Abstrak
Masjid dalam sejarah Islam bukan sekadar tempat ritual, melainkan episentrum peradaban. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas gerakan “Ekspedisi Masjid” di Kota Tasikmalaya dan membandingkan pergeseran fungsi masjid dari era Nabawi ke era kontemporer. Menggunakan metode deskriptif analitis empiris, penelitian menemukan bahwa keberhasilan ekspedisi masjid di Kota Tasikmalaya sangat bergantung pada aspek keikhlasan dan manajemen profesional. Terdapat diskoneksi fungsional antara Masjid Nabawi yang bersifat multifungsi dengan masjid di Tasikmalaya yang cenderung mengalami “ritualisasi sempit.” Artikel ini merekomendasikan model manajemen inklusif untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai jantung umat.
- INTRODUCTION (Pendahuluan)
Masjid merupakan institusi fundamental dalam peradaban Islam yang diletakkan batu pertamanya oleh Rasulullah SAW sebagai pusat gravitasi umat. Secara historis, masjid bukan sekadar tempat ritualitas shalat, melainkan episentrum bagi pendidikan, dinamika sosial, hingga pengambilan keputusan strategis yang menentukan arah peradaban. Analogi masjid sebagai “jantung” (the heart) umat menegaskan bahwa masjid berfungsi memompa nilai-nilai keimanan dan nutrisi sosial ke seluruh struktur kehidupan masyarakat; jika jantung ini berhenti berdenyut, maka mati pula peradaban umat tersebut.
Namun, realitas kontemporer menunjukkan adanya diskoneksi antara kuantitas bangunan fisik dengan kualitas fungsinya. Di Indonesia, data Kementerian Agama RI (SIMAS) mencatat jumlah masjid dan mushalla telah mencapai lebih dari 700.000 unit, namun indeks kemakmurannya masih terfokus pada aspek idarah (manajemen) dan ri’ayah (fisik), sementara aspek imarah (pemakmuran) sering kali terabaikan. Secara spesifik di lokus Kota Tasikmalaya, yang dikenal sebagai “Kota Santri”, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terdapat lebih dari 1.500 bangunan masjid yang tersebar di 10 kecamatan. Meskipun memiliki kepadatan masjid yang tinggi, angka kemiskinan di Kota Tasikmalaya masih menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Barat (sekitar 11-12% pada tahun 2023/2024), yang mengindikasikan bahwa masjid-masjid tersebut belum berfungsi optimal sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial.
Kondisi ini memicu munculnya urgensi gerakan “Ekspedisi Masjid”, sebuah upaya dakwah aktif untuk mengunjungi, membina, dan menghidupkan kembali fungsi masjid yang mulai meredup. Ekspedisi ini bertujuan memastikan bahwa masjid kembali menjadi pusat aliran spiritual dan penggerak solidaritas sosial masyarakat. Masalah mendasar yang dihadapi saat ini adalah terjadinya “penyempitan makna” masjid dibandingkan dengan era kejayaan Masjid Nabawi. Jika di era Nabawi masjid adalah pusat segalanya, di Kota Tasikmalaya saat ini, masjid cenderung mengalami pengentalan pada aspek ritualitas semata dan kehilangan daya inklusivitasnya terhadap perkembangan zaman.
Berdasarkan urgensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua rumusan masalah utama:
- Bagaimana implementasi dan efektivitas strategi Ekspedisi Masjid di lokus Kota Tasikmalaya dalam upaya revitalisasi fungsi masjid?
- Bagaimana perbedaan fungsional dan sosiologis antara masjid pada zaman Rasulullah SAW (Masjid Nabawi) dengan kondisi masjid di Kota Tasikmalaya pada era kontemporer?
- METHODS (Metode Penelitian)
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis empiris. Pendekatan empiris digunakan untuk melihat fenomena nyata di lapangan melalui observasi gerakan dakwah di Kota Tasikmalaya. Data primer bersumber dari dokumen “Kunci Sukses Ekspedisi Masjid” , sementara data sekunder diperoleh dari literatur buku dan jurnal ilmiah. Analisis dilakukan dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan untuk membedah perbedaan sosiologis antara masjid zaman kenabian dengan kondisi saat ini di Kota Tasikmalaya. .
