Menu

Mode Gelap

Hikmah · 27 Mei 2026 20:15 WIB ·

KUPON KURBAN PALSU

Penulis: syafran lubis


 KUPON KURBAN PALSU Perbesar

KUPON KURBAN PALSU

Setelah pulang dari masjid hari itu hari raya Idul Adha, jamaah sholat hari raya itu layaknya seperti biasa lebih ramai dari pada sholat lima waktu yang biasa ditunaikan dusun itu. Setelah selesai shalat para jemaah pulang ke rumahnya sembari mempersiapkan peralatan untuk menyembelih hewan kurban dari orang-orang yang berkurban di desa itu. Dua minggu sebelumnya panitia korban telah menetapkan siapa ketua siapa wakil ketua siapa sekretaris dalam panitia kurban tersebut tahun itu. Mereka tidak dilantik secara resmi karena saat bekerja pun mereka memakai baju kaos yang sudah hampir lusuh warnanya, bukan pake jas bukan pake batik dan juga bukan pake safari

Jam 08.00 lebih anggota dan jamaah masjid pun sudah siap di samping masjid dimana biasanya hewan kurban di sembelih, dikuliti di potong potong dangingnya untuk segera di distribusikan kepada masyarakat sekitar khususnya untuk yang berhak mendapatkan kurban. Seperti biasa dalam tahun tahun sebelumnya, yang berhak mendapatkan sudah mendapatkan kupon kurban yang dikasih dari ketua rt ada yang dapat dari ketua rw, kalau yang rumahnya jauh dari masjid biasanya ia dapat kupon dari saudaranya yang ikut berkurnban dan ia kebagian kupon yang diberikan oleh saudaranya yang ikut kurban.

“besok setelah sholat Id kita makan bersama di tempatku ya” kata seorang donatur yang juga jamaah aktif di masjid “sebelum penyembelihan hewan kurban kita makan dulu di tempatku, sarapan, baru kita ke masjid lagi, kita memotong hewan kurban dan menyelesaikan qurban orang-orang yang dititipkan ke masjid kita ini”,  lanjutnya. Sebagian dari jamaah itu ada yang ke sana untuk makan bersama sebagian lagi tetap pulang ke rumahnya makan di rumahnya sendiri

Tanpa dikomandoi secara resmi, dan langsung penyembelihan korban mulai berjalan seperti biasa panitia. Masyarakat, yang muda, yang tua,  antusias anak-anak kecil ikut menonton penyembelihan hewan kurban itu. Ini adalah rasa pengabdian mereka dengan kurban yang mereka serahkan ke masjid di lingkungan mereka dengan harapan doa dan permintaan mereka di kabulkan sang maha segalanya , ALLAH SWT. Ibadah kurban sebagaimana mestinya memang menciptakan kepedulian sosial kepada tetangga-tetangga. Semua mengambil bagian masing-masing dengan pekerjaan masing-masing tak banyak cakap, tak banyak omong  walaupun ada, sedikit saling tegur sapa saling bercanda tapi yang jelas pekerjaan memotong dan mencacah serta membagi daging kurban itu selesai.

Yang tugas menyembelih bekerja dengan cekatan yang mengkuliti juga tidak kalah jago yang bagian tulang siap dengan kampak besar layaknya wiro sableng tapi bukan sinto gendeng, yang paling mengernyitkan  dahi adalah yang bertugas membersihkan jeroan atau isi perut sapi dan perut kambing sesekali harus menahan nafas karena bau e ek sapi yang menyengat .

