Pernikahan selalu dicitrakan sebagai sebuah puncak perayaan cinta yang benderang. Kamera-kamera sibuk menangkap binar bahagia di mata sepasang pengantin, dekorasi bunga-bunga segar merekah, dan gaun-gaun indah berkejaran dengan tawa para tamu. Namun, di tengah riuh rendahnya selebrasi itu, ada satu episentrum sunyi yang jarang tersentuh oleh perhatian. Di sudut ruang sakral itu, duduk seorang pria paruh baya dengan guratan-guratan halus di wajahnya. Ia adalah sang wali nikah, seorang ayah yang sedang bersiap menyerahkan separuh jiwanya kepada laki-laki lain. Di balik ketegaran sikapnya dan setelan busana terbaik yang ia kenakan, ada badai emosional yang berkecamuk hebat. Di balik wibawa yang ia pertahankan, seorang ayah sesungguhnya adalah sosok yang paling membutuhkan penguatan spiritual dan mental dalam momen tersebut.
Menjadi wali nikah bukanlah sekadar menunaikan ritual legalitas hukum atau melafalkan beberapa baris kalimat di depan penghulu. Bagi seorang ayah, momen ijab kabul adalah sebuah garis batas eksistensial yang memisahkan dua ruang waktu dalam hidupnya. Ketika ia duduk berhadapan dengan calon menantunya, memori sang ayah kerap kali melompat mundur secara acak ke masa lalu. Ia kembali melihat bayi merah yang dulu pertama kali didekapnya dengan tangan bergetar, mendengar renyah tawa bocah kecil yang selalu berlari menyambutnya di pintu rumah saat ia pulang kerja, hingga mengingat setiap air mata sang putri yang pernah ia seka dengan ibu jarinya. Kini, tangan yang sama itu, tangan yang telah bekerja keras puluhan tahun untuk memastikan putrinya tumbuh tanpa kekurangan, kini harus membuka genggamannya, merelakan jemari sang putri berpindah ke jemari tangan lelaki lain. Ada rasa kehilangan yang merayap begitu dingin di tengah hangatnya rasa bangga, sebuah paradoks rasa yang teramat getir namun harus ia lalui dengan senyuman.
Beban psikologis yang dipikul seorang wali juga berlapis oleh kesadaran teologis yang teramat berat. Mengucapkan kalimat “Saya nikahkan dan saya kawinkan…” adalah momen penyerahan estafet amanah yang paling suci di hadapan Tuhan. Selama belas atau puluh tahun, dialah benteng utama yang melindungi putrinya dari badai dunia, dialah yang menanggung setiap dosa dan khilaf sang anak di pundaknya. Saat akad berlangsung, seluruh tanggung jawab itu berpindah dalam satu tarikan napas. Di saat semua orang menuntutnya untuk tampil tenang, berwibawa, dan tanpa celah sebagai kepala keluarga, hati sang ayah kerap kali dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan sunyi yang mencemaskan: Apakah lelaki di hadapanku ini akan memperlakukannya dengan hormat saat amarah datang? Apakah ia akan tetap memeluk putriku ketika dunia sedang tidak ramah padanya? Di titik rapuh inilah, seorang ayah membutuhkan dukungan emosional yang massif, yaitu baik berupa genggaman tangan yang menenangkan dari istrinya, maupun tatapan penuh keyakinan dari sang putri yang seolah berbisik, “Ayah, engkau telah berhasil mendidikku.”
Tragedi emosional yang sering terjadi adalah bagaimana kebudayaan kita menuntut seorang pria untuk selalu menjadi karang yang tak boleh retak. Ayah tidak dikondisikan untuk menangis di depan publik; mereka harus kuat, tegar, dan menjadi pilar penyangga. Padahal, menahan bendungan air mata di saat hati sedang koyak oleh rasa haru dan pelepasan adalah siksaan batin yang luar biasa. Oleh karena itu, penguatan untuk seorang wali bukan hanya dekorasi pemanis, melainkan sebuah kebutuhan yang esensial. Sang ayah perlu diyakinkan bahwa melepaskan sang putri bukan berarti ia kehilangan hak untuk mencintai; ini hanyalah sebuah transisi bentuk cinta. Dari cinta yang menjaga dalam dekapan, menjadi cinta yang mengawal melalui baris-baris doa di sepertiga malam.
Bagi setiap calon pengantin wanita, sebelum hari besar itu tiba, atau di detik-detik menjelang langkahmu menuju pelaminan, tengoklah sejenak ke arah ayahmu. Sadarilah bahwa hari pernikahanmu adalah hari di mana ia menyerahkan salah satu mahakarya terbesar dalam hidupnya. Luangkan waktu untuk duduk di dekatnya, genggam tangannya yang mungkin mulai kasar dan bergetar, tatap matanya yang mulai meredup, dan sampaikan untaian terima kasih yang paling tulus dari lubuk hatimu. Kuatkan hatinya yang sedang berjuang melepaskan. Katakan padanya bahwa posisinya sebagai cinta pertama dalam hidupmu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, bahkan oleh suami yang akan mendampingimu kelak. Sebab, ketika kalimat “Sah” bergema dan air mata sang ayah akhirnya jatuh menetes, Ia tidak sedang membuang putrinya, Ia hanya sedang melatih jiwanya sendiri untuk mencintai dengan cara yang paling tinggi dan paling mulia, yaitu mencintai dengan keikhlasan untuk melepaskan pergi.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








