Menu

Mode Gelap

Karya Ilmiah · 15 Apr 2026 20:33 WIB ·

NIKAH MALAM LEBARAN

Penulis: syafran lubis


 NIKAH MALAM LEBARAN Perbesar

NIKAH MALAM LEBARAN

Pasangan calon pengantin itu datang ke kantor dengan orang tuanya untuk mendaftarkan pernikahannya tepatnya mereka datang siang sekitar jam 10. Pagi, setelah mengucapkan salam keduanya dipersilahkan pak penghulu duduk di depan meja pendaftran, “ada yang bisa dibantu” kata pak penghulu “ iya pak ini mau mendaftarkan pernikahan” jawab calon pengantin perempuan

“ Coba lihat berkasnya “ kata pak penghulu, calon pengantin perempuan menyerahkan map warna biru yang berisi berkas pernikahan dari desa srimenanti berupa N1, N2 dan kelengkapan berkas nikah lainnya. Mereka datang di awal bulan puasa. “kapan rencana nikahnya” Tanya pak penghulu setelah memeriksa berkas dan membolak baliknya

“Rencananya malam lebaran pak “ jawab calon pengantin laki laki

“Tanggal berapa?” Desak pak penghulu

“Ya.. malam lebaran” jawabnya lagi

“kita kan mulai puasa ada yang ada yang tanggal 20 ada yang tanggal 21 jadi ikut yang mana?” Tanya pak penghulu lagi “ikut yang pertama atau yang kedua?” tegasnya

“Yang mana ya pak…., kata orang tua malam lebaran”, jawabnya lagi

“Iya lebaran yang pertama atau yang kedua pertama,” organisasi muhammadiyah mengatakan lebaran tanggal 20 sementara pemerintah mengatakan lebaran tanggal 21, jadi malam 20 atau malam 21? “ Tanya pak penghulu lagi mengaskan

“Pokoknya kata orang tua malam lebaran “ jawab calon pengantin laki laki sambil tersenyum, calon istrinya pun tersenyum, pak penghulu pun tersenyum juga

“ini pendapat orang tua sich pak,” kata calon pengantin laki lki “kita ngak bisa melawan” lanjutnya “dan mereka sudah terlebih dahulu berkonsultasi dengan orang pintar, orang yang dipercaya untuk menentukan hari hari penting dan bersejarah dalam hidup seseorang, tentu dengan hitung hitungan tanggal lahir, hari lahir dan di padukan nama seseorang, atau dipadukan dengan primbon dan apalah namanya …” lanjutnya

Banyak gelar atau sebutan untuk orang tua tempat mereka bertanya tersebut, ada yang menamakannya, kiyai, jerepun, punduh, dan lain-lain. Biasanya kiyai yang ditemui oleh calon pengantin atau orangtuanya, akan menanyakan nama lengkap dan hari lahir (weton) calon pengantin yang akan menikah. Lalu, dengan menggunakan rumus-rumus tertentu, Sang Punduh menghitung hari lahir keduanya dan mengaitkannya dengan karakter hari dan tanggal yang ada di kalender jawa biasanya. Maka, muncullah satu hari atau tanggal yang dianggap paling tepat dan baik untuk menikah. Bahkan, lebih jauh, Sang Punduh dapat menentukan pukul berapa tepatnya calon pengantin pria harus keluar rumah menuju rumah pengantin wanita.

Ada yang harus jalan memutar ke pinggir kampung untuk sampai ke rumah calon pengantin perempuan padahal rumahnya kelihatan dari rumah calon pengantin laki laki, kalau itu dilanggar maka akan ada kejadian yang tidak menyenagkan dalam rumah tangga yang akan di bina tersebut menurut sang punduh, “ tapi memang banyak kejadian…” kata calon pengantin perempuan. Dengan kejadian tersebutlah di beberapa daerah, orang-orang memilih waktu, bulan, hari, bahkan jam tertentu untuk melaksanakan upacara akad nikah. Rata rata ini terjadi  di pedesaan atau perkampungan, tetapi tidak menutup kemungkina ada di sebagian perkotaan, orang tua dari pasangan yang akan menikah, mendatangi orang yang dianggap pintar, tahu, dan dituakan tersebut, lalu menanyakan hari dan waktu yang tepat untuk pernikahan anaknya.

Pak penghulu sendiri pernah mengalami kejadian tersebut, pernah satu pasangan pengantin mendaftarkan pernikahan mereka, lalu meminta dengan sangat agar akad nikah dilaksanakan jam 21. 00 teng, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Bagi orang tua pengantin, itu sangat penting, dan mesti dijalankan. kebahagiaan dan keutuhan rumah tangga mereka gantungkan dengan hari, tanggal, dan jam pernikahan tersebut.

