Belakangan ini, linimasa media sosial kita dibanjiri oleh tren bertajuk “Marry Is Scary”. Bukan tanpa alasan, potongan video tentang KDRT, perselingkuhan yang dilakukan secara sadar, hingga beban ekonomi yang mencekik setelah resepsi selesai, menjadi santapan harian. Bagi Gen Z, pernikahan bukan lagi sekadar “gerbang menuju kebahagiaan”, melainkan sebuah perjudian besar yang taruhannya adalah “kesehatan mental dan masa depan”.
Disisi lain, kita sering mendengar doktrin agama dan nilai tradisional yang mengajarkan bahwa menikah adalah penyempurna agama, pembuka pintu rezeki, dan solusi dari segala godaan. Lantas, mengapa terjadi gap (jarak) yang begitu lebar antara apa yang diajarkan di mimbar dengan apa yang disaksikan di linimasa media sosial?
- Romantisasi Menikah vs Realita Kehidupan
Selama puluhan tahun, narasi tentang pernikahan sering kali terlalu diromantisasi. Kita diajarkan bahwa “niat baik akan dimudahkan.” Namun, Gen Z adalah generasi yang paling terpapar pada data dan realita pahit. Mereka melihat bahwa niat baik saja tidak cukup untuk membayar cicilan rumah atau biaya pendidikan anak yang melambung.
Ketika doktrin agama menekankan pada aspek spiritual, Gen Z justru sedang bergulat dengan realita sosiologis: Ketidaksiapan Mental: Banyak pasangan yang menikah hanya karena tekanan umur, bukan karena kematangan emosi. Hal tersebut diperparh dengan adanya “tuntutan” bagi perempuan untuk berkarir sekaligus menjadi manajer rumah tangga yang sempurna tanpa dukungan sistemik.
- Agama Sebagai Kompas, Bukan Penutup Mata
Fenomena Marry Is Scary sebenarnya bukan bentuk perlawanan terhadap agama, melainkan sebuah alarm kritis. Banyak anak muda mulai menyadari bahwa menjalankan perintah agama dalam pernikahan harus dibarengi dengan pemahaman logis.
Menikah memang “membuka pintu rezeki,” tetapi bukankah agama juga mengajarkan untuk “mengikat unta terlebih dahulu sebelum bertawakal?”. Artinya, kesiapan finansial dan kematangan karakter adalah bentuk ikhtiar yang wajib, bukan opsional. Ketakutan yang dirasakan Gen Z sebenarnya adalah bentuk tanggung jawab agar mereka tidak menciptakan “lingkaran setan” kemiskinan atau trauma baru bagi generasi berikutnya.
Nabi Muhammad pun telah memberikan kita “kompas” tentang kapan hendaknya kita menikah. Mungkin kalau di era ini, Nabi seakan memberikan nasihat kepada “Gen Z” agar menikah Ketika sudah ba’ah (mampu). Mampu dalam hadis tersebut menurut ulama’ bukan hanya kesiapan finansial belaka, tapi kematangan karakter dan kesiapan mental.
- Media Sosial: Kaca Pembesar Ketakutan
Kita harus jujur bahwa algoritma media sosial turut berperan. Kasus perceraian yang tragis mendapatkan engagement lebih tinggi daripada cerita pernikahan yang stabil dan tenang. Hal ini menciptakan persepsi bahwa dunia pernikahan adalah medan perang tanpa harapan. Di sinilah letak tantangannya: Bagaimana kita membedakan antara kewaspadaan yang sehat dan kecemasan yang berlebihan?
- Sebuah Refleksi Dari Fenomena
Pernikahan mungkin memang menakutkan jika kita hanya melihatnya dari kacamata trauma orang lain. Namun, disisi lain juga bisa menjadi ruang bertumbuh yang paling indah jika dibangun di atas fondasi kesadaran, bukan sekadar mengikuti tuntutan sosial atau doktrin yang ditelan mentah-mentah.
Jangan sampai kita takut menikah hanya karena tren, tapi jangan pula terburu-buru menikah hanya karena takut dianggap tidak religius atau takut dicap “telat”. Karena pada akhirnya, yang menjalani malam-malam setelah pesta usai adalah kamu, bukan para komentator di media sosial.
Bagi para penghulu, perlu untuk membaca fenomena ini dengan tepat. Fenomena seperti ini menuntut penghulu untuk berperan aktif. Bagaiamana caranya? Caranya ialah mempromosikan pernikahan berdampingan dengan memberikan edukasi “kesiapan menikah”. Terlebih, banyak gen Z yang awam mengenai manajemen konflik keluarga, fikih pernikahan, manajemen keuangan keluarga dan lain sebagainya.
Akhir kata, pertanyaannya sekarang bukan lagi “Kapan kamu menikah?”, melainkan: “Sudahkah kita menjadi manusia yang cukup selesai dengan diri sendiri sebelum memutuskan untuk hidup bersama orang lain?”








