Dalam menjalani kehidupan berkeluarga tentunya tidak asing dengan isitilah konflik. Ya tentu ini adalah normal, setiap keluarga pasti akan dan selalu mengalami yang namanya “konflik keluarga”. Hal ini merupakan peristiwa yang lumrah dan alamiah terjadi sehingga tidak bisa dihindari. Konflik keluarga merupakan terjadinya ketegangan, pertentangan, atau ketidaksepakatan yang melibatkan anggota keluarga seperti pasangan suami istri, orang tua dan anak, saudara kandung hingga antar generasi. Adapun penyebab terjadinya konflik keluarga dikarenakan adanya ketidakselarasan nilai, harapan, dan tujuan.
Untuk menyikapi segala perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik keluarga ini maka perlu menanamkan nilai-nilai demokratis dalam berkeluarga dengan menunjukan keterlibatan, toleransi dan partisipasi aktif untuk membentuk perilaku demokratis, sehingga seluruh anggota keluarga dapat berbicara secara terbuka, menyampaikan ide, dan pendapat yang berbeda.
Namun pada fakta dilapangan dari berbagai anggota keluarga justru anak menjadi pihak yang sering diposisikan sebagai objek yang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan-keputusan keluarga. Musyawarah hanya dilakukan oleh kedua orang tua sehingga anak tidak mempunyai kesempatan untuk berpendapat, sehingga hal ini memunculkan rasa ketidakadilan terhadap keberadaan anak padahal anak memiliki posisi penting sebagai salah satu kompenen dalam keluarga inti.
pemahaman, pemikiran, dan bakat yang dimiliki anak menjadi hal yang sering terlupakan oleh orang tua sehingga seringkali anak merasa kurang di anggap dan dihargai. Tindakan yang selalu menuntut anak untuk mengikuti dunia orang tua akan menyebabkan anak rapuh dan tidak bisa mandiri dalam mengambil setiap keputusan serta menjalani langkah dalam kehidupannya. Ia akan menjadi takut mengambil resiko dalam mengambil keputusan bahkan menjadi ketergantungan terhadap perintah dan tuntunan dari orang tua.
Sebagai contoh, seorang ayah memiliki bisnis dibidang konstruksi bangunan dan memaksa anaknya untuk masuk kuliah dengan mengambil jurusan teknik sipil agar dapat melanjutkan bisnis ayahnya kelak, namun si anak sebenarnya memiliki bakat dalam jual beli dan lebih senang memilih jurusan ekonomi. hal ini merupakan salah satu contoh bentuk pengekangan orang tua terhadap kebebasan berekspresi anak.
Orang tua memiliki peran penting untuk menjadikan rumah sebagai lingkungan belajar yang kondusif ditengah keterbatasan proses pendidikan anak di sekolah, terkhususnya ibu sebagai penyelenggara pertama dan utama dalam keluarga. dimana ibu memiliki peran untuk membangun nilai-nilai karakter anak untuk di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga untuk mewujudkan pendidikan yang humanis seperti ini sudah tidak tepat bagi orang tua untuk bersifat terlalu menuntut (Push Parenting) dalam membangun dan mendidik anak.
Bentuk dari Push Parenting Oriented ini selain sebagai sebuah tuntutan yang terus-menerus kepada anak, juga bisa dalam bentuk pesan yang mengandung kekhawatiran bahwa anak-anaknya tidak yakin berhasil tanpa bantuannya. padahal tuntutan dan kekhawatiran seperti ini justru secara cepat dan mengendap di dalam memori pikiran anak, bahkan hal ini termasuk dalam bentuk kekerasan non-fisikal terhadap anak. Sehingga apabila ini terjadi secara terus menerus maka akan sangat berbahaya bagi kejiwaan anak dan berpotensi menjadikan anak mengalami gangguan mental.
Dalam pandangan islam, membangun interaksi antara anak dan orang tua menjadi perhatian penting. banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisahkan bagaimana para nabi-nabi membangun interaksi dengan anaknya dengan pola komunikasi ideal sehingga dapat dijadikan tauladan pada konsep parenting saat ini. Namun, sering kali kita jumpai bahkan penulis sendiri merasakan bahwa banyak anak diusia berapapun sering kali terlihat ceria, aktif, dan penuh cerita ketika berada diluar lingkungan keluarga, bahkan mereka menemukan kenyamanan terhadap orang lain dalam berinteraksi dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Hal ini disebabkan karena sebagian besar dari mereka merasa suara mereka terkadang hanya dianggap celotehan biasa dan tidak terarah, padahal di baliknya tersimpan kebutuhan emosional yang sangat penting. Padahal dengan didengar, anak justru akan merasa akan dihargai dan diakui sebagai induvidu. mereka juga mendapat ruang untuk mengekspresikan diri tanpa adanya rasa takut untuk diabaikan, dihakimi, bahkan disalahkan sehingga mereka akan menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman untuk berbagi.
Seiring bertumbuhkembangnya anak orang tua memang perlu mengkondisikan anaknya dengan memberikan penjelasan secara rasional agar anak mampu berperilaku dan bersikap terhadap sesuatu sesuai dengan batasan-batasannya. Namun ketika seorang anak sudah mampu menggunakan kemampuan berkomunikasi, berbahasa, dan berpikirnya maka akan lebih efektif apabila orag tua mengedepankan proses dialog terhadap anak. karena dengan mengutamakan proses dialog dalam keluarga untuk menggali proses berpikir rasional dari pandangan anak nantinya akan menumbuhkan pendidikan karakter dan ketahanan dalam keluarga.
Perlu kita ketahui bahwa, dampak dari pola pengasuhan dengan membatasi ruang ekspresi bagi anak memberikan dampak yang cukup serius sebagai berikut:
1. Anak akan sulit dalam mengabil keputusan secara mandiri, karena sudah ketergantungan dengan larangan atau ketentuan dari orang tua sehingga menimbulkan ketidakyakinan dalam memilih dan menentukan sesuatu.
2. Berpotensi menimbulkan tekanan bagi psikologi anak hingga menyebabka stres. dengan banyaknya aturan dan larangan anak akan merasa tertekan, stres hingga justru menjadikan anak pemberontak atau pembangkang
3. Nilai kreativitas anak akan hilang karena tidak memiliki kesempatan mengeksplore dirinya sehingga menyebabkan anak gampang merasa takut salah serta kurang berani dalam berinovasi.
4. Hilangnya kepercayaan diri pada anak karena sudah terbiasa diberikan keputusan dan arahan orang tua.
Sebagai penutup, dapat disimpulkan bahwa membangun ruang ekspresi bagi anak dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting untuk menciptakan hubungan yang sehat, harmonis, dan demokratis. Keterlibatan anak dalam proses komunikasi dan pengambilan keputusan tidak hanya membuat mereka merasa dihargai, tetapi juga membantu membentuk kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, orang tua perlu membuka ruang dialog yang setara, menghargai pendapat anak, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Dengan demikian, keluarga tidak hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan karakter anak secara optimal.
Sumber:
- [ Moh. Miftahusyaian, “KEBEBASAN ANAK BEREKSPRESI DALAM KELUARGA PRESPEKTIF PENDIDIKAN DAN SOSIAL,” EGALITA, advance online publication, 12 Mei 2012, https://doi.org/10.18860/egalita.v0i0.1961.]
- [ Artikel, Ketika Kebebasan Anak Terbatas, ini Dampaknya, Radio Republik Indonesia, 28 Agustus 2025, https://rri.co.id/cek-fakta/1799651/ketika-kebebasan-anak-terbatas-ini-dampaknya.]








