Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd. Penghulu & Kepala KUA Atu Lintang, Aceh Tengah
Pawai Religi 1 Muharram 1448 Hijriah yang berlangsung di Kota Takengon bukan sekadar kegiatan seremonial menyambut pergantian tahun dalam kalender Islam. Lebih dari itu, pawai tersebut menghadirkan pesan penting tentang kekuatan kebersamaan, semangat syiar Islam, dan harapan untuk membangun masyarakat yang semakin berakhlak dan peduli.
Di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia sibuk dengan urusan masing-masing, kegiatan yang mampu mempertemukan ribuan orang dalam satu semangat yang sama memiliki nilai yang sangat berharga. Kehadiran keluarga besar Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, para guru dan siswa madrasah, penghulu, penyuluh agama, Dharma Wanita Persatuan, hingga berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa syiar Islam akan lebih kuat ketika dilakukan secara bersama-sama.
Muharram selalu mengingatkan umat Islam pada peristiwa hijrah Rasulullah SAW. Namun hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat. Hijrah adalah perpindahan sikap, perubahan perilaku, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena itu, setiap peringatan Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum evaluasi diri: sudah sejauh mana kehidupan kita berubah menuju kebaikan.
Pawai yang melintasi jalan-jalan utama Kota Takengon membawa pesan bahwa nilai-nilai Islam tidak cukup hanya dibicarakan di ruang-ruang pengajian atau mimbar-mimbar masjid. Nilai tersebut perlu hadir di tengah masyarakat melalui keteladanan, kepedulian sosial, persatuan, dan semangat saling menguatkan. Ketika peserta membawa spanduk tentang hijrah, cinta Al-Qur’an, dan ukhuwah Islamiyah, sesungguhnya mereka sedang mengingatkan diri sendiri sekaligus masyarakat tentang arah perjalanan hidup yang seharusnya ditempuh.
Pesan yang disampaikan Bupati Aceh Tengah tentang pentingnya persatuan juga patut menjadi perhatian bersama. Dalam sejarah Islam, kekuatan umat tidak lahir karena banyaknya jumlah semata, tetapi karena adanya persaudaraan dan kesatuan tujuan. Sebaliknya, perpecahan sering kali menjadi pintu masuk berbagai kelemahan yang menghambat kemajuan.
Momentum Muharram juga mengajak kita untuk lebih peduli terhadap kelompok yang membutuhkan perhatian, seperti anak yatim dan fakir miskin. Semangat hijrah yang sejati bukan hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap sesama manusia. Keberagamaan yang baik akan selalu melahirkan kepekaan sosial.
Pemandangan ribuan peserta yang berjalan dengan penuh semangat, diiringi lantunan takbir dan syair-syair Islami, memberikan optimisme bahwa nilai-nilai keagamaan masih hidup dan tumbuh di tengah masyarakat Aceh Tengah. Ini merupakan modal sosial yang sangat besar untuk membangun daerah yang religius, harmonis, dan berdaya saing.
Karena itu, yang paling penting dari peringatan Tahun Baru Islam bukanlah kemeriahan acaranya, melainkan sejauh mana pesan-pesan yang disampaikan mampu membekas dalam kehidupan sehari-hari. Jika setelah Muharram masyarakat semakin rajin beribadah, semakin mencintai Al-Qur’an, semakin peduli kepada sesama, dan semakin menjaga persatuan, maka saat itulah makna hijrah benar-benar terwujud.
Semoga semangat yang tampak dalam Pawai Religi 1 Muharram 1448 Hijriah di Takengon tidak berhenti di jalan-jalan yang dilalui peserta, tetapi terus berjalan dalam hati dan tindakan kita sepanjang tahun. Sebab, hijrah yang sesungguhnya adalah perubahan yang terus dijaga, bukan hanya diperingati.[]








