Menu

Mode Gelap

Kolom · 29 Jun 2026 03:15 WIB ·

Ketika Pekerjaan Menjadi Amanah, Bukan Sekadar Mata Pencaharian

Penulis: Mahbub Fauzie


 Ketika Pekerjaan Menjadi Amanah, Bukan Sekadar Mata Pencaharian Perbesar

Catatan Mahbub Fauzie

Salah satu cara paling sederhana untuk menumbuhkan rasa syukur terhadap pekerjaan adalah dengan membayangkan seandainya hari ini kita tidak memiliki pekerjaan. Bayangkan bagaimana rasanya bangun pagi tanpa tujuan, tanpa penghasilan tetap, sementara jutaan orang masih berjuang mencari kesempatan kerja.

Menjadi ASN, baik PNS maupun PPPK, bukanlah sesuatu yang dimiliki semua orang. Di balik satu orang yang lulus, ada banyak orang yang harus menerima kenyataan belum berhasil. Karena itu, status sebagai ASN bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan. Syukur harus tampak dalam cara kita bekerja. Datang tepat waktu, melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh, jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat adalah bentuk syukur yang nyata.

Jangan sampai kita menikmati hak-hak sebagai ASN—gaji, tunjangan, cuti, dan berbagai fasilitas—tetapi lalai menunaikan kewajiban. Lebih ironis lagi jika hari-hari kerja justru diisi dengan kemalasan, sering terlambat, pulang sebelum waktunya, atau mencari berbagai alasan untuk menghindari pekerjaan. Integritas tidak diukur dari seberapa besar gaji yang diterima, tetapi dari seberapa baik amanah dijalankan.

Menjadi ASN adalah pilihan yang kita ambil dengan sadar. Karena itu, seluruh konsekuensi aturan yang menyertainya juga harus diterima dengan lapang dada. Jangan hanya mencari sisi yang menguntungkan, tetapi bangunlah budaya kerja yang profesional dan berintegritas.

Jauh atau dekat tempat tugas bukanlah alasan untuk menurunkan semangat pengabdian. Orang yang memiliki integritas akan tetap bekerja dengan dedikasi di mana pun ia ditempatkan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki komitmen akan selalu menemukan alasan untuk mengeluh, meskipun bekerja di tempat yang paling nyaman.

Masyarakat menaruh harapan kepada ASN sebagai pelayan publik. Kepercayaan itu jangan dikhianati. Jabatan bisa berakhir, masa kerja akan selesai, tetapi jejak pengabdian akan selalu dikenang. Pilihan ada di tangan kita: ingin dikenang sebagai ASN yang hanya menikmati fasilitas negara, atau sebagai ASN yang benar-benar mengabdi dengan sepenuh hati.

Karena itu, sebelum mengeluh tentang pekerjaan, cobalah sejenak membayangkan hidup tanpa pekerjaan. Niscaya kita akan menyadari bahwa pekerjaan yang kita miliki hari ini bukanlah beban, melainkan amanah dan nikmat yang layak disyukuri melalui kerja keras, profesionalisme, integritas, dan pengabdian terbaik.[]

5 1 vote
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 2 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Jangan Terlalu Sering Berandai-Andai

27 Juni 2026 - 07:52 WIB

𝗧𝗶𝗴𝗮 𝗝𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗹 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗱𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗿𝗲𝗻𝗱𝗮𝗵𝗮𝗻 𝗛𝗮𝘁𝗶

18 Juni 2026 - 18:37 WIB

𝗠𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻 𝗔𝗸𝘁𝗶𝘃𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗣𝗿𝗼𝗳𝗲𝘁𝗶𝗸: 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗷𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗡𝗮𝗯𝗶 𝗠𝘂𝘀𝗮 𝗔𝗦

16 Juni 2026 - 21:53 WIB

Camat dan Kepala KUA Tawang ,Penyuluh Agama dan para Lurah Angkat Piala Bergilir, Kecamatan Tawang Resmi Sabet Gelar Juara Umum MTQH XVI Kota Tasikmalaya 2026

15 Juni 2026 - 11:11 WIB

Menyelaraskan Kata, Hati, dan Perbuatan

12 Juni 2026 - 00:39 WIB

Otoritas Wali Nikah: Studi Komparatif Madzhab dan Hukum Positif Indonesia

5 Juni 2026 - 16:56 WIB

Trending di Karya Ilmiah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x