KIAT SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH (1)
Kata sakinah berasal dari kata bahasa Arab “sakana” yang dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan ketenangan, ketenteraman, keamanan, dan juga kedamaian. Lawan kata dari ketenteraman adalah keresahan, kehancuran, dan keguncangan. Sementara yang diharapkan dari pernikahan seperti pada arti sakinah yaitu ketenteraman, ketenangan, keamanan, dan kedamaian dalam anggota keluarga. Sedangkan keluarga yang tidak memiliki sakinah berarti keluarga yang penuh keresahan, kehancuran, dan keguncangan, itulah yang harus dihindari.
Keluarga yang tidak sakinah adalah keluarga yang di dalamnya penuh dengan perdebatan, perkelahian, dan kecurigaan. Dengan banyaknya konflik yang terjadi di dalam keluarga tentu bisa memicu sebuah perceraian. Ketidakpercayaan pada pasangan merupakan salah satu pemicu retaknya keluarga. Jika pasangan saling curiga dan tidak ada kepercayaan satu sama lain, serta ada orang lain yang sengaja mengguncang rumah tangga atau istri melawan terhadap suami maka digolongkan sebagai keluarga yang tidak sakinah. Dengan memiliki ketenangan, ketenteraman, keamanan, dan kedamaian maka konflik konflik dalam rumah tannga tidak akan terjadi. Dengan adanya ketenangan maka anggota keluarga akan dapat memikirkan cara memecahkan masalah dengan tenang karena memiliki pikiran yang jernih. Konflik keluarga akan mudah terjadi jika tidak ada sakinah di dalam keluarga.
Sama halnya dengan kata mawadah, juga berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti kasih sayang dan cinta yang membara. Kata mawadah ini memiliki arti khusus untuk seseorang yang memiliki perasaan menggebu gebu dengan pasangannya. Perasaan menggebu ini muncul karena aspek-aspek lain yang dimiliki oleh pasangan antara lain, kecantikan, ketampanan, moral, kedudukan, pola pikir dan hal hal lain dalam diri pasangan. Di dalam Islam, mawadah juga merupakan sebuah fitrah yang dimiliki oleh manusia. Dengan adanya mawadah di dalam keluarga akan membuat keluarga menjadi penuh cinta dan kasih sayang. Tidak mungkin di sebuah keluarga tidak memiliki cinta, jikalaupun ada tentu rasanya akan hambar. Perasaan cinta memberikan rasa saling memiliki dan menjaga antar anggota keluarga. Keluarga yang memiliki mawadah di dalamnya pasti memiliki hal hal positif di dalam keluarga itu. Jika tidak memiliki mawadah maka keluarga tidak akan saling memberikan dukungan karena tidak memiliki rasa kasih sayang. Bahkan, perselingkuhan bisa saja terjadi karena tidak adanya rasa kasih sayang antar pasangan. Keluarga yang memiliki mawadah tidak terbentuk secara instan, namun dikembangkan melalui proses dipupuknya melalui cinta suami, istri, dan anak-anak. Setiap keluarga pasti menginginkan keluarga yang mawadah, karena merupakan suatu fitrah pada setiap makhluk. Berbeda dengan kata Rahmah walaupun masih dalam bahasa arab tetapi sudah menajadi kata serapan dalam bahasa indonesia yang memiliki arti rezeki, ampunan, karunia, dan rahmat. Rahmat terbesar tentu berasal dari Allah Swt. Keluarga yang mendapat rahmat terbesar tentu keluarga yang memiliki cinta, kasih sayang, dan juga kepercayaan. Keluarga yang memiliki warahmah juga bukan dengan proses yang instan, namun proses yang cukup panjang karena membutuhkan pemahaman, saling menutupi kekurangan, dan memberikan pengertian. Dengan kesabaran hati serta pengorbanan dari suami dan istri tentu akan membuat keluarga memiliki warahmah atau karunia di dalamnya. Dari adanya proses kesabaran tersebut, warahmah akan diberikan oleh Allah Swt. sebagai bentuk cinta tertinggi dalam sebuah keluarga. Keluarga harus tenang, damai, dan memiliki kasih sayang agar warahmah dapat terwujud. Warahmah tidak akan muncul jika di dalam keluarga memiliki sifat saling curiga apalagi durhaka antara suami dan istri. Untuk mendapatkan sakinah mawaddah wa rohmah tersebut sebagai tips atau kiat kiatnya antara lain
Imbangi Pembicaraan Pasangan
Ngobrol yang baik adalah keseimbangan antara berbicara dan lawan berbicara serta apa yang di bicarakan. Suami atau istri harus mampu menilai situasi dengan empati dan kesadaran diri, sehingga pilihan untuk bicara atau diam menjadi tepat dan bermanfaat. Terlalu banyak bicara tanpa pertimbangan bisa membuat kita dianggap “banyak bacot” atau tidak profesional, sedangkan terlalu banyak diam bisa membuat ide dan kontribusi kita terabaikan. Dalam konteks hidup berumah tangga kemampuan membaca momen diam juga penting karena persepsi terhadap keheningan bisa berbeda-beda. Dalam budaya berbicara atau ngobrol jeda panjang atau diam panjang dalam percakapan sering dirasakan tidak nyaman, walaupun dalam budaya lain mungkin dianggap sebagai waktu refleksi yang penting.
Ngobrol antara suami istri bukan hanya soal berani mengungkapkan apa yang ada dalam hati, tetapi juga bijak memilih waktu dan cara yang tepat. Ngobrol dengan tepat waktu dan cara yang tepat dan sopan akan memperkuat hubungan rumah tangga yang membuat tentram rumah tangga itu (sakinah). Serta akan mendukung kesuksesan dalam menjalani hidup rumah tangga karena sudah ada cinta (mawaddah) denga demikian ketenagan dan kesuksesan dalam rumah tangga itu akan membuat anggotanya (suami istri) semangat dalam mencari maisyah (warohmah). (Wallohu A’lam).








