Catatan Mahbub Fauzie
Hati menjadi resah dan gelisah ketika kita terlalu sering membiasakan diri berandai-andai dalam menyikapi persoalan hidup. Pikiran dipenuhi berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Kita sibuk membayangkan, “Seandainya dulu saya memilih jalan lain,” atau “Bagaimana kalau nanti semuanya gagal?” Akibatnya, energi habis untuk sesuatu yang belum tentu nyata.
Berandai-andai yang berlebihan sering kali melahirkan penyesalan terhadap masa lalu dan kecemasan terhadap masa depan. Padahal, keduanya berada di luar kendali kita. Masa lalu tidak dapat diulang, sedangkan masa depan masih menjadi rahasia Allah. Yang berada dalam genggaman kita hanyalah hari ini: bagaimana bersikap, berusaha, dan mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya.
Dalam ajaran Islam, seorang mukmin diperintahkan untuk berikhtiar secara maksimal, lalu bertawakal kepada Allah. Rasulullah SAW juga mengingatkan agar tidak larut dalam ucapan “seandainya” setelah musibah terjadi, karena hal itu dapat membuka pintu kesedihan yang berkepanjangan. Sikap yang lebih baik adalah menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, mengambil pelajaran, lalu bangkit memperbaiki keadaan.
Bukan berarti kita tidak boleh melakukan evaluasi. Muhasabah tetap diperlukan agar kesalahan tidak terulang. Namun, evaluasi berbeda dengan berandai-andai. Evaluasi menghasilkan hikmah dan perbaikan, sedangkan berandai-andai yang berlebihan justru melahirkan kegelisahan, menyalahkan diri sendiri, bahkan mengikis rasa syukur.
Hidup akan terasa lebih ringan ketika kita fokus pada apa yang bisa dilakukan saat ini, bukan pada berbagai kemungkinan yang tidak dapat diubah. Orang yang hatinya tenang bukanlah mereka yang hidup tanpa masalah, melainkan mereka yang mampu menerima kenyataan dengan bijaksana, berusaha dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.
Karena itu, ketika menghadapi persoalan hidup, jangan biarkan diri terjebak dalam labirin angan-angan. Gantilah kalimat “seandainya” dengan “apa yang bisa saya lakukan sekarang?” Di situlah ketenangan mulai tumbuh, harapan kembali menyala, dan hati menjadi lebih damai dalam menjalani setiap takdir yang telah Allah tetapkan.