“pokoknya menjelang lohor kita sudah selesai mencacah” kata pak ketua  “ tinggal membagi bagi menumpuk numpuk dengan tumpukan kecil lalu kita masukkan ke kantong kresek , jadi yang dirumah yang sudah mulai cetekin kompor juga ngak sempat tidur menunggu daging korban “ kata pak ketua , kira-kira sampai lohor kelihatan hewan kurban itu pun sudah mulai selesai. Beberapa panitia sudah mulai menggelar tikar plastic untuk tempat tumpukan daging

Azan lohor pun berkumandang, satu persatu panitia menuju tempat wudhu ada yang ke toilet ada juga yang antri karena toilet tidak bisa menampung sekaligus , yang lain sudah mulai mengganti baju yang kecipratan darah diganti dengan baju bersih untuk sholat yang sudah dipersiapkan dari rumah. Anggota panitia kurban yang merasa tidak bisa menahan lapar menuju rumah depan masjid yang sudah disiapkan ibu ibu makanan untuk makan siang panitia “ ah… hampir selesai ya…. “ kata pak edi sambil duduk di samping pak wanto yang sudah siap dengan piring di tangan sebelah kirinya dan tangan kanannya masih meneteskan air tanda ia baru saja membasuh tangan kanannya untuk makan

“ iya… bentar lagi selesai itu “ jawab pak wanto “ nah… makan dulu….. “ sambungnya

“ makan dulu lah… “ jawab pak edi “ kalau sudah disiapkan makan dan waktu sholat tiba kita makan dulu itu…” lanjutnya “ karena lebih baik makan ingat sholat dari pada sholat ingat makan … hehehe“ katanya sambil tertawa kecil, pak wanto tidak menjawab tapi hanya tertawa kecil dan menarik sudut bibirnya

Sekitar jam 2 pembagian kupon pun diumumkan lewat pengeras suara masjid,  “masyarakat yang sudah mengantongi kupon “ terdengar khas suara marbot di pengeras suara “ daging sudah bisa diambil, datang ke measjid untuk menukarkan kuponnya dengan daging korban “ . ibu ibu pun berdatang ke masjid menukarkan kupon korban agar segera dimasak dan dinikmati. Antiran pun menumpuk di samping masjid di tempat penukaran kupon yang sebelumnnya telah di siapkan panitia kurban sebgaimana tahun tahun sebelumnya . keluarga yang punya anak, yang datang biasanya anaknya karena saat meneteng daging kurban mereka senang dalam hati nya “bentar lagi makan sate… “

Saat mengantri seperti biasa penyerahan daging pun diserahkan lewat satu pintu antrian, tak makan waktu banyak daging kurban pun mulai habis.  Tinggal beberapa kantong, panitia juga sudah mengamankan bagiannya masing masing, tetap dibuatkan restan atau dilebihkan dari kupon yang dibagikan.

Sambil duduk panitia menghitung kupon yang kembali ke masjid atau yang ditukarkan untuk ingin mengevaluasi ada tidak kupon yang tidak kembali, tiba-tiba saat menghitung kupon seorang panitia “nah…. Ini kupon palsu ….. “ katanya dengan suara agak keras , perhatian pun terpokus kesuara dan  “mana coba! ” kata pak jiman yang duduk di sebelahnya “ oiya… palsu iki…. “ lanjutnya dengan bahasa jawa yang kental “ojo ojo ijik enek neh..“ , satu dua panitia yang lain mendekat dan merapat “periksa lagi yang lain, yang belum “ kata panitia yang lain, mereka pun inten memeriksanya, yang sudah dihitung juga di hitung lagi untuk diperiksa apakah ada yang palsu yang kelewat

“dari siapa.. ini ya… siapa yang berani memalsukan kupan korban ini “ kata pak ketua , suasana hening anggota lain saling menatap, dikepala masing masing mengulang memori beberpa jam yang lalu siapa yang menerima kupon palsu itu.

Berbeda dari biasanya kupon itu kelihatan memang bukan asli yang dibagikan oleh para ketua RT dan ketua dusun di sekeliling masjid. Para panitia berfikir keras menelusuri kupon palsu itu pemberian siapa, suara dari seorang panitia terdenganr “ kayaknya dari dusun sebelah “ ungkapnya, pandangan kembali terpokus lagi ke pak adi.

