Menu

Mode Gelap

Opini · 12 Jun 2026 11:05 WIB ·

Merawat Keberkahan dalam Rumah Tangga

Penulis: Mahbub Fauzie


 Merawat Keberkahan dalam Rumah Tangga Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.
Penghulu Ahli Madya / Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Kabupaten Aceh Tengah

Setiap pasangan yang menikah tentu mendambakan rumah tangga yang bahagia, harmonis, dan penuh keberkahan. Namun dalam perjalanan kehidupan, tidak sedikit yang kemudian menyadari bahwa membangun rumah tangga ternyata bukan sekadar menyatukan dua insan dalam satu ikatan akad, melainkan menyatukan dua karakter, dua kebiasaan, dua latar belakang keluarga, bahkan dua cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.

Keberkahan rumah tangga tidak selalu diukur dari besarnya rumah yang ditempati, banyaknya harta yang dimiliki, atau tingginya jabatan yang disandang. Banyak keluarga yang hidup sederhana tetapi penuh ketenangan, dan tidak sedikit pula keluarga yang bergelimang kemewahan namun kehilangan kebahagiaan. Sebab keberkahan sejatinya lahir dari nilai-nilai yang dibangun dan dipelihara setiap hari di dalam keluarga.

Rumah tangga yang penuh keberkahan berawal dari suami yang menghargai lelah istrinya dan istri yang menghargai perjuangan suaminya. Setiap hari seorang suami berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sesuai kemampuan yang Allah berikan. Di sisi lain, seorang istri juga memiliki pengorbanan yang sering kali tidak terlihat; mengurus rumah, mendidik anak, menjaga suasana keluarga, serta menjadi pendamping dalam suka dan duka. Ketika masing-masing mampu melihat dan menghargai pengorbanan pasangannya, maka akan tumbuh rasa hormat yang menjadi fondasi kokoh sebuah keluarga.

Keberkahan juga lahir dari keterbukaan. Tidak ada rumah tangga yang bebas dari masalah. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan berbagai ujian adalah bagian dari kehidupan berkeluarga. Namun pasangan yang terbiasa berkomunikasi dengan baik akan lebih mudah menemukan jalan keluar. Sebaliknya, jika perasaan dipendam, kekecewaan disimpan, dan masalah dibiarkan menumpuk, maka perlahan akan muncul jarak di antara dua hati yang sebelumnya begitu dekat.

Di era media sosial saat ini, salah satu ujian terbesar dalam rumah tangga adalah kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Ada yang merasa kurang bahagia karena melihat keluarga lain tampak lebih sejahtera. Ada yang merasa kurang beruntung karena melihat pasangan orang lain tampak lebih perhatian. Padahal yang terlihat sering kali hanyalah sisi terbaik yang sengaja ditampilkan. Keluarga yang bijak tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan. Mereka lebih memilih bersyukur atas apa yang dimiliki dan terus berusaha memperbaiki apa yang masih kurang.

Rumah tangga yang penuh keberkahan juga dibangun oleh suami dan istri yang saling menjaga martabat satu sama lain. Tidak saling merendahkan ketika terjadi kesalahan, tidak membuka aib pasangan kepada orang lain, dan tidak menjadikan kekurangan pasangan sebagai bahan celaan. Sebaliknya, mereka saling mengingatkan dengan kasih sayang dan saling menguatkan ketika menghadapi kesulitan.

Lebih dari itu, keluarga yang diberkahi Allah adalah keluarga yang menjadikan rumah sebagai tempat pertama pendidikan bagi anak-anak. Anak-anak belajar tentang kejujuran dari kejujuran orang tuanya. Mereka belajar tentang kasih sayang dari cara ayah dan ibunya saling memperlakukan. Mereka belajar tentang ibadah dari apa yang mereka lihat setiap hari di rumah. Karena itu, keteladanan orang tua jauh lebih berpengaruh daripada seribu nasihat yang diucapkan.

Rumah tangga yang tenang bukanlah rumah tangga yang tidak pernah mengalami masalah. Rumah tangga yang tenang adalah rumah tangga yang diisi oleh dua orang yang sama-sama menyadari bahwa dirinya tidak sempurna, namun selalu berusaha menjadi lebih baik. Mereka tidak sibuk mencari kesalahan pasangan, tetapi lebih banyak melakukan introspeksi diri. Mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi ujian, karena menyadari bahwa setiap kesulitan adalah bagian dari proses pendewasaan dalam berumah tangga.

Allah SWT mengabadikan doa indah tentang keluarga dalam Al-Qur’an:

“Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yun, waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)

Ayat ini mengajarkan bahwa keluarga yang ideal bukan hanya keluarga yang hidup dalam kecukupan, tetapi keluarga yang mampu menjadi penyejuk hati bagi setiap anggotanya. Suami menjadi penyejuk bagi istrinya, istri menjadi penyejuk bagi suaminya, dan anak-anak tumbuh menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya. Lebih dari itu, keluarga juga diharapkan menjadi teladan dalam kebaikan dan ketakwaan.

Semoga setiap keluarga yang kita bina menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah; keluarga yang mampu melewati berbagai ujian dengan kesabaran, mensyukuri setiap nikmat dengan kerendahan hati, serta senantiasa menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam kehidupan berumah tangga. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi tempat bernaung di dunia, tetapi juga jalan menuju kebahagiaan di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Atu Lintang, 12 Juni 2026

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 10 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Mengapa Cara Kita “Bicara” Lebih Penting daripada Apa yang Kita “Katakan” dalam Hubungan Pernikahan

12 Juni 2026 - 10:18 WIB

Dakwah di Era Digital: Jangan Minder Menebar Kebaikan

11 Juni 2026 - 17:47 WIB

Menikah untuk Meneguhkan Janji dan Menata Masa Depan

11 Juni 2026 - 12:16 WIB

Menjaga Cinta Melalui Adab dalam Rumah Tangga

11 Juni 2026 - 06:11 WIB

Mensyukuri yang Sedikit, Mendekatkan yang Banyak

10 Juni 2026 - 20:01 WIB

Menjadikan Waktu Luang Bernilai Ibadah dan Karya

10 Juni 2026 - 15:00 WIB

Trending di Opini
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x