KIAT SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH (8)
Indikator keluarga harmonis dalam Islam tampak sederhana, namun kenyataannya tidak seperti itu. Untuk mewujudkannya, seluruh anggota keluarga harus bekerja sama, khususnya bagi suami dan istri. Hal yang paling pertama dan utama sebelum mewujudkan keluarga harmonis dalam Islam yakni niat melakukan pernikahan demi mengejar ridho Allah SWT. Niat membentuk keluarga karena ibadah menjadi unsur yang sangat penting dalam Islam. Penerapan hal ini pun dapat dilakukan sejak sebelum meresmikan hubungan di pelaminan. Dengan melakukan proses secara Islami, upaya dalam membentuk keluarga sesuai syariat Islam juga akan lebih mudah. Sebab Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi siapa pun mereka yang taat kepada-Nya.
Untuk mewujudkan keluarga harmonis, anggota keluarga harus bahu-membahu, serta memenuhi kewajiban masing masing, ada banyak tips tips untuk mewujudkannya antara lain:
Terbuka Antara Suami Istri
“En …zain, masih suka ngehubungin loe nggak, kalau sehari-hari? Soalnya kalau suami gue itu jarang banget, lho. semakin lama usia pernikahan gue sama suami, gue ngerasa suami gue tenggelam dengan kesibukannya sendiri. Padahalkan telpon dari dia itu gue butuhin,” obrolan itu terdengar di suatu sore saat bertemu ibu eni dengan temannya, Nisa. Pertanyaan mengenai hal ini ketika mereka sedang ngopi bersama. Komunikasi (ngobrol) dengan suami memang sebuah keharusan. Sayangnya seiring berjalannya waktu, terlebih usia pernikahan semakin matang, komunikasi (ngobrol) sering kali disepelekan.
Tidak sedikit pasangan yang memilih mendiamkan masalah karena berpikir hanya membuat suasana nggak enak dan memicu terjadinya konflik. Padahal dibiarkan saja dan tidak dibicarakanlah yang akan menjadi konflik, itu ibarat bom waktu suatu saat bisa saja meledak. Pembicaraan bersama antara suami istri dari hati ke hati tentu akan sangat menyenangkan dan bisa membuat hubungan lebih hangat.
“pagi ia berangkat setelah saya siapkan semua keperluannya sampe waktunya ia pulang, tak ada kabar tak ada WA apalagi telfon” lanjut bu nisa “hinnga kadang kadang di rumah itu hanya seperti menyelesaikan tugas aja“ lanjutnya. Suami bu nisa bukan tipe laki laki yang banyak omong. Orangnya pendiam yang hanya bunyi jika di tegur. Tapi, bukan berarti suami istri itu tertutup, jarang ngobrol, jarang berbagi pekerjaan.
Sebagai seorang istri carilah kesukaan suami atau hobbinya barangkali dengan membicarakan olah raga membicarakan makanan kesukannya atau mungkin membicarakan bonus bonus dan hal krusial di tempat kerjanya. Dengan begitu, suami istri itu bisa update mengenai progress pekerjaan dan saling support dengan keadaan rumah tangga. Obrolan tentang masalah keluarga tidak akan pernah habisnya, bukan hanya masalah anak tetapi menyangkut keluarga besar. Dengan mengetahui situasi hubungan dengan keluarga besar, hingga latar belakang pola asuh keluarga besar, istri akan bisa lebih memahami sikap suami, atau seorang suami akan lebih bisa memahami sikap istri. Atau membicarakan hal hal ‘konyol’, yang membuat pasangan suami isrti itu tertawa lepas.
“Hendra lelaki yang bisa bikin gue tertawa lepas dan jadi diri sendiri,” jawab yuli temannya bu nisa yang duduk di samping bu eni, setelah di tanya bu nisa dengan pertanyaan, “Apa, sih, yang bikin loe yakin nikah dengan Hendra?”. “ dan sampai sekarang itu masih berlanjut “ sambung bu yuli. Jawaban yang terlalu klise tapi, memang keadaan yang seperti nilah yang membuat keluarga mereka saling terbuka dan saling bertanya kabar. Kuncinya, mereka tidak pernah malu untuk membicarakan hal konyol bahkan yang sifatnya memalukan yang pernah terjadi. Tertawa lepas bersama pasangan itu sangat menyenangkan membuat keluarga itu tenteram (sakinah) cinta mereka semakin membara (mawaddah) suamipun tenang bekerja di luar rumah mendapatkan rezeki yang halal dan baik (wa rohmah).
Hal hal yang tidak nyaman pun tidak dirasakan, suami istri menjadi rileks, karena tidak ada yang ditutupi diantara keduanya sehingga suami istri lebih enak membicarakan hal-hal yang sifatnya ‘berat’ dengan mengutarakan kekhawatiran masing-masing. Kalau ada hal hal yang belum terselesaikan keduanya akan mencari jalan keluarnya bersama sama. Bahkan masalah seks sekalipun. Karena itu salah satu kunci yang yang membuat rumah tannga (pernikahan) bahagia. Nggak perlu malu membicarakan mengenai ‘petualangan’ baru yang ingin ‘dicicipi’ bersama pasangan dan masih dalam koridor diperbolehkan agama Islam. Hal seperti ini bisa saja membuat suami jadi lebih tertantang, atau malah istri yang lebih tertantang.
Pasangan adalah orang pertama yang sebaiknya anda tuju jika mengalami masalah dalam rumah tangga. Anggapan suami adalah tempat curhat terbaik hampir sepenuhnya benar, namun ada sedikit yang perlu diperhatikan. Istri harus tahu kapan waktu yang tepat untuk berbincang dengannya, maka sudah tentu suami bisa jadi teman curhat yang akan sangat membantu. Pastikan untuk memilih waktu yang tepat sebelum mengajak suami ngobrol berdua. Waktu terbaik untuk mengobrol dengan suami adalah saat si dia sedang senggang. Kita bisa mengajaknya bicara empat mata perihal masalah yang dihadapi saat akhir pekan atau saat menikamati segelas teh hangat. Saat saat seperti Ini adalah momen paling pas karena biasanya suami siap dengan fikiran yang rileks.
Ingat bahwa tak semua situasi menuntut kita untuk menyampaikan semua keluh kesah, semua masalah, saat seperti ini momen diam memiliki kekuatan tersendiri dalam rumah tangga. Diam dapat menjadi bentuk penyelesaian masalah atau strategi untuk menghindari konflik yang tidak perlu. Ketika suami atau istri belum sepenuhnya memahami konteks atau masih merasakan emosi yang kuat, sebaiknya beri waktu untuk berpikir sebelum merespons agar terhindar dari kesalahpahaman atau reaksi yang impulsif. Diam menjadi pertimbangan apabila suatu percakapan tidak memiliki tujuan yang jelas atau berpotensi menimbulkan gosip yang merugikan.
Untuk permasalahan yang bersifat sepele dan tidak berdampak signifikan terhadap keutuhan rumah tangga, membahasnya justru dapat memperkeruh suasana. Selain itu, ketika suami kurang sungguh-sungguh mendengarkan, istri yang menyampaikan pendapatnya hanya akan sia sia. Diam ketika menghadapi isu gosip merupakan langkah preventif yang menunjukkan kedewasaan sebuah rumah tangga. (Wallohu ‘Alam).








