Di dalam ruang rapat, di balik kemudi, atau di depan monitor yang menampilkan angka-angka rumit, dunia bagi seorang laki-laki umumnya berjalan dengan kepastian yang menenangkan. Ada target yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, dan instruksi yang tertulis hitam di atas putih. Logika linier adalah panglima mereka, jika ada masalah A, maka solusinya adalah B. Namun, ketika mereka melangkah melewati pintu rumah dan mengganti sepatu kerja dengan sandal rumah, peta navigasi yang presisi itu mendadak lenyap. Mereka tiba-tiba memasuki sebuah semesta domestik yang tidak digerakkan oleh metrik, melainkan oleh atmosfer perasaan, sebuah ruang yang penuh dengan bahasa isyarat, helaan napas yang menyimpan teka-teki, banting pintu yang subtil, dan keheningan yang justru terasa bising. Di sinilah banyak suami merasa ditarik paksa untuk menjadi seorang “paranormal” emosi. Seseorang yang dituntut mampu meramal, membaca pikiran, dan menerjemahkan kode-kode perasaan pasangannya tanpa pernah diberikan buku petunjuknya.
Gagapnya laki-laki dalam menghadapi dinamika ini bukanlah sebuah kesengajaan, melainkan sebuah kondisi sistemik yang berakar pada apa yang disebut dalam psikologi sebagai emotional illiteracy atau buta huruf emosi. Sejak masa kanak-kanak, mayoritas anak laki-laki dibesarkan dalam budaya yang mengagungkan represi perasaan. Doktrin bahwa “laki-laki harus kuat” secara keliru diterjemahkan sebagai larangan untuk bersikap rentan, mengekspresikan kesedihan, atau sekadar mengenali jenis kekecewaan yang sedang merayap di dada mereka. Ketika emosi mereka diamputasi sejak dini, mereka tumbuh menjadi dewasa yang terasi dari lanskap perasaan mereka sendiri. Kondisi ini sering kali berujung pada alexithymia fungsional, yaitu sebuah ketidakmampuan verbal untuk mengidentifikasi dan menggambarkan emosi secara tepat. Maka, ketika lembaga pernikahan tiba-tiba menuntut mereka untuk tidak hanya memahami emosi diri sendiri, tetapi juga peka terhadap badai emosional pasangannya, mereka mendadak seperti orang yang dipaksa membaca puisi dalam bahasa asing yang belum pernah mereka dengar.
Ketimpangan bahasa ini menciptakan sebuah lingkaran setan yang melelahkan di dalam rumah tangga. Bagi seorang istri, tuntutan agar suami “peka tanpa harus diberi tahu” bukan sekadar keinginan egois, melainkan bentuk pencarian validasi dan koneksi emosional yang mendalam. Di mata perempuan, cinta sering kali diwujudkan melalui antena emosional yang menangkap frekuensi-frekuensi halus. Namun, bagi suami yang otaknya telah diprogram untuk berorientasi pada tindakan (action-oriented), ekspektasi “baca pikiran” ini terasa seperti sebuah jebakan yang mustahil untuk dimenangkan. Ketika seorang istri mengatakan “Aku tidak apa-apa” dengan nada ketus, logika sang suami akan menerima kata-kata itu secara harfiah sebagai kondisi yang aman, sementara intuisi sang istri berharap suaminya mampu mendeteksi badai di balik kata “aman” tersebut. Ketika teka-teki itu gagal dipecahkan, konflik pun eskalatif. Respons alamiah laki-laki yang panik adalah menawarkan solusi instan yang justru sering kali memperkeruh suasana, karena yang dibutuhkan istri saat itu adalah empati, bukan petuah. ketika solusi itu ditolak, suami cenderung menarik diri (stonewalling) demi menghindari pertengkaran yang lebih besar, sebuah tindakan yang kerap disalahartikan oleh istri sebagai sikap dingin atau tidak peduli. Padahal, di balik benteng keheningan itu, ada rasa ketakutan, frustrasi, dan keputusasaan yang besar karena sang suami menyadari bahwa dirinya tidak memiliki perangkat yang tepat untuk memperbaiki apa yang sedang rusak di dalam hati pasangannya.
Paradoks terbesar dalam hubungan modern adalah bagaimana laki-laki mendefinisikan bentuk pengorbanan. Seorang suami mungkin rela menghabiskan waktu belasan jam di tempat kerja, mengambil lembur yang menguras fisik, dan menahan tekanan dari atasan demi memastikan stabilitas finansial keluarganya terpenuhi. Bagi mereka, itulah bentuk cinta tertinggi, konkret, dan tidak terbantahkan. Namun, di sudut rumah yang sama, sang istri mungkin sedang berjuang melawan kesepian yang akut karena merasa jiwanya tidak pernah “disentuh”. Jauh lebih mudah bagi seorang laki-laki untuk menghadapi tumpukan pekerjaan yang rumit daripada harus duduk berdua, menatap mata pasangannya tanpa gawai, dan masuk ke dalam percakipan intim yang menuntut kerentanan. Menghadapi dunia kerja memberikan kepastian, sementara menghadapi ruang emosional pernikahan terasa seperti berjalan di atas lantai kaca yang siap retak kapan saja. Ketidakmampuan mengecap emosi ini pada akhirnya membuat suami merasa bahwa seluruh pengorbanan keringat dan waktunya menjadi sia-sia hanya karena ia gagal memahami isyarat-isyarat non-verbal di rumah. Ini adalah keputusasaan yang sunyi; mereka sejatinya sangat ingin membahagiakan istri mereka, tetapi mereka seperti seseorang yang dipaksa melukis pemandangan yang indah di atas kanvas, sementara tangan mereka dari kecil hanya dibiasakan untuk memegang palu dan pahat. Kritik yang datang bertubi-tubi dari pasangan akhirnya membuat mereka merasa tidak pernah cukup baik, yang lambat laun bisa memadamkan keintiman dalam pernikahan.
Menyadari realitas emotional illiteracy pada laki-laki bukan berarti memberikan permakluman abadi bagi mereka untuk tetap abai, cuek, dan menolak bertumbuh. Menjadi buta huruf emosi adalah penjelasan latar belakang, bukan sebuah tiket gratis untuk mempertahankan kebebalan. Bagaimanapun, pernikahan adalah komitmen dua arah yang menuntut adaptasi terus-menerus dari kedua belah pihak. Namun, sudut pandang ini mengajak kita semua, terutama istri atau pasangan untuk menatap interior batin laki-laki dengan kacamata yang lebih jernih dan penuh welas asih. Mengubah seorang suami menjadi sosok yang berempati bukanlah perkara menuntut mereka menjadi cenayang atau paranormal yang serba tahu. Ini adalah tentang kerelaan untuk menurunkan tensi ekspektasi dan mulai membangun jembatan komunikasi yang sepadan. Pernikahan yang menyelamatkan bukanlah pernikahan yang bebas dari miskomunikasi, melainkan pernikahan yang menyediakan ruang aman bagi kedua belah pihak. Istri perlu belajar untuk menurunkan ekspektasi “baca pikiran” dan mulai mengomunikasikan kebutuhannya secara eksplisit, jelas, dan tanpa kode-kode rumit. Di sisi lain, sang suami juga harus memiliki keberanian besar untuk menurunkan ego logikanya, mengakui keterbatasannya, dan mau duduk kembali sebagai murid kehidupan yang siap belajar mengeja abjad-abjad perasaan yang sempat hilang di masa kecilnya. Cinta, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling pintar membaca pikiran, melainkan tentang dua orang yang saling meminjamkan kamus agar bisa saling memahami.
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