III. RESULTS AND DISCUSSION (Hasil dan Pembahasan)
- Implementasi Ekspedisi Masjid di Kota Tasikmalaya: Strategi Revitalisasi Dakwah
Berdasarkan pengamatan empiris terhadap gerakan dakwah di Kota Tasikmalaya, “Ekspedisi Masjid” merupakan upaya sistematis untuk mengunjungi dan membina masjid-masjid agar berfungsi optimal. Di Tasikmalaya, gerakan ini tidak sekadar bersifat seremonial, melainkan mencakup pembinaan remaja masjid dan kegiatan sosial yang menyentuh kebutuhan jamaah secara langsung.
Analisis terhadap data lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan gerakan ini di Kota Tasikmalaya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci:
- Keikhlasan sebagai Fondasi Utama: Segala aktivitas ekspedisi di wilayah Tasikmalaya harus dilandasi niat tulus karena Allah SWT untuk melahirkan ketulusan dalam melayani umat .
- Perencanaan yang Kontekstual: Penentuan sasaran masjid di pelosok kecamatan seperti Purbaratu atau Tamansari membutuhkan perencanaan matang agar kegiatan berjalan efektif dan efisien .
- Pendekatan Humanis dan Budaya: Mengingat karakteristik masyarakat Tasikmalaya yang religius-kultural, pendekatan dakwah harus disesuaikan dengan kondisi sosial setempat agar lebih mudah diterima oleh tokoh masyarakat dan ulama lokal .
- Kolaborasi Lintas Sektor: Kerja sama dengan pengurus masjid (DKM) dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat .
- Analisis Komparatif: Masjid Era Nabawi vs. Era Kontemporer di Kota Tasikmalaya
Terdapat perbedaan signifikan secara sosiologis dan fungsional antara model masjid pada masa Rasulullah SAW dengan realitas masjid di Kota Tasikmalaya saat ini.
| Dimensi | Masjid Nabawi (Era Rasulullah SAW) | Masjid di Kota Tasikmalaya (Kontemporer) |
| Cakupan Fungsi | Pusat ibadah, pendidikan, sosial, bahkan pengambilan keputusan strategis. | Mayoritas berfungsi sebagai tempat shalat (ritual) semata. |
| Pusat Peradaban | Menjadi jantung yang memompa nilai-nilai ke seluruh tubuh peradaban. | Mengalami gejala “ritualisasi sempit” di mana aktivitas sosial seringkali terpisah dari agenda masjid. |
| Pemberdayaan | Pusat pemberdayaan ekonomi berbasis zakat dan sedekah. | Pengelolaan dana sosial seringkali belum profesional dan belum berdampak sistemis bagi warga sekitar. |
| Inklusivitas | Menjadi ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat birokrasi yang kaku. | Beberapa masjid cenderung eksklusif atau hanya ramai pada waktu-waktu tertentu saja. |
Analisis ini menunjukkan bahwa masjid di Kota Tasikmalaya perlu dikembalikan maknanya sebagai “jantung” yang memompa kehidupan spiritual dan sosial . Jika fungsi masjid melemah, hal tersebut berdampak langsung pada menurunnya kepedulian sosial dan meningkatnya masalah moral di masyarakat Tasikmalaya .
- Integrasi Dalil Naqli dan Teori Kemakmuran Masjid
Landasan normatif dari Al-Qur’an menegaskan syarat utama dalam memakmurkan masjid:
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah…” (QS. At-Taubah: 18) .
Ayat ini secara empiris di Kota Tasikmalaya diterjemahkan bahwa kemakmuran masjid bukan hanya tentang bangunan fisik yang megah, melainkan tentang kualitas jamaah yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan. Masjid harus menjadi ekosistem yang hidup, di mana denyutnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat melalui langkah nyata yang berkelanjutan .
- Upaya Konkret Transformasi Masjid di Tasikmalaya
Untuk mewujudkan masjid sebagai pusat peradaban di era digital, diperlukan langkah-langkah transformatif:
- Pemberdayaan Remaja Masjid: Melibatkan pemuda Tasikmalaya dalam manajemen masjid agar tercipta regenerasi kepemimpinan yang dinamis .
- Pemanfaatan Teknologi: Penggunaan media sosial dan aplikasi digital untuk menyebarkan dakwah secara lebih luas kepada generasi muda di Kota Tasikmalaya .
- Manajemen Profesional: Pengelolaan masjid harus mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang transparan untuk membangun kepercayaan jamaah .
- CONCLUSION AND SUGGESTIONS (Kesimpulan dan Saran)
Kesimpulan
Ekspedisi Masjid merupakan gerakan dakwah yang krusial untuk merevitalisasi fungsi masjid di Kota Tasikmalaya sebagai pusat kehidupan umat. Meskipun terdapat pergeseran fungsi dibandingkan era Nabawi, prinsip masjid sebagai “jantung” yang memompa nilai spiritual dan sosial tetap relevan jika dikelola secara profesional, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman .
Saran
- Kepada DKM: Diharapkan mampu menciptakan lingkungan masjid yang ramah bagi anak-anak dan remaja agar masjid tetap hidup lintas generasi .
- Kepada Masyarakat: Harus ada kesadaran kolektif bahwa memakmurkan masjid adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pengurus (takmir) saja .
- Kepada Akademisi: Diperlukan penelitian lanjutan mengenai efektivitas teknologi digital dalam meningkatkan transparansi keuangan masjid di Kota Tasikmalaya.
FOOTNOTES (Catatan Kaki)
[^1]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Kunci Sukses Ekspedisi Masjid dan Arti Istilah Masjid sebagai Jantung yang Memompa Darah, (Tasikmalaya: Universitas Islam Tasikmalaya, 2024), hlm. 1. [^2]: Ibid., hlm. 1. [^3]: Al-Qur’anul Karim, QS. At-Taubah: 18. [^4]: Yusuf Al-Qardhawi, Fiqh al-Awlawiyat, (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 56. [^5]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 2. [^6]: Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 102. [^7]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 3. [^8]: M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), Vol. 5, hlm. 480. [^9]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 4. [^10]: Sidi Gazalba, Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1994), hlm. 145. [^11]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 5. [^12]: Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Prenada Media, 2008), hlm. 210. [^13]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 6. [^14]: E. Mulyana, “Transformasi Digital Masjid di Kota Tasikmalaya,” Jurnal Teknologi Informasi Dakwah, Vol. 3, No. 1 (2019), hlm. 25. [^15]: Muhammad Hafizh Fadhl Zamzami, Op. Cit., hlm. 8.
DAFTAR PUSTAKA DAN REFERENSI
- Al-Qur’anul Karim.
- Al-Qardhawi, Yusuf. (2000). Fiqh al-Awlawiyat. Kairo: Maktabah Wahbah.
- Azra, Azyumardi. (2012). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi. Jakarta: Kencana.
- Shihab, M. Quraish. (2002). Tafsir Al-Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
- Syarifuddin, Amir. (2008). Garis-Garis Besar Fiqh. Jakarta: Prenada Media.
- Madjid, Nurcholish. (1992). Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
- Gazalba, Sidi. (1994). Masjid Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
- Ash-Shiddieqy, Hasbi. (1993). Pedoman Shalat. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
- Sabiq, Sayyid. (1983). Fiqh Sunnah. Bandung: Al-Ma’arif.
- Terry, George R. (2010). Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
- Haekal, Muhammad Husain. (2001). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa.
- Mubarak, Zaki. (2008). Sosiologi Agama. Jakarta: UIN Press.
- Engineer, Asghar Ali. (1999). Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
- An-Nahlawi, Abdurrahman. (1995). Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam. Bandung: Diponegoro.
- Kuntowijoyo. (1991). Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.
Jurnal
Zamzami, M. H. F. (2024). “Kunci Sukses Ekspedisi Masjid sebagai Jantung Umat.” Jurnal Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Tasikmalaya.
- Raharjo, S. (2020). “Revitalisasi Fungsi Masjid dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat.” Jurnal Ekonomi Syariah.
- Pratama, A. (2021). “Manajemen Masjid Nabawi sebagai Role Model Pengelolaan Masjid Modern.” Jurnal Studi Islam.
- Mulyana, E. (2019). “Transformasi Digital Masjid di Kota Tasikmalaya.” Jurnal Teknologi Informasi Dakwah.
- Sari, D. P. (2022). “Peran Remaja Masjid dalam Menangkal Radikalisme.” Jurnal Sosiologi Agama.
- Abdullah, T. (2018). “Sejarah dan Eksistensi Masjid di Tanah Sunda.” Jurnal Kebudayaan Islam.
- Fitriani, L. (2023). “Efektivitas Program Bersih-Bersih Masjid (BBM) di Tasikmalaya.” Jurnal Pengabdian Masyarakat.
- Hidayat, R. (2021). “Analisis Manajemen Imarah, Idarah, dan Ri’ayah Masjid.” Jurnal Administrasi Publik.
- Kusuma, W. (2020). “Masjid sebagai Pusat Literasi Masyarakat di Era Disrupsi.” Jurnal Pendidikan Islam.
- Wahyuni, S. (2022). “Model Pemberdayaan Ziswaf Berbasis Masjid.” Jurnal Keuangan Syariah.








