Menu

Mode Gelap

Opini · 1 Jul 2026 17:16 WIB ·

Pernikahan Bukan Sekadar Sah, tetapi Siap Menjalani Amanah

Penulis: Mahbub Fauzie


 Pernikahan Bukan Sekadar Sah, tetapi Siap Menjalani Amanah Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah

Pernikahan merupakan ibadah yang sangat mulia sekaligus amanah besar dari Allah SWT. Dalam Islam, akad nikah bukan hanya menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, tetapi juga menjadi awal lahirnya sebuah keluarga yang diharapkan menjadi sakinah, mawaddah, wa rahmah. Karena itu, pernikahan tidak cukup dipersiapkan dari sisi administrasi, pesta, atau seremoninya semata. Yang jauh lebih penting adalah mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan rumah tangga.

Sayangnya, masih banyak yang menganggap pernikahan sebagai tujuan akhir. Ketika akad telah terlaksana dan resepsi selesai digelar, seolah semua perjuangan telah usai. Padahal, justru pada saat itulah perjalanan sesungguhnya dimulai. Kehidupan rumah tangga menghadirkan berbagai dinamika yang menuntut kedewasaan, kesabaran, ilmu, kemampuan berkomunikasi, dan komitmen untuk terus bertumbuh bersama.

Cinta memang menjadi alasan seseorang memilih pasangan hidup. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah pernikahan. Rumah tangga membutuhkan kesiapan mental, emosional, spiritual, sosial, bahkan ekonomi. Pasangan yang memahami hak dan kewajibannya, mampu mengelola perbedaan, serta saling mendukung dalam berbagai keadaan akan lebih siap menghadapi tantangan kehidupan berkeluarga.

Dalam menjalankan tugas sebagai penghulu, tidak sedikit persoalan rumah tangga yang bermula dari hal-hal sederhana. Perselisihan sering muncul bukan karena masalah yang besar, melainkan karena komunikasi yang buruk, ego yang sulit dikendalikan, kurangnya saling memahami, persoalan keuangan, campur tangan pihak lain, hingga perbedaan cara mendidik anak. Masalah-masalah tersebut sebenarnya dapat diselesaikan apabila pasangan memiliki kemampuan berdialog, saling mendengar, dan mengutamakan musyawarah.

Karena itu, yang merusak rumah tangga sesungguhnya bukan semata-mata masalah yang datang, melainkan cara menyikapi masalah tersebut. Tidak ada keluarga yang bebas dari ujian. Keluarga yang harmonis bukanlah keluarga tanpa konflik, tetapi keluarga yang mampu menyelesaikan konflik dengan bijaksana tanpa saling menyakiti.

Fenomena lain yang juga patut menjadi perhatian adalah menikah tanpa persiapan yang memadai. Ada yang menikah hanya karena merasa usia sudah cukup, mengikuti teman, dorongan keluarga, atau keadaan tertentu. Akibatnya, setelah menikah muncul berbagai kesulitan karena belum siap memikul tanggung jawab, belum matang secara emosional, belum memiliki kemandirian ekonomi, serta belum memahami peran sebagai suami maupun istri.

Lebih memprihatinkan lagi ketika pernikahan dilakukan pada usia yang terlalu muda tanpa diiringi kematangan psikologis. Emosi yang masih labil, kemampuan mengambil keputusan yang belum matang, serta keterampilan menyelesaikan konflik yang masih terbatas dapat meningkatkan risiko pertengkaran, kesulitan ekonomi, hingga perceraian. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya harus mengorbankan pendidikan maupun cita-cita masa depan.

Oleh sebab itu, usia bukan satu-satunya ukuran kesiapan menikah. Yang lebih penting adalah kematangan berpikir, kemampuan bertanggung jawab, kesiapan mental, serta kesediaan untuk terus belajar menjalani kehidupan rumah tangga.

Lantas, bagaimana membangun keluarga yang kokoh?

Pertama, membangun komunikasi yang sehat. Biasakan mendengarkan pasangan, berbicara dengan santun, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog, bukan dengan kemarahan.

Kedua, belajar mengelola emosi. Setiap pasangan pasti pernah berbeda pendapat. Namun, perbedaan tidak harus berakhir dengan pertengkaran apabila masing-masing mampu mengendalikan diri.

Ketiga, terus belajar dan bertumbuh bersama. Tidak ada pasangan yang sempurna. Pernikahan adalah proses saling melengkapi, bukan saling menuntut kesempurnaan.

Keempat, mengelola keuangan keluarga secara bijaksana. Keterbukaan dalam pengeluaran, hidup sederhana, serta menghindari utang konsumtif akan membantu menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.

Kelima, menjaga kesehatan psikologis keluarga. Rumah hendaknya menjadi tempat yang nyaman untuk pulang, tempat setiap anggota keluarga merasa dihargai, didengar, dan dicintai.

Di era digital, tantangan keluarga juga semakin kompleks. Penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi kualitas komunikasi dalam keluarga. Jangan membandingkan kehidupan rumah tangga sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial. Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berdialog, beribadah bersama, saling menghargai, dan memperkuat ikatan emosional dalam keluarga.

Apabila menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan, jangan ragu meminta pendampingan kepada penghulu, penyuluh agama, konselor keluarga, atau tokoh agama. Mencari solusi merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangga.

Inilah mengapa Bimbingan Perkawinan (Bimwin) di KUA menjadi sangat penting. Bimwin bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi sebelum menikah, tetapi merupakan bekal agar calon pengantin memahami dinamika perkawinan, mampu mengelola psikologi keluarga, mengenal hak dan kewajiban, serta memiliki keterampilan menghadapi berbagai tantangan kehidupan rumah tangga.

Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu menghadapi setiap ujian dengan ilmu, komunikasi yang baik, kesabaran, dan keimanan kepada Allah SWT. Pernikahan yang kokoh tidak dibangun hanya dengan rasa cinta, tetapi juga dengan kesiapan diri, komitmen, dan kesungguhan menjalankan amanah hingga akhir hayat.[]

Previous Post
5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 25 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Waktu Tak Bisa Terulang

1 Juli 2026 - 13:31 WIB

Mempersiapkan Pernikahan, Bukan Sekadar Mempersiapkan Hari Pernikahan

29 Juni 2026 - 17:46 WIB

Detak Jantung di Balik Jabat Tangan Akad Saat Seorang Ayah Melepas Putrinya Menikah

29 Juni 2026 - 11:08 WIB

Mengelola Keuangan Keluarga, Bekal Penting Menuju Rumah Tangga yang Sakinah

28 Juni 2026 - 18:24 WIB

Jangan Sampai Pasangan Tertekan dan Sakit karena Sikap Kita

27 Juni 2026 - 20:30 WIB

Sehari dalam Pengabdian: Dari Ladang, Rumah Duka, hingga Akad Nikah

27 Juni 2026 - 15:52 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x