Catatan Mahbub Fauzie
Semua yang terjadi di dunia ini berada dalam ketentuan Allah SWT. Sehat dan sakit, lapang dan sempit rezeki, bahagia dan duka, semuanya tidak lepas dari kehendak-Nya. Namun, Allah juga menetapkan sunnatullah, yaitu adanya sebab dan akibat dalam kehidupan. Karena itu, tidak tepat jika kita hanya mengatakan “semua sudah takdir”, sementara kita mengabaikan perilaku yang justru menjadi penyebab penderitaan orang lain.
Dalam kehidupan rumah tangga, tekanan batin sering kali bukan hanya lahir dari kekurangan harta, tetapi juga dari sikap pasangan. Gaya hidup yang terlalu royal, boros, gemar berutang demi gengsi, atau tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik dapat membuat pasangan hidup dalam tekanan. Keinginan yang terus bertambah, sementara kemampuan ekonomi terbatas, perlahan berubah menjadi beban yang menghimpit.
Di sisi lain, sikap yang kasar, ucapan yang menyakitkan, kebiasaan merendahkan, atau tidak menghargai usaha pasangan juga dapat melukai hati. Ada orang yang telah bekerja keras siang malam, tetapi sesampainya di rumah justru disambut dengan tuntutan, keluhan, atau perbandingan dengan orang lain. Luka seperti ini mungkin tidak tampak oleh mata, tetapi sangat terasa di dalam jiwa.
Tekanan yang berlangsung terus-menerus bukan hanya mengganggu ketenangan batin, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan fisik. Stres berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur, menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan tekanan darah, bahkan memicu berbagai penyakit. Mungkin penyakit itu datang atas izin Allah, tetapi bisa jadi sikap kitalah yang menjadi salah satu sebabnya.
Islam mengajarkan agar suami dan istri saling mempergauli dengan cara yang baik (mu’āsyarah bil ma’rūf). Rasulullah ﷺ mencontohkan kelembutan, penghormatan, dan kasih sayang dalam keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat kembali untuk menemukan ketenangan, bukan tempat yang menambah beban pikiran.
Karena itu, sebelum menyalahkan pasangan, mari bertanya kepada diri sendiri. Apakah kehadiran kita menghadirkan ketenangan atau justru kecemasan? Apakah cara kita mengelola keuangan membuat pasangan merasa aman atau terus dihantui kekhawatiran? Apakah ucapan kita menguatkan atau justru melemahkan semangatnya?
Hidup sederhana bukan berarti hidup dalam kekurangan. Kesederhanaan adalah kebijaksanaan dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Rezeki yang dikelola dengan syukur dan penuh tanggung jawab akan menghadirkan ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan kemewahan.
Pada akhirnya, cinta tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus diwujudkan dalam sikap yang lembut, pengelolaan keuangan yang bijaksana, saling menghargai, saling menguatkan, dan saling menjaga kesehatan lahir maupun batin.
Jangan sampai orang yang paling mencintai dan mendoakan kita justru hidup dalam tekanan karena sikap kita. Sebab, menjaga ketenangan, kebahagiaan, dan kesehatan pasangan juga merupakan bagian dari amanah Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Wallahu a’lam bish-shawab. []








