan, banyak pasangan yang akhirnya justru terjebak dalam lingkaran setan hubungan yang beracun, menoleransi pelecehan emosional, atau terjebak dalam kepura-puraan bertahun-tahun demi mempertahankan status dan fasad di mata publik. Mereka lupa bahwa pernikahan esensinya bukanlah sebuah penjara emosional yang mengurung kebebasan jiwa manusia. Mengetahui dan menerima fakta bahwa ada opsi legal dan emosional untuk berpisah sebenarnya memberikan kekuatan dan nilai otentik pada keputusan Anda untuk tetap tinggal. Saat Anda memilih untuk bertahan di tengah masa-masa sulit dan badai komunikasi yang hebat, pilihan itu menjadi bernilai karena Anda melakukannya secara sadar dan Merdeka serta menilai bahwa hubungan ini masih memiliki harga dan esensi yang layak untuk diperjuangkan dan bukan karena Anda merasa terjebak tanpa jalan keluar.

Secara psikologis, pasangan yang secara sadar memahami bahwa mereka bisa saling kehilangan kapan saja justru cenderung mengembangkan pola komunikasi yang jauh lebih sehat dan dinamis. Mereka tidak akan meremehkan gesekan-gesekan kecil, tidak menimbun bom waktu emosional di bawah karpet, dan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi untuk menghargai ruang pertumbuhan personal satu sama lain. Mereka sangat paham bahwa ego yang tidak terkontrol, komunikasi yang tersumbat oleh keangkuhan, serta hilangnya rasa respek yang mendasar adalah bahan bakar utama yang secara perlahan namun pasti akan mengantar mereka menuju pintu perpisahan tersebut. Dengan memetakan risiko terburuk sejak awal, kedua belah pihak secara tidak langsung dipaksa oleh realitas untuk terus menurunkan arogansi, membuang gengsi, dan berinvestasi lebih banyak pada kesehatan mental serta stabilitas emosional bersama, menjadikan hubungan mereka sebuah proses negosiasi dan adaptasi yang terus bertumbuh tanpa henti.

Akhir,

Pada akhirnya, kesiapan untuk melangkah ke jenjang pernikahan secara hakiki bukanlah sekadar masalah kemapanan finansial, kematangan usia biologis, atau kemegahan konsep pesta yang memukau pandangan mata. Kesiapan menikah yang sejati adalah tentang kedewasaan radikal, yaitu sebuah kemampuan mental yang matang untuk merangkul dualitas kehidupan yang tak terhindarkan; sebuah pemahaman filosofis bahwa di dalam setiap pertemuan yang mendalam, selalu terkandung benih-benih potensi perpisahan yang nyata. Janji suci yang diucapkan di hadapan saksi dan Tuhan hari ini bukanlah sebuah jaminan otomatis kelanggengan, melainkan sebuah titik start dari kerja keras melelahkan seumur hidup yang menuntut konsistensi, empati, dan pengorbanan dari kedua belah pihak. Konsep bahwa pernikahan hadir sepaket dengan perceraian bukanlah sebuah doktrin pesimisme yang melumpuhkan harapan, melainkan sebuah kompas realitas yang berfungsi membumikan romantisme agar tidak terbang terlalu tinggi lalu hancur saat terbentur realitas hidup.

Saat masyarakat dan generasi baru mulai berani membuka ruang diskusi untuk membicarakan sisi koin yang gelap ini tanpa disertai stigma negatif atau ketakutan irasional, kita akan mulai melihat lebih banyak pernikahan yang dibangun di atas fondasi kejujuran eksistensial, bukan di atas pasir ilusi yang rapuh. Kita akan menyaksikan lahirnya pasangan-pasangan tangguh yang tidak hanya siap merayakan cinta saat musim bermekaran, tetapi juga memiliki ketahanan mental, fleksibilitas psikologis, dan kecerdasan emosional yang kokoh saat badai kehidupan menguji kekuatan akar hubungan mereka. Menikahlah dengan seluruh kedalaman hati dan perasaan Anda, namun pastikan Anda tetap membawa serta logika serta pemahaman realitas yang utuh. Sebab, hanya dengan mengakui dan menghormati adanya potensi akhir, kita bisa benar-benar menghargai, menjaga, dan mencintai setiap detik dari proses perjalanan panjang yang sedang kita tempuh bersama pasangan pilihan kita.

  • Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 5 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Baca Lainnya

Harlah APRI ke-7: Saatnya Penghulu Menjadi Pelopor Ekoteologi dan Pengabdian Sosial

16 Juli 2026 - 04:20 WIB

Ketika Penghulu dan Penyuluh Agama Harus Membangun Personal Branding

14 Juli 2026 - 19:34 WIB

Menyingkap Sisi Gelap Korupsi Domestik yang Menggerogoti Pernikahan dari Dalam

13 Juli 2026 - 13:35 WIB

Siri dalam Keramaian: Ketika Jalan Pintas Menjadi Pilihan

12 Juli 2026 - 14:25 WIB

Menulis sebagai Jalan Uzlah dan Dakwah

10 Juli 2026 - 07:08 WIB

Sesibuk Apa pun, Jangan Lupakan Sang Khalik

8 Juli 2026 - 16:07 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x