Menu

Mode Gelap

Kolom · 15 Mei 2026 10:08 WIB ·

Ikhtiar Menjadi Penghulu yang Penulis

Penulis: Deni Firman Nurhakim


 Ikhtiar Menjadi Penghulu yang Penulis Perbesar

Bangsa Indonesia lebih dikenal sebagai bangsa dengan tradisi lisan (budaya oral) yang kuat daripada tradisi tulis (budaya literal). Klaim tersebut ditunjang oleh fakta bahwa sejak dahulu di negeri ini pengetahuan, sejarah, dan nilai-nilai budaya banyak disampaikan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan. Sehingga lebih mudah menemukan orang yang suka berbicara daripada menulis.

Indikasi lainnya, sekalipun di tahun 2025 jumlah judul buku yang diterbitkan di Indonesia tertinggi di ASEAN, yakni lebih dari 135.000 judul pertahun (World Population Review, 2025), namun tingkat kegemaran membaca rakyat Indonesia tidak berbanding lurus dengan jumlah publikasi tersebut, melainkan berada di peringkat ketiga se-ASEAN (5,91 buku/tahun atau setara dengan 129 jam pertahun), di bawah Singapura dan Thailand (GoodStats.id, 26 Desember 2024).

Padahal, tingginya minat membaca suatu bangsa berpengaruh banyak pada budaya tulis mereka. Karena kunci utama menulis adalah banyak membaca (HAMKA, 2015:80). Baik membaca dalam pengertian sempit (tersurat) seperti membaca buku, jurnal, majalah, koran, dan media lainnya; maupun membaca dalam arti luas (tersirat) seperti membaca alam, pengalaman, dan sebagainya.

Kuatnya tradisi lisan sebagaimana tergambar di atas juga melanda umumnya ASN, tak terkecuali penghulu. Lebih mudah menemukan penghulu yang pandai merangkai kata lewat pidato/ceramah daripada melalui tulisan. Hal itu bisa terlihat dari minimnya jumlah karya tulis buah pena penghulu yang dimuat di media massa, apalagi yang diterbitkan dalam bentuk buku.

***

Menulis itu (Sebenarnya) Mudah

Membaca pengalaman para penulis dunia (Camus, et.al, 2016), bila disederhanakan, tips menulis itu hanya tiga: Pertama, ada kemauan; Kedua, banyak membaca; dan Ketiga, mulai menulis. Jadi, sangat keliru kalau ada yang beranggapan kemampuan menulis itu adalah 100 persen bakat. Menurut William Faulkner, penulis kenamaan asal Amerika Serikat, 90 persen kemampuan penulis dihasilkan lewat pembelajaran, yaitu latihan menulis. Hanya 10 persen saja yang terkait dengan faktor bakat. Bahkan menurut Putu Wijaya, salah seorang penulis ternama Indonesia, faktor bakat berpengaruh tak lebih dari 5 persen. Itu berarti faktor bakat tidak cukup dominan mengarahkan seseorang menjadi penulis atau tidak. Justru faktor pembelajaranlah yang cukup dominan berpengaruh.

Terkait dengan hal di atas, Mohamad Sobary, seorang kolumnis dan budayawan, dalam sebuah kesempatan kursus menulis di akhir tahun 90-an pernah menyatakan, “belajar menulis itu ibarat belajar berenang. Kalau mau cepat bisa berenang mulailah nyebur ke air dan coba berenang. Begitu pula, kalau mau cepat bisa menulis, segeralah menulis dan teruslah menulis. Karena, betapapun seringnya kita mengikuti kegiatan kursus menulis atau membaca buku-buku teori menulis, hasilnya akan nihil bila kita tidak segera menulis”. Singkatnya, menulis itu sebenarnya mudah. Asalkan ada kemauan dan … sedikit (saja) paksaan.

 

Tips Menulis

Tidak sedikit penulis pemula yang memutuskan berhenti menulis karena sering mengalami kehabisan kata-kata (writer’s block). Padahal, orang yang sudah terbiasa menulis pun adakalanya nge-blank saat menulis.

Jadi, Tips Pertama, santai saja bila saat mulai menulis tersendat-sendat. Penulis profesional pun kalau sedang macet dalam menuangkan ide, ya… buntu. Setidaknya, demikian pengakuan Imam B. Prasodjo (Kolumnis dan Sosiolog) kepada penulis dalam suatu kesempatan kuliah di tahun 2002. Saat menulis nge-blank, rehat saja sejenak atau beralih ke aktifitas lain dulu.

Tips Kedua, supaya tidak sering kehabisan kata-kata, disarankan bagi penulis pemula untuk membuat ‘semacam outline‘. Disebut ‘semacam outline‘, karena memang pembuatannya tidak harus sama dengan outline seperti dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Yang terpenting, ada gambaran alur tulisan yang hendak dibuat: topiknya apa, pembukaannya bagaimana, isinya seperti apa, lalu akhirnya bagaimana.

Lantas, bagaimana supaya tulisan kita tidak kering, kaku, dan membosankan? Jawabannya adalah Tips Ketiga, saat menulis selain menggunakan logika, libatkan juga perasaan. Karena kalau semata-mata logika, tulisan kita akan terasa seperti himpunan rumus: kering dan rumit. Begitu pula, kalau hanya perasaan, tulisan akan kehilangan sisi logisnya. Alhasil, menulislah dengan hati.

***

Alaa kulli haal, buang jauh-jauh alasan klise ‘tidak bisa menulis’. Karena faktanya, setiap penghulu pernah menulis, setidaknya menulis pesan di aplikasi WhatsApp. Bahkan, kalau mau ditambahkan fakta-faktanya, bukankah penghulu juga pernah menulis makalah, skripsi, laporan kinerja, proposal kegiatan, dan tulisan lainnya?!

Masihkah penghulu akan berlindung di balik kata-kata “tidak bisa menulis” saat peluang untuk lebih luas menyapa umat lewat menulis terbuka lebar? Padahal, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Jadi, ayo jangan hanya menjadi pembaca tulisan orang lain saja. Mulailah menulis sejak sekarang, agar tidak hilang dari peredaran.

Wallahua’lam bis showab.

*) Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Karawang Timur, Kantor Kemenag Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Camus, Albert, et.al, Menulis itu Indah: Pengalaman Para Penulis Dunia, Yogyakarta: Octopus, 2016, Cet. 1

HAMKA, Kenang-Kenangan Hidup, Buku Dua, Jakarta: Balai Pustaka, 2015, Cet. 1

93 Tahun Pramoedya Tetap Abadi dalam Karya, Artikel dalam blog.mizanstore.com, diakses pada 13 Mei 2026

World Population Review, Global Book Powerhouses: Countries That Publish The Most Books, Seasia Stats, 22 Juli 2025

www.GoodStats.id, 26 Desember 2024

 

 

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 12 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

KIAT SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH (8)

13 Mei 2026 - 09:03 WIB

Kontekstualisasi Hukum Kurban: Analisis Integratif Bahtsul Masail, Ormas Islam, dan Maqashid Syariah

12 Mei 2026 - 23:33 WIB

Benarkah Dosa Istri Ditanggung Suami?

12 Mei 2026 - 09:20 WIB

DIBERI AMANAT HARUS AMANAH

11 Mei 2026 - 23:17 WIB

Tanggungjawab Amanah

DOSA ORANG TUA DI TANGGUNG ANAK

11 Mei 2026 - 21:33 WIB

KIAT SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH (7)

11 Mei 2026 - 06:45 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x