SEKUFU (PRA DAN PASCA PERNIKAHAN)
OLEH : SYAFRAN LUBIS
Jodoh adalah istilah yang merujuk pada pasangan hidup seseorang, baik itu suami atau istri, yang dianggap cocok dan ditakdirkan untuk bersama. Jodoh adalah orang yang dipilih atau ditakdirkan untuk menjadi pasangan hidup, baik dalam pernikahan maupun hubungan jangka panjang. Jodoh seringkali diartikan sebagai seseorang yang memiliki kesesuaian atau kecocokan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti nilai-nilai, kepribadian, dan tujuan hidup.
Ungkapan “jodoh adalah cerminan diri” menyiratkan bahwa kualitas diri seseorang akan menarik pasangan yang serupa. Dalam beberapa perspektif, jodoh bisa juga diartikan sebagai hubungan yang membawa kebaikan dan keberkahan, baik dalam hubungan percintaan maupun persahabatan. Jodoh juga seringkali dikaitkan dengan perasaan nyaman, tentram, dan kebahagiaan dalam hubungan. Dalam Islam, jodoh seringkali dianggap sebagai bagian dari takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, namun juga membutuhkan usaha dan ikhtiar dari individu untuk menemukannya.
Jodoh Seringkali didefenisikan sebagai orang terbaik. Pernyataan ini bukan berarti mengartikan apabila tidak berjodoh artinya dia adalah orang buruk. Dalam hal ini kata “terbaik” dalam kata jodoh adalah orang yang bukan jodoh adalah orang baik. Dalam kenyataan kehidupan banyak pasangan berkepribadian baik, satu visi dan misi, sefrekuensi, financial stable, sudah matang, namun tidak berjodoh. Karena Tuhan tahu bahwa dia bukan orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangannya seumur hidup. Sebelum menikah mereka sudah saling mengenal kekurangan masing-masing, tapi itu hanya apa yang terlihat saja. Perjalanan pernikahan sesungguhnya belum dimulai. Masing-masing individu masih berlomba menampilkan versi terbaik karena dalam fase mabuk asmara atau pacaran.
Lelaki dengan sifat tempramen memiliki istri seorang Ibu rumah tangga. Mereka sudah menikah 48 tahun. Tidak ada talak tidak perceraian hingga maut memisahkan. Mereka berjodoh sekian lama dengan karakter yang berbeda dengan banyak sifat yang berbeda tapi keluarga mereka tetap bertahan, Karena hanya sang istri satu-satunya dari ribuan wanita di dunia yang mampu menerima kelemahan suami. Memiliki hati yang sabar dan sangat luas untuk bisa menghadapi suami setiap hari sampai maut memisahkan mereka,
Seorang wanita dengan IQ 100 alias sedikit lemot menikah dengan seorang dokter. Perbedaan yang mencolok persis dalam film drama korea. Padahal mantan sang dokter adalah seorang pramugari. Lalu mengapa dia berjodoh dengan si lemot bukan pramugari?, karena hanya sang dokter lah pria yang mampu menerima kelemotan istrinya untuk waktu yang panjang yaitu seumur hidup, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Walaupun setiap hari puyeng menghadapi istri, namun mereka tidak bercerai selain dipisahkan oleh kematian.
Ada lagi kisah rumah tangga antara seorang majikan menikahi pembantunya dan rumah tangga mereka berjalan dengan baik baik saja sampai maut memisahkan mereka. Mungkin seperti dalam kisah novel atau kisah sinetron. Kisah rumah tangga ini biasanya menyoroti bagaimana hubungan profesional berubah menjadi ikatan emosional, walaupun dengan tantangan sosial atau hierarki yang harus diatasi, seperti prasangka sosial, penolakan dari masyarakat atau bahkan keluarga, atau masalah etika terkait lingkungan kerja. Akhir cerita hubungan tersebut, berjalan dengan baik dalam lingkungan keluarga dan sosial mereka.
