Menu

Mode Gelap

Opini · 1 Jul 2026 13:31 WIB ·

Waktu Tak Bisa Terulang

Penulis: Mahbub Fauzie


 Waktu Tak Bisa Terulang Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie

Ada satu hal yang tidak pernah bisa dibeli, dipinjam, diwariskan, ataupun diulang oleh siapa pun di dunia ini: waktu. Harta yang hilang masih mungkin dicari. Kesehatan yang menurun terkadang masih bisa dipulihkan.

Namun satu detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Tidak ada teknologi yang mampu memutarnya. Tidak ada kekuasaan yang dapat menghentikannya. Tidak ada kekayaan yang sanggup menebusnya.

Ironisnya, justru sesuatu yang paling berharga ini sering kita habiskan untuk hal-hal yang paling tidak berharga. Anak-anak muda menghabiskan berjam-jam menatap layar gawai, larut dalam permainan, hiburan, dan media sosial.

Waktu habis untuk mengikuti kehidupan orang lain, sementara cita-cita sendiri dibiarkan tertinggal. Mereka berkata, “Masih muda, masih banyak waktu.” Padahal tidak ada seorang pun yang pernah menerima surat pemberitahuan kapan usianya akan berakhir. Kuburan tidak pernah memilih antara yang tua atau yang muda.

Banyak pelajar menunda belajar karena merasa ujian masih lama. Banyak mahasiswa menunda menyelesaikan tugas karena merasa tenggat masih panjang. Banyak pemuda menunda bertobat karena merasa kematian masih jauh. Padahal, penundaan yang terus-menerus sering berubah menjadi penyesalan yang tidak pernah selesai.

Lihatlah mereka yang telah kehilangan ayah atau ibunya. Betapa banyak yang berkata sambil menangis, “Seandainya dulu aku lebih sering pulang. Seandainya dulu aku lebih sering menelepon. Seandainya dulu aku lebih banyak mendengar nasihatnya.” Namun penyesalan selalu datang setelah kesempatan tertutup. Kuburan tidak pernah menjawab kerinduan anak yang terlambat berbakti.

Bagi para suami dan istri, jangan sampai seluruh tenaga habis untuk mencari nafkah, sementara pasangan kekurangan kasih sayang. Rumah tangga tidak hanya berdiri di atas uang, tetapi juga di atas perhatian, komunikasi, dan kebersamaan. Anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya sekolah, tetapi juga pelukan, doa, teladan, dan kehadiran ayah serta ibunya.

Jangan sampai suatu hari anak-anak berkata, “Ayah memang bekerja keras untuk kami, tetapi kami hampir tidak pernah memiliki waktu bersamanya.” Kalimat seperti itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan luka yang sangat dalam.

Bagi para ASN, pejabat, dan siapa pun yang diberi amanah, ingatlah bahwa jabatan hanyalah titipan. kredit, penghargaan, atau penilaian kinerja. Ketika masa pensiun tiba, ruang kerja akan ditempati orang lain, tanda tangan tidak lagi ditunggu, dan jabatan tinggal kenangan. Yang tetap hidup hanyalah amal, integritas, dan doa dari orang-orang yang pernah kita layani.

Ada pula yang sibuk membangun rumah, tetapi lupa membangun keluarga. Sibuk mempercantik kendaraan, tetapi lalai memperbaiki akhlak. Sibuk memperluas jaringan pergaulan, tetapi memutus silaturahmi dengan saudara sendiri. Sibuk mengejar dunia hingga lupa menyiapkan bekal menuju akhirat.

Padahal hidup ini tidak diukur dari seberapa sibuk kita, melainkan dari seberapa bermakna waktu yang kita gunakan.

Allah Swt. bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur’an. Itu menunjukkan betapa agung nilainya di sisi-Nya. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang. Selama keduanya masih ada, kita merasa semuanya akan berlangsung selamanya. Ketika salah satunya hilang, barulah kita sadar bahwa kita telah menyia-nyiakan karunia yang begitu besar.

Karena itu, pilihlah dengan siapa kita menghabiskan waktu. Dekatilah orang-orang yang membuat iman bertambah, ilmu berkembang, akhlak membaik, dan semangat beramal semakin kuat. Jangan habiskan usia bersama lingkungan yang mengajak kepada kemalasan, ghibah, permusuhan, kebencian, dan kesia-siaan. Lingkungan yang buruk bukan hanya menghabiskan waktu, tetapi juga dapat menghabiskan masa depan.

Luangkan waktu untuk orang tua selagi mereka masih mampu mendengar suara kita. Duduklah bersama pasangan tanpa sibuk dengan telepon genggam. Bermainlah dengan anak-anak sebelum mereka tumbuh dewasa dan memiliki dunianya sendiri. Kunjungilah keluarga, sahabat, dan tetangga sebelum kabar yang datang bukan lagi undangan silaturahmi, melainkan berita duka.

Jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda mengucapkan terima kasih. Jangan menunda berbuat baik. Jangan menunda bersedekah. Jangan menunda salat. Jangan menunda bertobat. Sebab tidak ada seorang pun yang mampu memastikan bahwa esok hari masih menjadi miliknya.

Tidak ada batu nisan yang menuliskan berapa banyak rapat yang kita hadiri, berapa besar gaji yang kita terima, atau berapa banyak penghargaan yang kita kumpulkan. Yang dikenang adalah akhlak kita, manfaat yang kita tinggalkan, cinta yang kita berikan, dan doa yang terus mengalir karena kebaikan yang pernah kita lakukan.

Waktu tidak pernah menunggu siapa pun. Ia terus berjalan, sementara usia kita terus berkurang. Setiap matahari terbit sesungguhnya bukan hanya menambah hari, tetapi juga mengurangi jatah hidup kita.

Maka, sebelum penyesalan menjadi teman di masa tua, sebelum tubuh melemah, sebelum orang-orang tercinta pergi, dan sebelum nama kita dipanggil untuk menghadap Allah Swt., gunakanlah setiap detik untuk beribadah, membahagiakan keluarga, menolong sesama, menjaga amanah, serta meninggalkan jejak amal saleh yang terus mengalir. Sebab ketika waktu benar-benar habis, yang tersisa bukanlah kesempatan, melainkan pertanggungjawaban.[]

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 3 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Mempersiapkan Pernikahan, Bukan Sekadar Mempersiapkan Hari Pernikahan

29 Juni 2026 - 17:46 WIB

Detak Jantung di Balik Jabat Tangan Akad Saat Seorang Ayah Melepas Putrinya Menikah

29 Juni 2026 - 11:08 WIB

Mengelola Keuangan Keluarga, Bekal Penting Menuju Rumah Tangga yang Sakinah

28 Juni 2026 - 18:24 WIB

Jangan Sampai Pasangan Tertekan dan Sakit karena Sikap Kita

27 Juni 2026 - 20:30 WIB

Sehari dalam Pengabdian: Dari Ladang, Rumah Duka, hingga Akad Nikah

27 Juni 2026 - 15:52 WIB

Menghindari Sikap Summun Bukmun dalam Pelayanan Publik

26 Juni 2026 - 10:38 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x