Seorang keluarga di sudut sana yang membuat kupon itu dan menukarkannya ke masjid, dia memang tidak punya kupon dan dia tidak mendapatkan daging kurban dari masjid, keluarga yang membagi daging kurban dari tempat lain pun tak ia dapatkan, dia tidak punya daging kurban hari itu untuk dimasak untuk dibagikan kepada keluarganya

“dimana rumahnya!?” kata mang ucup yang terkenal jawara di lingkungan masjid, “ biar saya datangi ke rumahnya “ sambungnya dengan suara yang mulai mengeras dan nafas yang tidak teratur, pak ketua lalu berdiri dan “ kita kumpul sebentar ya… “ katanya, anggota yang lain merapat setelah beberapa detik pak ketua mengucapkan salam dan dijawab panitia lain.

Beberapa detik kemudian mata pak ketua membulat dan giginya menggeratak , rahangnya mengeras “ saya ini ketua jadi jangan buat main main dengan tanggung jawab saya “ katanya dengan suara ditekan geraknya kaku dan matanya tak berkedip

“jadi gimana pak kita datangi tidak pelakunya “ kata mang ucup

“ iya.. bilang sama dia jangan main main dengan saya “ sambut ketua dengan masih nada marah, mang ucup langsung mengeluarkan motor dari parkiran untuk pergi ke rumah pelaku kupon palsu

“pak…” kata pak lubis “ mohon maaf pak ketua” sambungnya “ jangan di marah orangnya ya…, ini saran saya sekali lagi mohon maaf” masih lanjutnya dan itu daging yang sudah ia terima jangan di minta lagi , bilang saja sama dia ‘salam dari pak ketua dan perbuatan itu jangan di ulang ‘ trus masih dari pak ketua, kalau dengar suara azan di masjid kita  segera datangi measjid untuk sholat berjamaah ‘itu lebih baik buat kita dan buat dia itu, “ masih sambung pak lubis, panitia lain menatap tertunduk mendengarkan kata kata pak lubis “kita tidak tahu apa alasan dia memalsukan kupon itu, mungkin ia ingin makan danging tapi tidak punya duit untuk membeli sementara saudara dan keluarga tidak ada yang membagikan danging untuknya. Jika itu hanya kenakalannya mudah mudahan ia disadarkan oleh yang maha Kuasa “ tutup pak lubis

“setuju “ terdengar suara dari kerumunan, panitia pak ketua lalu mendatarkan pandangannya dan “ iya… bagus pak, saya setuju “ suasana yang tadi hampir memanas tiba tiba mendung, gumpalan es yang membatu di puncak kemarahan meleleh membasahi dasar gunung yang mengharapkan siraman kedamaian.

“terima kasih pak lubis , sudah mengingatkan saya “ kata pak ketua “ mungkin sangat membutuhkan dan mungkin juga ia tidak bisa menahan tangis anaknya yang merengek meminta dimaskain daging sementara ia tidak punya duit untuk membelinya “ tutup pak ketua “ tahun besok kita harus lebih peka lagi dengan warga kita yang mendapatkan daging korban “ kata pak ketua panitia.

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Analisis Fikih Mazhab Syafi’i terhadap Gugurnya Kepemilikan Hewan Buruan Darat

26 Mei 2026 - 09:45 WIB

MAHAR HASIL HARAM

26 Mei 2026 - 07:17 WIB

“Qurban, Takwa, dan Kepedulian Sosial”

22 Mei 2026 - 17:00 WIB

KELUARGA HARMONIS (Bermusyawarah)

21 Mei 2026 - 15:49 WIB

GONG PERNIKAHAN

19 Mei 2026 - 21:41 WIB

Ikhtiar Menjadi Penghulu yang Penulis

15 Mei 2026 - 10:08 WIB

Trending di Kolom
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x