Beberapa penggalan kisah diatas memberikan kita pemahaman bahwa sekupu bisa datang dari mana saja dan dalam keadaan apa saja asal setiap pasangan bisa mengikuti dan menerima kelemahan dan kelebihan pasangannya. Kita pun yang sudah menikah, mari melihat kembali kelemahan pasangan masing-masing. Jangan menggeneralisir seperti pemalas, tukang ngambek, itu adalah sifat umum. Tapi cek kembali kelemahan spesifik yang paling buruk. Apakah kita sanggup bertahan? Saya rasa tentu “iya”. Kemudian intropeksi kelemahan diri kita sendiri. Apakah pasangan kita sanggup menerima? Tentu saja sanggup. Jika tidak kita sudah pasti bercerai.
Memilih pendamping hidup itu ibarat memilih kendaraan yang akan menemani perjalanan kita seumur hidup. Kalau salah pilih, ya kita sendiri yang bakal sengsara. Sering kita lihat banyak orang memilih pasangan cuma karena tampang. Atau karena hartanya melimpah. Atau lebih parah lagi, karena nafsu sesaat. Padahal itu semua sifatnya sementara. Tampang bisa berubah, harta bisa habis, nafsu pasti akan reda. Lalu apa yang tersisa. Jika tidak ada yang tersisa itu bukan jodoh
Seorang suami yang penyabar dapat seorang istri yang cerewatnya berlebihan, secara kasat mata kelihatan mereka tidak sekufu, tetapi mereka bertahan dengan rumah tangga mereka sampai maut memisahkan. Dan anak anaknya juga sukses mereka besarkan. Adalagi seorang artis yang hidup dengan harta berlimpah dan istrinya juga seorang publik figure mereka hidup dalam gelimang harta tetapi rumah tangga mereka hancur. Awalnya orang orang mengatakan bahwa pernikahan mereka sekufu, tetapi ternyata rumah tangga mereka hanya sebentar lalu cerai dan rumah tangganya pun berantakan dan ujung ujungnya ke pengadilan.
Adalagi seorang dokter dinikahi seorang dokter juga seperti biasanya para tetangga tersenyum dan senang melihat mereka bersanding di pelaminan dua duanya pintar dan dua duanya kaya tetapi kemudian setelah punya momongan satu mereka bercerai dan rumah tangga mereka tidak bisa diperbaiki lagi. Kisah lain lagi, suami seorang pekerja serabutan dan istrinya juga seorang yang hanya tukang cuci di rumah tetanggnya mereka juga cerai setelah punya anak satu. Tetapi ada jugu seorang dokter dan istrinya juga dokter tetap langgeng rumah tangganya dan juga seorang pemulung dengan istri tukang cuci di rumah tetangganya rumah tangganya langgeng.
Sekufu adalah dimana seorang suami atau seorang istri bisa membawa rumah tangganya menjadi utuh dan sampai kepada rumah tangga sakinah mawaddah wa rohmah bukan berarti tidak ada masalah dalam rumah tangganya, bukan berarti tidak ada jalan berliku dalam rumah tangganya juga bukan berarti dalam rumah tangganya mendapatkan jalan mulus terus tetapi namanya rumah tangga itu adalah rumah tangga yang bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik dan bisa membawa rumah tangga itu sampai akhir hayat mereka.
Sekufu sebelum nikah adalah sekufu dalam hal hal yang kelihatan seperti sama dalam status social sama dalam profesi sama dalam harta dan lain lain yang telah di rumuskan para sarjana. Tetapi sekufu sesudah pernikahan adalah sekufu dalam memahami rumah tangga yang dijalani. Sekufu dalam membawa rumah tannga itu kearah mana kebahagiaan dan kelanggengan dan dalam menyelasaikan masalah dalam rumah tangga.
Sekufu sebelum menikah adalah hal yang perlu tidak perlu diperhatikan tetapi sekufu sesudah pernikahan adalah hal sangat penting dalam menajalani rumah tangga itu. Bahkan lebih baik sekufu sesudah berumah tangga adalah lebih penting dari pada sekufu sebelum berumah tangga. Walaupun yang terbaik adalah sekufu sebelum berumah tangga dari pada sekufu sesudah berumah tangga dan itulah namanya jodoh yang sesuai dengan ayat 21 surat ar rum








