Catatan Mahbub Fauzie
Salah satu cara paling sederhana untuk menumbuhkan rasa syukur terhadap pekerjaan adalah dengan membayangkan seandainya hari ini kita tidak memiliki pekerjaan. Bayangkan bagaimana rasanya bangun pagi tanpa tujuan, tanpa penghasilan tetap, sementara jutaan orang masih berjuang mencari kesempatan kerja.
Menjadi ASN, baik PNS maupun PPPK, bukanlah sesuatu yang dimiliki semua orang. Di balik satu orang yang lulus, ada banyak orang yang harus menerima kenyataan belum berhasil. Karena itu, status sebagai ASN bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan. Syukur harus tampak dalam cara kita bekerja. Datang tepat waktu, melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat adalah bentuk syukur yang nyata.
Jangan sampai kita menikmati hak-hak sebagai ASN—gaji, tunjangan, cuti, dan berbagai fasilitas—tetapi lalai menunaikan kewajiban. Lebih ironis lagi jika hari-hari kerja justru diisi dengan kemalasan, sering terlambat, pulang sebelum waktunya, atau mencari berbagai alasan untuk menghindari pekerjaan. Integritas tidak diukur dari seberapa besar gaji yang diterima, tetapi dari seberapa baik amanah dijalankan.
Menjadi ASN adalah pilihan yang kita ambil dengan sadar. Karena itu, seluruh konsekuensi aturan yang menyertainya juga harus diterima dengan lapang dada. Jangan hanya mencari sisi yang menguntungkan, tetapi bangunlah budaya kerja yang profesional dan berintegritas.
Jauh atau dekat tempat tugas bukanlah alasan untuk menurunkan semangat pengabdian. Orang yang memiliki integritas akan tetap bekerja dengan dedikasi di mana pun ia ditempatkan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki komitmen akan selalu menemukan alasan untuk mengeluh, meskipun bekerja di tempat yang paling nyaman.
Masyarakat menaruh harapan kepada ASN sebagai pelayan publik. Kepercayaan itu jangan dikhianati. Jabatan bisa berakhir, masa kerja akan selesai, tetapi jejak pengabdian akan selalu dikenang. Pilihan ada di tangan kita: ingin dikenang sebagai ASN yang hanya menikmati fasilitas negara, atau sebagai ASN yang benar-benar mengabdi dengan sepenuh hati.
Karena itu, sebelum mengeluh tentang pekerjaan, cobalah sejenak membayangkan hidup tanpa pekerjaan. Niscaya kita akan menyadari bahwa pekerjaan yang kita miliki hari ini bukanlah beban, melainkan amanah dan nikmat yang layak disyukuri melalui kerja keras, profesionalisme, integritas, dan pengabdian terbaik.[]








