GIGI PALSU MAIT
“Pak lubis “ pak kadus memanggil pak penghulu “ kemaren ada warga meninggal, jenazahnya punya gigi palsu, dan tidak bisa dicabut karena dilem sama tukang gigi nya jadi menyatu dengan gusinya, ..bagaimana hukum gigi palsu tersebut?” Tanya nya
“ itu giginya emas atau perak ? “ Tanya pak penghulu
“ waduh … ngak tahu saya “ jawab pak kadus
“memakai gigi palsu adalah dibolehkan, jika gigi seseorang telah rusak/patah, maka boleh memakai gigi palsu, berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘sahabat yang bernama Arfajah bin As’ad Radhiyallahu ‘anhu, terpotong hidungnya saat perang, lalu ia membuat hidung palsu dari perak, tetapi justru hidungnya menjadi busuk, kemudian Nabi memerintahkannya untuk membuat hidung dari emas, dan beliaupun membuatnya (HR. Abu Daud: 3696, An-Nasa’i: 5070) Di dalam Sunan at-Tirmidzi disebutkan:
وقد روى غير واحد من أهل العلم أنهم شدوا أسنانهم بالذهب وفي الحديث حجة لهم
“Banyak di antara para ulama yang meriwayatkan bahwa mereka memperkokoh gigi-gigi mereka dengan emas (gigi palsu), mereka berhujjah dengan hadits tersebut” (HR. Tirmidzi: 1692).
Inilah alasan diperbolehkan seseorang untuk menambal giginya yang patah/rusak dan membuat gigi palsu, baik dari emas ataupun dengan bahan lainnya, jika hal ini dibutuhkan” pak penghulu menerangkan “namun, ketika seseorang meninggal dunia, tentu saja muncul pertanyaan boleh tidak dibiarkan gigi palsunya atau harus di copot?, dalam hal ini perlu dibedakan antara dua hal:
Jika gigi palsu terbuat dari emas atau perak maka harus di copot dan diberikan ke ahli waris nya, jangan dikasih ke pak kadus, “ ucap pak penghulu sambil tersenyum “ kata Imam Ahmad
قَالَ أَحْمَدُ، فِي الْمَيِّتِ تَكُونُ أَسْنَانُهُ مَرْبُوطَةً بِذَهَبٍ: إنْ قَدَرَ عَلَى نَزْعِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْقُطَ بَعْضُ أَسْنَانِهِ نَزَعَهُ، وَإِنْ خَافَ أَنْ يَسْقُطَ بَعْضُهَا تَرَكَهُ
“Imam Ahmad berkata perihal jenazah yang giginya diikat oleh emas: Jika dimungkinkan untuk mencopot/menanggalkannya tanpa mengakibatkan tercopotnya gigi-gigi yang lain, maka hendaklah dicopot, dan apabila ditakutkan akan membuat gigi-gigi yang lain copot maka dibiarkan” (Al-Mughni: 2/404)
Dan Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah menerangkan :
المشروع نزعها لأنها مال فلا ينبغي أن يضاع, الرسول صلى الله عليه وسلم كره إضاعة المال وسخط أضاعة المال, فينبغي أن ينزع إذا تيسر ذلك, أما إذا لم يتيسر فلا حرج, وإذا أراد أهلها أن ينزعوها منه بعد الموت بأيام فلا بأس
“Yang disyari’atkan adalah mencopot/menanggalkannya, karena gigi palsu berupa emas/perak tersebut adalah harta, dan harta tidak boleh disia-siakan, Rasulullah SAW telah benci dan marah terhadap perbuatan menyia-nyiakan harta, maka seharusnya gigi palsu tersebut dicopot apabila memungkinkan, namun jika tidak memungkinkan maka hal ini tidak mengapa. Dan apabila keluarga jenazah ingin mencopotnya setelah beberapa hari kematiannya pun masih dibolehkan” (https://binbaz.org.sa/fatwas/13525/)
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin juga mengatakan :
فالأسنان إذا احتاج الرجل إلى أن يضع له ضرسا أو سنا من الذهب فلا حرج عليه في هذا… وكذلك المرأة…. فإذا مات الميت وعليه شيء من هذا الذهب فإنه يجب خلعه؛ لأن في بقاءه مفسدتان: الأولى إنه إضاعة المال… والثانية تفويت هذا المال على مستحقه من الورثة… لكن إن حصل بذلك مثلى مثل ألا ينخلع إلا بانخلاع ما حوله من الأسنان مثلا أو الأضراس, أو كان يخشى الانفجار بخلعه فإنه لا بأس أن يبقى.
“Adapun gigi, apabila seorang laki-laki berkebutuhan untuk menambalnya maka tidak mengapa baginya menambal dengan emas, demikian juga halnya degan wanita, namun apabila seseorang meninggal dan ia memakai gigi palsu dari emas maka wajib baginya untuk menanggalkannya, karena jika tidak maka akan berdampak kepada dua kerusakan : pertama menyia-nyiakan harta, kedua menghilangkan hak ahli warisnya terhadap harta tersebut, akan tetapi jika dalam menanggalkan gigi tersebut berdampak pada menyakiti jenazah seperti copotnya gigi-gigi yang lain atau gusi di sekitarnya akibat mencopot gigi palsu tersebut, maka tidak mengapa gigi tersebut tetap di tempatnya (tidak dicopot) (Fatawa Nuur ‘alad Darbi: 9/2).
“Tapi, jika gigi palsu tersebut terbuat dari bahan selain emas, maka hal ini tidaklah mengapa terkubur bersama dengan jenazah tersebut, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah rahimahullah:
وإن جبر عظمه بعظم فجبر, ثم مات لم ينزع, إن كان طاهرا
“JIka seseorang menambal tulangnya dengan sesuatu untuk dipulihkan, kemudian ia meninggal, maka tidak perlu dicopot tambalan tersebut, apabila ia adalah benda yang suci (bukan najis)” (Al-Mughni : 2/404)
Lebih detailnya Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan:
أما ما لا قيمة له فلا بأس أن يدفن معه كالأسنان من غير الذهب والفضة, أما ما كان له قيمة فإنه يؤخذ, إلا إذا مان يخشى منه المثلة
“Adapun jika sebuah benda yang menempel pada tubuh jenazah itu tidak bernilai, seperti gigi palsu selain dari emas dan perak maka tidak mengapa dikuburkan bersama dengan jenazah tersebut, namun jika benda tersebut bernilai maka ia harus ditanggalkan, kecuali jika dikhawatirkan akan menyiksa jenazah” (Fatawa Asy-Syabakah al-Islamiyyah: 11/12756).
“maka tidak apa apa pak kadus membiarkannya jika mencopotnya menyakitkan mayitnya, bagusnya di copot apalagi gigi palsunya dari emas dan perak “ tutup pak penghulu
Wallohu ‘Alam








