Menikah itu seringkali dibilang soal “menyatukan dua kepala”. Padahal sebenarnya, lebih dari itu bahwa pernikahan adalah proyek raksasa membangun sebuah peradaban kecil. Di dalam rumah yang kita bangun dengan susah payah, ada sosok mungil yang memandang kita seolah-olah kita adalah seluruh dunianya. Namun, mari kita bicara jujur bahwa di tengah hiruk-pikuk mengejar karier dan memenuhi kebutuhan ekonomi, sering kali kita lupa bahwa “kelembutan” bukan sekadar bumbu pelengkap, melainkan fondasi utama agar peradaban kecil itu tidak runtuh. Belakangan ini, hati kita seperti diremas-remas mendengar kabar dari Yogyakarta, tentang kasus di Daycare Little Aresha bukan sekadar berita kriminal biasa, itu adalah wake-up call yang sangat keras. Bayangkan, tempat yang kita harapkan menjadi perpanjangan tangan kasih sayang kita di saat kita bekerja, justru menjadi ruang gelap tempat anak-anak diikat tangan dan kakinya. Kejadian ini meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi korban, tapi bagi seluruh orang tua yang kini merasa cemas: “Masih amankah dunia ini untuk anakku?”
Dalam pernikahan, cara kita memperlakukan pasangan akan menjadi “cetak biru” bagi anak dalam melihat dunia. Kalau kita terbiasa berkomunikasi dengan bentakan, anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa kekerasan adalah bahasa komunikasi yang sah. Sebaliknya, kelembutan adalah pelindung alami. Anak yang dibesarkan dengan kelembutan akan memiliki “sensor” yang kuat, bahkan mereka akan tahu dan menyadari bahwa diperlakukan dengan kasar atau disakiti adalah sesuatu yang salah karena mereka terbiasa menerima lembutnya cinta di rumah. Banyak yang salah kaprah bahwa menganggap menjadi lembut berarti menjadi orang tua yang lemah atau memanjakan. Padahal, kelembutan adalah bentuk kendali diri tertinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia yang paling mulia akhlaknya, tidak pernah sekalipun menggunakan kekerasan dalam mendidik. Beliau memberikan kita pedoman emas melalui hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan.”
Pesan ini sangat mendalam. Ada keberkahan, kemudahan, dan pintu-pintu hidayah yang hanya terbuka dengan kelembutan, yang tidak akan pernah bisa dibuka dengan paksaan apalagi kekerasan. Kasus di Yogyakarta mengajarkan kita bahwa menjadi orang tua di zaman sekarang tidak bisa “biasa-biasa saja”. Kita tidak boleh hanya sekadar menitipkan anak dan merasa tugas selesai. Kita harus menjadi detektif bagi keselamatan anak kita sendiri. Waspada bukan berarti paranoid, tapi waspada berarti peduli pada detail. Perhatikan perubahan sekecil apa pun pada perilaku anak. Apakah mereka tiba-tiba takut pada orang tertentu? Apakah mereka menjadi lebih pendiam? Jangan abai pada insting seorang ibu atau ayah. Kelembutan yang kita berikan di rumah harus dibarengi dengan ketegasan dalam menjaga keamanan mereka di luar rumah. Jangan mudah tergiur dengan fasilitas mewah atau janji-janji manis lembaga pendidikan tanpa melakukan pengecekan mendalam, mulai dari legalitas hingga rekam jejak para pengasuhnya. Ingatlah, rumah harus menjadi tempat paling aman di bumi. Jika di luar sana dunia begitu keras dan tidak ramah, pastikan saat anak pulang ke pelukan kita, mereka menemukan kedamaian yang bisa menyembuhkan segala luka.
Akhir,
Setelah semua ikhtiar kita lakukan, setelah semua proteksi kita pasang, pada akhirnya kita hanyalah hamba yang lemah dan tidak berdaya. Kita sangat butuh pertolongan dari Dzat yang menjaga setiap helai nafas kita. Menjaga dzurriyah kita dari segala bahaya dan kepayahan.
Ya Allah, Tuhan yang menjaga setiap jiwa yang tidak berdaya, kami titipkan buah hati kami ke dalam penjagaan-Mu yang tidak pernah lalai. Lembutkanlah hati kami dalam mendidik mereka, jauhkanlah tangan dan lisan kami dari menyakiti fitrah mereka yang suci. Ya Allah, lindungilah anak-anak kami dari orang-orang yang berniat jahat, dari lingkungan yang tidak sehat, dan dari segala bentuk kekerasan yang kasat mata maupun yang tersembunyi. Jadikanlah keluarga kami pelabuhan yang tenang bagi mereka, dan izinkanlah kami berkumpul kembali di surga-Mu nanti dalam keadaan bahagia.
Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Bagaimana menurutmu cara terbaik untuk membangun kepercayaan dengan anak agar mereka mau terbuka tentang apa pun yang mereka alami di luar rumah?
- Muhamad Fathul Arifin – KUA Kesugihan, Cilacap