Mungkin, akad nikah yang dilaksanakan di luar ketentuan waktu yang telah di tentukan tersebut akan berantakan, dan penyebabnya yang mereka takutkan adalah keterlambatan pak penghulu maka mereka sangat minta tolong untuk pak penghulu jangan samapi pelaksannan melewati waktu yang ditentukan punduh tersebut.

Pernah juga pak penghulu melaksanakan pernikahan di rumahnya sendiri padahal kedua pengantin tidak ada kaitannya dengan pak penghulu dan keluarga pak penghulu, tapi punduhnya mengatakan bahwa pernikahan tersebut tidak boleh dilaksanakan di rumah catin laki laki dan tidak boleh di rumah catin perempuan dan juga tidak boleh di KUA, akhirnya dengan sangat minta tolong mereka melaksankan pernikahan mereka di rumah pak penghulu dan pak penghulu pun membolehkannya, sampai sampai bu penghulu kaget dan mangira yang akan menikah itu adalah suaminya yaitu pak penghulu, ia sempat mengklarifiksai semuanya, maka arang tua pengantin laki laki dan orang tu pengantin perempauan menerangkan ke bu penghulu dan dan meyakinkan bu penghulu  maka dilaksanakanlah pernihanan kedua mempelai tersebut di rumah pak penghulu .

“ jadi kesimpulannya tanggal berapa ini ?” Tanya pak penghulu lagi , catin perempuan lalu mengotak atik HP nya dan menelpon keluarganya “ bu.. ini tanggal berapa pelaksanaannya “

“Malam lebaran “ terdengar suara di ujung telpon

“ lebaran kan ada dua persi..” katanya “malam jumat apa malam sabtu “ Tanya nya lagi  meminta penjelasan

“ya malam lebaran “ terdengar lagi di ujung telpon “ kalau penanggalan gak masalah “ kata bapak dari pengantin perempuan “tapi pelaksanaan malam lebaran, hehehe “ katanya lagi

Setelah diskusi yang panjang dan saran dari pak penghulu “ tanggal 19 kan malam lebaran tanggal 20 juga masih malam lebaran “ kata pak penghulu. akhirnya di tuliskan lah dalam akta nikahnya pernikahan tersebut dilaksankan tanggal 19 jam 21.00 wib. Walaupun kenyataannya dilaksanakan tanggal 20 malam kedua lebaran sekaligus malam pertama lebaran.

Mungkin bagi punduh bulan Ramadhan adalah bukan waktu yang tepat untuk menikah, itu memang sejalan dengan pikiran pak penghulu, jika menikah pada bulan Ramadhan takut terjadi kumpul pada siang Ramadhan karena pengantin baru ‘setrumya masih gede’ dan kalau itu terjadi maka pasangan itu akan kena kiparat memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut, dan jika tidak mampu pula maka memberi makan 60 orang miskin (masing-masing 1 mud/750gr beras). Inilah mungkin alasan punduh mengatakan hari baik adalah malam lebaran karena besok siangnya atau tanggal satu syawal bukan lagi bulan ramadhan dan jika terjadi kumpul suami istri tidak akan kena kifarat

“itu alasan punduh itu “ kata pak penghulu kepada kedua calon pengantin tersebut, mbak ari yang duduk di sebelah meja pak penghulu ikut terseyum, “ lebarannya punduh tersebut sama tidak.. dengan lebarannya calon pengantin?” Tanya pak penghulu menyelidik

“ ngak tahu juga pak “ jawab calon pengantin laki laki

“ ya udah kita tuliskan tanggal 19 ya… walaupun nanti pelaksannan tangga 20 , ngak apa pa kan?” Kata pak penghulu

“iya pak ngak apa apa “ jawab mereka. Kedua calon pengantin

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 6 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

Konsentrasi Tanggal Pernikahan Berbasis Hitungan Weton di Kabupaten Rembang dan Implikasinya terhadap Ketahanan Keluarga

15 April 2026 - 08:47 WIB

Jumlah Pernikahan di Kabupan Rembang Tahun 1444-1447 H Berdasarkan Bulan Hijriyyah

PERNIKAHAN SEBELUM PERCERAIAN 

11 April 2026 - 22:07 WIB

THANK YOU, SAYANG UNTUK HARI INI

10 April 2026 - 19:58 WIB

Kepercayaan Parsial: Antara Takdir Kematian dan Pembatalan Pernikahan

10 April 2026 - 15:04 WIB

Membangun Peradaban dari Rumah: Integrasi Psikologi dan Spiritualitas Menuju Keluarga Sakinah di Era Disrupsi (Studi di Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya)

10 April 2026 - 10:51 WIB

JATUH, TIDAK JATUH

8 April 2026 - 07:45 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x