Menu

Mode Gelap

Karya Ilmiah · 17 Apr 2026 08:28 WIB ·

WAYAHE DUDO RONDO TAMPIL

Penulis: Surya Sinanggiri


 WAYAHE DUDO RONDO TAMPIL Perbesar

Belakangan ini, ada tren menarik soal pernikahan.

Kabar baiknya, nikah di usia dini mulai berkurang.
Di KUA kami misalnya, tahun 2024 ada 13 pengantin di bawah umur. Tahun 2025 turun jadi 7 saja.

Artinya, makin banyak orang yang mulai sadar: menikah itu butuh kesiapan, bukan sekadar keberanian.

Tapi… ada fenomena lain yang juga menarik.

Pernikahan antara duda dan janda justru makin sering terdengar.

Seolah-olah, ketika nikah muda mulai ditinggalkan, mereka yang pernah gagal justru bangkit lagi. Nggak menyerah. Berani membuka lembaran baru, dan mencoba lagi—dengan pengalaman yang sudah matang.

Kalau lihat data keseluruhan, jumlah pernikahan memang cenderung menurun:
2022: 503 pasang
2023: 458 pasang
2024: 410 pasang

Dan tren ini ternyata sejalan dengan penurunan angka nikah secara nasional.

Nah, ada satu fenomena unik lagi…

Di pertengahan 2024 sampai 2025, ada sekitar 379 pasangan yang menikah di Kecamatan Sragen. Rentang waktu ini oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai “tahun duda”.

Katanya sih, ini tahun yang “kurang bagus” untuk menikah. Karena dalam siklus kalender Jawa (windu), tidak punya pasangan pasaran. Mitosnya, bisa berujung perceraian atau salah satu pasangan meninggal.

Makanya, banyak yang akhirnya menunda nikah.

Tapi lucunya… dari 379 pasangan itu, justru sekitar 200 di antaranya adalah duda dan janda.

Seakan-akan mereka bilang,
“Ya sudah, hidup sudah pernah jatuh. Mau nunggu mitos lagi buat bangkit?”

Salah satu yang menarik adalah cerita “Kang Alex” (nama samaran), duda keren asal Sragen. Menurut dia, yang namanya “tahun duda” itu ya cuma gugon tuhon kepercayaan turun-temurun yang belum tentu benar.

Dan memang, dalam ajaran Islam sendiri, tidak ada larangan menikah karena waktu tertentu.

Seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW:

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya…”

Artinya, menikah itu bukan soal hari baik atau tahun sial. Tapi soal niat.

Kalau niatnya baik, karena Allah, ingin membangun rumah tangga yang benar ya insyaAllah baik juga jalannya.

Dalam ilmu ushul fiqh, ada istilah ‘urf (kebiasaan). Tapi tidak semua kebiasaan bisa diikuti. Ada yang namanya ‘urf fasid kebiasaan yang bertentangan dengan nilai syariat.

Nah, larangan menikah karena “tahun duda” ini masuk kategori itu.

Karena dalam Islam, tidak ada waktu yang dilarang untuk menikah.

Kalau kita tarik lebih luas lagi, fenomena ini juga nyambung dengan data perceraian.

Di Indonesia saja,
2022: lebih dari 516 ribu perceraian
2023: sekitar 463 ribu
2024: masih di angka 394 ribu

Artinya apa?

Banyak yang menikah… tapi tidak sedikit juga yang berpisah.

Kalau dibandingkan dengan negara lain, misalnya Iran, angka perceraian di sana juga tinggi sekitar 40%.

Hampir setengah pernikahan berakhir cerai.

Di sana, sebagian besar yang bercerai masih di bawah usia 30 tahun. Bahkan ada fenomena nikah kontrak (mut’ah), yang memang dari awal sudah ada batas waktunya.

Kalau diibaratkan…
di sana itu seperti paket data ada masa aktifnya.
Kalau di Indonesia? Paketnya unlimited… tapi kadang sinyalnya yang naik turun

Lalu muncul pertanyaan menarik…

Apakah sistem seperti itu justru menekan angka perceraian?
Atau malah jadi jalan pintas supaya nggak perlu ribet urusan perpisahan?

Yang jelas, baik di Indonesia maupun di luar negeri, satu hal tetap sama:

Masalahnya bukan di akadnya… tapi di kesiapan menjalaninya.

Karena menikah itu bukan soal lima menit ijab kabul.

Tapi soal lima puluh tahun setelahnya.

Soal bertahan saat ekonomi seret.
Soal sabar saat pasangan berubah.
Soal tetap memilih satu sama lain, bahkan di hari-hari yang tidak romantis sama sekali.

Jadi, sebelum bilang “qobiltu nikahaha”… coba tanya dulu ke diri sendiri:

“Ini siap jalan jauh… atau cuma siap foto di pelaminan?”

Karena di balik setiap ijab kabul, selalu ada dua kemungkinan:
ijab kabul… atau malah “ijab kabur”.

Semoga kita semua memilih dengan sadar, bukan sekadar ikut arus atau takut mitos.

0 0 votes
Article Rating
Artikel ini telah dibaca 5 kali

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
Lihat seluruh komentar
Baca Lainnya

NIKAH SIRI BIKIN NGERI EPISODE 2

17 April 2026 - 08:22 WIB

PERAWAN DUA KALI

17 April 2026 - 07:40 WIB

BOHONG UNTUK HARMONIS

16 April 2026 - 21:46 WIB

Mewaspadai Idah Perimenopause

16 April 2026 - 11:43 WIB

NIKAH MALAM LEBARAN

15 April 2026 - 20:33 WIB

Konsentrasi Tanggal Pernikahan Berbasis Hitungan Weton di Kabupaten Rembang dan Implikasinya terhadap Ketahanan Keluarga

15 April 2026 - 08:47 WIB

Jumlah Pernikahan di Kabupan Rembang Tahun 1444-1447 H Berdasarkan Bulan Hijriyyah
Trending di Karya Ilmiah
0
Ada ide atau tanggapan? Share di kolom komentar!x
()
x