Menu

Mode Gelap

Opini · 29 Jun 2026 17:46 WIB ·

Mempersiapkan Pernikahan, Bukan Sekadar Mempersiapkan Hari Pernikahan

Penulis: Mahbub Fauzie


 Mempersiapkan Pernikahan, Bukan Sekadar Mempersiapkan Hari Pernikahan Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie

Pernikahan sering kali menjadi salah satu momen yang paling dinanti dalam kehidupan seseorang. Berbulan-bulan calon pengantin sibuk memilih gedung, menentukan dekorasi, memesan busana, menyusun daftar tamu, hingga berburu fotografer terbaik. Tidak sedikit yang rela menghabiskan tenaga, pikiran, bahkan biaya yang besar demi memastikan hari bahagia itu berjalan sempurna.

Namun, di tengah semua kesibukan tersebut, ada satu pertanyaan penting yang layak direnungkan. Sudahkah kita benar-benar mempersiapkan kehidupan setelah akad nikah?

Akad nikah hanyalah permulaan. Ia berlangsung beberapa menit, tetapi konsekuensinya dijalani sepanjang kehidupan. Setelah tamu pulang, dekorasi dibongkar, dan album pernikahan tersimpan rapi, saat itulah kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya dimulai. Pada fase inilah cinta tidak lagi hanya diukur dari kata-kata manis, melainkan dari kesabaran, tanggung jawab, pengorbanan, dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai ujian.

Inilah sebabnya Bimbingan Perkawinan yang diselenggarakan Kementerian Agama memiliki makna yang sangat strategis. Bimbingan ini bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi sebelum menikah. Ia adalah ikhtiar negara dan agama untuk membekali calon pengantin agar memahami hakikat perkawinan yang sesungguhnya.

Pernikahan dalam Islam bukan hanya hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ia adalah mitsaqan ghalizha, sebuah perjanjian yang sangat kuat di hadapan Allah SWT. Karena itu, membangun rumah tangga tidak cukup hanya berbekal rasa cinta. Cinta memang penting, tetapi cinta tanpa ilmu sering kali mudah goyah ketika berhadapan dengan kenyataan hidup.

Banyak rumah tangga yang retak bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena tidak siap menghadapi perbedaan. Sebelum menikah, pasangan mungkin hanya melihat kelebihan masing-masing. Setelah menikah, mereka mulai berhadapan dengan kebiasaan, karakter, cara berpikir, dan latar belakang keluarga yang berbeda. Jika tidak dibangun komunikasi yang sehat, perbedaan kecil dapat berubah menjadi konflik yang besar.

Komunikasi menjadi salah satu fondasi utama dalam kehidupan rumah tangga. Pasangan yang mampu saling mendengar, menghargai pendapat, dan menyampaikan perasaan dengan baik akan lebih mudah menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, komunikasi yang dipenuhi emosi, sindiran, dan ego hanya akan memperlebar jarak di antara suami dan istri.

Persoalan lain yang kerap menjadi pemicu konflik adalah ekonomi keluarga. Tidak sedikit rumah tangga yang diuji oleh masalah keuangan. Padahal, kebahagiaan keluarga tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghasilan. Banyak keluarga sederhana hidup penuh ketenangan karena mampu mengelola rezeki dengan bijaksana. Sebaliknya, keluarga dengan penghasilan tinggi pun bisa terus bertengkar apabila tidak mampu mengendalikan gaya hidup dan keinginan yang berlebihan.

Di samping itu, kesehatan reproduksi juga menjadi bagian penting yang sering diabaikan. Menikah bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi juga mempersiapkan lahirnya generasi berikutnya. Karena itu, kesehatan suami dan istri, perencanaan kehamilan, serta kesiapan menjadi orang tua perlu dipahami sejak awal. Anak yang lahir kelak membutuhkan bukan hanya kecukupan materi, tetapi juga kasih sayang, keteladanan, pendidikan, dan lingkungan keluarga yang harmonis.

Tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya bebas dari konflik. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Yang menentukan kualitas sebuah keluarga bukanlah ada atau tidaknya konflik, melainkan bagaimana konflik itu diselesaikan. Rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga yang tidak pernah bertengkar, tetapi rumah tangga yang mampu saling memaafkan, bermusyawarah, dan kembali bergandengan tangan setelah menghadapi persoalan.

Keluarga sakinah bukanlah hadiah yang datang dengan sendirinya setelah akad nikah selesai diucapkan. Keluarga sakinah adalah hasil dari proses panjang yang dibangun setiap hari melalui keimanan, komunikasi yang baik, tanggung jawab, kerja sama, serta komitmen untuk terus memperbaiki diri.

Karena itu, jangan sampai kita lebih sibuk mempersiapkan pesta daripada mempersiapkan rumah tangga. Jangan habiskan seluruh energi untuk satu hari yang meriah, tetapi lupa mempersiapkan puluhan tahun kehidupan setelahnya. Sebab yang akan menentukan kebahagiaan bukanlah megahnya resepsi, melainkan kokohnya komitmen, kuatnya iman, dan hangatnya kasih sayang yang terus dipelihara sepanjang perjalanan rumah tangga.

Semoga setiap akad yang terucap menjadi awal lahirnya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta mampu melahirkan generasi yang saleh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.[]

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Detak Jantung di Balik Jabat Tangan Akad Saat Seorang Ayah Melepas Putrinya Menikah

29 Juni 2026 - 11:08 WIB

Mengelola Keuangan Keluarga, Bekal Penting Menuju Rumah Tangga yang Sakinah

28 Juni 2026 - 18:24 WIB

Jangan Sampai Pasangan Tertekan dan Sakit karena Sikap Kita

27 Juni 2026 - 20:30 WIB

Sehari dalam Pengabdian: Dari Ladang, Rumah Duka, hingga Akad Nikah

27 Juni 2026 - 15:52 WIB

Menghindari Sikap Summun Bukmun dalam Pelayanan Publik

26 Juni 2026 - 10:38 WIB

Pengabdian yang Bernilai Amal Jariah

25 Juni 2026 - 13:54 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x