Menu

Mode Gelap

Kolom ยท 18 Jun 2026 18:37 WIB ยท

๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—œ๐—น๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ

Penulis: Mahbub Fauzie


 ๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—น ๐—œ๐—น๐—บ๐˜‚ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—›๐—ฎ๐˜๐—ถ Perbesar

Catatan Reflektif Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd.

Dalam kitab Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, Imam Ibnu Jama’ah (w. 733 H), seorang ulama besar mazhab Syafi’i, menukil sebuah hikmah yang sangat mendalam:

“Ilmu itu tiga jengkal. Barangsiapa memasuki jengkal pertama, ia akan sombong. Barangsiapa memasuki jengkal kedua, ia akan tawadhu’. Dan barangsiapa memasuki jengkal ketiga, ia akan menyadari bahwa dirinya belum mengetahui apa-apa.”

Meski bukan hadis Nabi Muhammad SAW, hikmah ini menggambarkan perjalanan psikologis yang sering dialami oleh setiap pencari ilmu.

Saya teringat pada proses seseorang yang belajar silat. Ketika baru menguasai beberapa jurus dasar, ia sering merasa dirinya sudah hebat. Petentengan. Gerakannya baru mulai lincah, pukulannya mulai terarah, dan ia merasa mampu mengalahkan banyak orang.

Pada fase penguasaan jurus dasar ini, rasa percaya diri sering kali lebih besar daripada kemampuan yang sebenarnya. Ia merasa telah mengetahui banyak hal, padahal yang dipelajarinya baru sebagian kecil dari dunia persilatan.

Begitu pula dalam menuntut ilmu. Ketika seseorang baru memperoleh sedikit pengetahuan, ia terkadang mudah mengoreksi orang lain, gemar berdebat, dan merasa paling benar. Yang tumbuh bukan kebijaksanaan, melainkan rasa bangga terhadap apa yang baru diketahuinya.

Namun, ketika latihan silat semakin mendalam, seseorang mulai mengenal berbagai teknik, strategi, filosofi, dan aliran yang berbeda. Ia menyadari bahwa apa yang telah dipelajarinya selama ini hanyalah setetes air di tengah samudera. Kesadaran itulah yang membuatnya lebih rendah hati, lebih menghormati guru, dan lebih menghargai sesama pesilat.

Demikian pula dalam dunia ilmu. Semakin luas wawasan seseorang, semakin ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan tidak memiliki batas. Setiap jawaban melahirkan pertanyaan baru. Setiap pemahaman membuka ruang pemahaman yang lebih luas. Pada titik inilah lahir sikap tawadhu’.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, seorang pesilat sejati tidak lagi sibuk menunjukkan kehebatannya. Ia lebih banyak berlatih, memperbaiki diri, dan menjaga adab. Semakin tinggi ilmunya, semakin tenang sikapnya. Ia tidak merasa perlu membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Begitu pula dengan orang yang benar-benar berilmu. Semakin dalam ilmunya, semakin ia menyadari betapa luasnya ilmu Allah SWT dan betapa terbatasnya pengetahuan manusia. Ia tidak mudah menyalahkan, tidak tergesa-gesa menghakimi, dan tidak merasa paling memahami segala sesuatu. Justru ia semakin haus belajar dan semakin rendah hati.

Di era digital dan kecerdasan buatan saat ini, informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan mengakses informasi tidak otomatis menjadikan seseorang berilmu. Ilmu sejati bukan sekadar banyaknya informasi yang tersimpan dalam ingatan, melainkan kemampuan memahami, menghayati, mengamalkan, serta mengambil hikmah dari pengetahuan tersebut.

Hikmah “tiga jengkal ilmu” mengajarkan bahwa ukuran keberhasilan belajar bukanlah seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi seberapa rendah hati kita setelah mengetahuinya. Sebab, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin lembut tutur katanya, semakin bijak sikapnya, dan semakin besar rasa hormatnya kepada orang lain.

Sebagaimana pesilat sejati dikenal bukan karena banyak bicara tentang kehebatannya, melainkan karena ketenangan dan adabnya, demikian pula seorang yang berilmu akan dikenali bukan dari kesombongannya, tetapi dari kerendahan hatinya.

“Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu.” (QS. Yusuf: 76).[]

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 7 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

๐— ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐˜‚๐—ป ๐—”๐—ธ๐˜๐—ถ๐˜ƒ๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—ฃ๐—ฟ๐—ผ๐—ณ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ธ: ๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐˜‚๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—ก๐—ฎ๐—ฏ๐—ถ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ฆ

16 Juni 2026 - 21:53 WIB

Camat dan Kepala KUA Tawang ,Penyuluh Agama dan para Lurah Angkat Piala Bergilir, Kecamatan Tawang Resmi Sabet Gelar Juara Umum MTQH XVI Kota Tasikmalaya 2026

15 Juni 2026 - 11:11 WIB

Menyelaraskan Kata, Hati, dan Perbuatan

12 Juni 2026 - 00:39 WIB

Otoritas Wali Nikah: Studi Komparatif Madzhab dan Hukum Positif Indonesia

5 Juni 2026 - 16:56 WIB

URGENSI DAN AKSELERASI PUBLIKASI KARYA ILMIAH DI KALANGAN PENGHULU: ANALISIS PENGEMBANGAN PROFESIONALISME BERKELANJUTAN DI KOTA TASIKMALAYA

31 Mei 2026 - 00:41 WIB

Dekonstruksi Budaya Nikah Siri: Edukasi Hukum Pencatatan Perkawinan dan Hak Perlindungan Perempuan-Anak di Kota Tasikmalay

29 Mei 2026 - 17:27 WIB

Trending di Hikmah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x