Catatan Mahbub Fauzie
Di sebuah kampung yang berada di bawah pegunungan, ada seorang pemuda lajang berusia sekitar 27 tahun. Sejak masih anak-anak hingga hari ini, ia hampir tidak pernah absen memakmurkan masjid. Terutama pada shalat Maghrib, Isya, dan Subuh. Kehadirannya bukan karena ingin dipuji, tetapi telah menjadi bagian dari jalan hidup yang dibiasakan sejak kecil.
Semasa ayahnya masih hidup, beliau adalah imam masjid di kampungnya. Keteladanan itu rupanya tidak berhenti pada diri sang ayah. Anak-anaknya tumbuh dalam suasana rumah yang mencintai Al-Qur’an dan memuliakan masjid.
Saudara-saudaranya yang kini menuntut ilmu agama di berbagai daerah pun memiliki kebiasaan yang sama. Setiap kali pulang kampung, mereka kembali memenuhi saf-saf masjid. Tidak jarang mereka dipercaya menjadi imam shalat, bahkan menyampaikan khutbah Jumat. Rata-rata mereka adalah ahlul Qur’an, yang menjaga bacaan sekaligus berusaha mengamalkan kandungannya.
Yang menarik, keluarga ini hidup dengan sangat sederhana. Dalam berbagai acara keluarga—baik kelahiran, khitan, maupun pernikahan—mereka tidak pernah bermewah-mewahan atau berpesta secara berlebihan. Kesederhanaan menjadi pilihan hidup, bukan karena tidak mampu, tetapi karena mengutamakan nilai daripada kemegahan.
Ayah dan ibu mereka juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Kehadiran mereka selalu membawa manfaat bagi masyarakat. Mungkin di situlah letak rahasianya. Anak-anak tidak hanya mendengar nasihat, tetapi setiap hari menyaksikan contoh nyata dari kedua orang tuanya.
Kisah seperti ini mengingatkan kita bahwa membangun generasi saleh bukan pekerjaan sehari atau dua hari. Ia adalah hasil dari keteladanan yang berlangsung bertahun-tahun, dari rumah yang dipenuhi doa, Al-Qur’an, dan kecintaan kepada masjid.
Di tengah zaman ketika banyak orang tua cemas terhadap masa depan anak-anaknya, keluarga seperti ini memberikan pelajaran bahwa pendidikan karakter tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi melalui kebiasaan yang terus dihidupkan.
Semoga Allah menjaga keluarga-keluarga yang istiqamah dalam kebaikan. Semoga semakin banyak orang tua yang menghadirkan teladan terbaik bagi putra-putrinya. Dan semoga anak-anak muda kita tumbuh menjadi generasi yang mencintai masjid, dekat dengan Al-Qur’an, berakhlak mulia, serta menjadi penyejuk bagi keluarga, agama, dan masyarakat.
Karena sesungguhnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemuda yang cerdas, tetapi juga pemuda yang memiliki iman, adab, dan istiqamah dalam kebaikan. Dari merekalah harapan masa depan umat akan terus terjaga.[]








