Menu

Mode Gelap

Kolom ยท 16 Jun 2026 21:53 WIB ยท

๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—”๐—ธ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ฆ

Penulis: Mahbub Fauzie


 ๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—”๐—ธ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ฆ Perbesar

Oleh: Mahbub Fauzie
(Pernah Menjadi Aktiviis Mahasiswa)

Di setiap zaman, selalu hadir kelompok anak muda yang memiliki idealisme, keberanian, dan semangat untuk memperjuangkan perubahan. Dalam konteks modern, mahasiswa dan aktivis sering disebut sebagai agen perubahan (agent of change) yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal keadilan, menyuarakan aspirasi rakyat, dan mengingatkan penguasa ketika terjadi penyimpangan.

Namun, aktivisme yang hanya bertumpu pada keberanian tanpa landasan moral dan spiritual sering kali kehilangan arah. Karena itu, penting untuk membangun apa yang disebut sebagai aktivisme profetik, yakni aktivisme yang berakar pada nilai-nilai kenabian. Salah satu teladan terbaik dalam hal ini adalah Nabi Musa AS.

Nabi Musa bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga sosok pejuang yang berhadapan langsung dengan kekuasaan yang zalim. Firaun adalah simbol tirani, kesombongan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ia menindas rakyat, menganggap dirinya sebagai tuhan, serta menutup ruang bagi kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Nabi Musa hadir membawa misi pembebasan dan perubahan. Ia tidak memilih diam, meskipun risiko yang dihadapi sangat besar.

Dari kisah Nabi Musa, mahasiswa dan aktivis dapat belajar bahwa keberanian menyuarakan kebenaran merupakan bagian dari panggilan moral. Kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, apalagi oleh kepentingan pribadi. Nabi Musa mengajarkan bahwa perubahan tidak akan pernah lahir dari sikap pasif. Perubahan membutuhkan keberanian untuk berdiri di pihak yang benar, meskipun harus berhadapan dengan kekuatan yang lebih besar.

Namun demikian, keberanian Nabi Musa tidak berdiri sendiri. Sebelum menghadapi Firaun, beliau memanjatkan doa yang sangat terkenal:

“Rabbi syrah li shadri, wa yassir li amri, wahlul ‘uqdatan min lisani yafqahu qauli.”

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.”

Doa ini mengandung pelajaran penting bahwa perjuangan harus dibekali dengan kesiapan mental, keluasan hati, kecerdasan berpikir, dan kemampuan komunikasi yang baik. Aktivis yang hanya mengandalkan semangat tanpa pengetahuan sering kali terjebak dalam sikap reaktif. Sebaliknya, aktivis yang berilmu akan mampu menyampaikan kritik secara argumentatif, objektif, dan solutif.

Aktivisme profetik juga menuntut akhlak dalam perjuangan. Ketika Allah mengutus Musa dan Harun kepada Firaun, Allah memerintahkan mereka untuk berbicara dengan lemah lembut (qaulan layyinan). Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mengajarkan kebencian sebagai metode perjuangan. Kritik boleh keras terhadap persoalan, tetapi tidak harus kasar terhadap manusia. Perbedaan pendapat tidak boleh menghilangkan etika. Aktivisme yang bermartabat adalah aktivisme yang tetap menjaga adab, bahkan kepada pihak yang berbeda pandangan.

Dalam kehidupan kampus dan masyarakat, semangat Nabi Musa relevan untuk menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan, korupsi, penyalahgunaan wewenang, diskriminasi, maupun berbagai persoalan sosial lainnya. Mahasiswa dan aktivis harus menjadi suara nurani masyarakat. Mereka tidak boleh larut dalam pragmatisme yang hanya mengejar keuntungan sesaat. Mereka juga tidak boleh menjadi bagian dari penyebaran kebencian, fitnah, atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Aktivisme profetik berbeda dengan aktivisme yang sekadar mencari popularitas. Aktivisme profetik berangkat dari niat untuk menghadirkan kemaslahatan. Ia tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi. Ia tidak hanya berani berbicara, tetapi juga siap memberi teladan. Ia tidak hanya mengoreksi orang lain, tetapi juga terus melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.

Kisah Nabi Musa mengajarkan bahwa perjuangan perubahan memerlukan keseimbangan antara keberanian, ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan akhlak. Inilah fondasi utama aktivisme profetik. Mahasiswa dan aktivis yang meneladani Nabi Musa tidak akan mudah putus asa ketika menghadapi tantangan, tidak mudah terprovokasi oleh emosi, dan tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat. Mereka akan tetap teguh berjalan di atas nilai-nilai kebenaran.

Di tengah berbagai persoalan bangsa dan tantangan zaman yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan generasi muda yang kritis sekaligus santun, berani sekaligus bijaksana, idealis sekaligus realistis. Generasi yang tidak hanya lantang bersuara, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan harapan. Generasi seperti itulah yang dicontohkan oleh Nabi Musa AS: seorang pejuang kebenaran yang menjadikan iman, ilmu, dan akhlak sebagai fondasi perjuangannya.

Membangun aktivisme profetik pada akhirnya bukan sekadar membangun gerakan, melainkan membangun karakter. Sebab perubahan yang sejati selalu dimulai dari manusia-manusia yang memiliki keberanian untuk memperjuangkan kebenaran sekaligus kerendahan hati untuk tetap tunduk kepada Allah SWT.[]

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 13 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Camat dan Kepala KUA Tawang ,Penyuluh Agama dan para Lurah Angkat Piala Bergilir, Kecamatan Tawang Resmi Sabet Gelar Juara Umum MTQH XVI Kota Tasikmalaya 2026

15 Juni 2026 - 11:11 WIB

Menyelaraskan Kata, Hati, dan Perbuatan

12 Juni 2026 - 00:39 WIB

Otoritas Wali Nikah: Studi Komparatif Madzhab dan Hukum Positif Indonesia

5 Juni 2026 - 16:56 WIB

URGENSI DAN AKSELERASI PUBLIKASI KARYA ILMIAH DI KALANGAN PENGHULU: ANALISIS PENGEMBANGAN PROFESIONALISME BERKELANJUTAN DI KOTA TASIKMALAYA

31 Mei 2026 - 00:41 WIB

Dekonstruksi Budaya Nikah Siri: Edukasi Hukum Pencatatan Perkawinan dan Hak Perlindungan Perempuan-Anak di Kota Tasikmalay

29 Mei 2026 - 17:27 WIB

KUPON KURBAN PALSU

27 Mei 2026 - 20:15 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x